"Bisa nggak lo lepasin gue. Gue bisa jalan sendiri." Suara gadis itu terdengar agak serak.
"Gue tahu. Gue cuma nggak mau ambil resiko. Kalau gue nggak ngembaliin lo dengan selamat gue bisa dipecat sebagai voluntir."
Luna mendengus. "Too much information dan gue nggak peduli."
"Lo lemes karena lo masih demam, jadi lo diem aja. Gue cuma mau anter lo ke kamar, bukan mau bunuh lo."
Luna merutuk dalam hati, disaat seperti inilah Luna merasa tidak berguna, payah, dan hanya bisa menyusahkan. Luna benci dikasihani, sangat.
"Nggak usah sok peduli," ucapnya, masih berusaha untuk tidak terlihat payah. Setidaknya dia berusaha.
"Gue nggak peduli sama lo, gue peduli sama pekerjaan gue sekarang."
Luna menarik napas lelah. "Baguslah."
Koridor semakin sepi, yang terdengar hanya langkah kaki dua anak manusia itu. Mereka berjalan dalam diam, sampai Jevin berkata pelan, "Sori, tadi gue ngomong nggak pantes sama lo."
Rekor untuk hari ini, Jevin mengatakan maaf dua kali. Bahkan dia tidak ingat kapan terakhir kali mengucapkannya.
"Gue nggak inget lo ngomong apa," ujar Luna acuh tak acuh.
Sebelah bibir Jevin terangkat sedikit. "Syukurlah," ujar Jevin singkat. Masih ada ego yang membuatnya enggan membahasnya lebih jauh.
Hening kembali menyelimuti dan masih, hanya langkah kaki yang bergema di koridor lantai 4 ini. Luna pun merasa perjalanan menuju kamarnya menjadi 10 kali lebih jauh.
"Gue boleh minta tolong sesuatu nggak?" tanya Luna tiba-tiba, membuat dahi Jevin berkerut.
Jevin pikir Luna hendak meminta tolong untuk diambilkan sesuatu atau apa, ternyata tidak.
Seolah mempersiapkan diri, Luna menarik napas dalam sebelum berkata, "Tolong nanti setelah sampai kamar, lo langsung pergi dan jangan pernah muncul lagi dihadapan gue. Gue nggak peduli soal flashdisk, terserah lo mau apain file-file di dalamnya. Lo mau hapus atau buang atau apa, gue nggak mau peduli lagi. Kehadiran lo bener-bener nggak gue harapkan. Gue sama sekali nggak minta lo buat ngertiin gue, gue cuma minta lo untuk sadar diri. Tolong jangan ganggu gue lagi."
Tahu tidak, persis setelah Luna mengatupkan bibirnya, langkahnya terhenti karena seseorang memanggilnya. Di depan sana, Lio berjalan menghampiri.
Tiba-tiba Jevin mendekatkan kepalanya dan berbisik di dekat telinga Luna, "Karena lo bilang terserah, maka gue tahu apa yang harus gue lakukan sekarang," katanya sambil melirik Lio penuh arti.
Tangan Luna gemetar bersama dengan deru napasnya mulai memburu panik. Luna tidak menyangka Lio ada di hadapannya sekarang. Luna tidak siap dengan apapun yang akan Jevin lakukan. Namun bagaimana lagi, sudah terlambat, Luna tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Lexa sudah menelusuri feeds instagramnya hampir ke ujung-ujung, dari 9gag, video-video random semacam life hack, DIY, bahkan sampai slime pun sudah dia lihat. Lima belas menit berlalu namun baik Luna maupun Lio belum juga kembali. Lexa berpikir, memang Lio buang air kecil dimana sampai selama ini? Dan Luna juga kemana, ponselnya tidak bisa dihubungi.
Lexa meletakkan ponselnya di meja lalu berguling tengkurap di sofa panjang sambil mendesah malas.
"Luna kemana sih, Bi. Dari tadi nggak balik-balik," keluhnya.
"Atau mungkin lagi keliling-keliling kali, Non, bosen di kamar terus." Bi Rum yang sedang merapikan tempat tidur menyahut.
"Mustahil banget Luna keluar selama ini. Kalo bosen juga dia paling mainan laptop atau baca buku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna & Alexa
Teen FictionCerita ini adalah tentang sepasang saudara kembar Aluna dan Alexa. Aluna dan Alexa tak pernah terpisahkan. Sebagai anak yang terlahir tanpa mengenal ibu, keduanya tumbuh dengan ikatan yang sangat kuat. Saling menyayangi dan melindungi. Namun selal...
