Lexa sedang menuangkan bumbu-bumbu mie instan ke dalam piring saat air di dalam panci mendidih. Sambil bersenandung kecil ia memasukkan mie instan ke dalamnya.
"Papa belum pulang yah?"
Lexa menoleh mendapati Luna tengah membuka kulkas dan mengambil sebuah pisang.
Bukannya menjawab pertanyaan Luna, Lexa malah mengerutkan dahinya, menatap Luna sambil menyipitkan matanya.
"Itu 'kan kaos gue!"
Luna menunduk sekilas, melirik kaos Star Wars hitam tanpa lengan yang tengah ia kenakan lalu duduk di bangku meja makan dan mulai menyantap pisangnya.
"Iya gue juga tahu, kok," kata Luna, tidak merasa bersalah.
"Kebiasaan," gerutu Lexa. "Papa bilang hari ini pulang," ujar Lexa menjawab pertanyaan Luna tadi sembari membuang air rebusan mie.
Luna hanya mengangguk-angguk.
Aroma mie instan yang nikmat tiada tara itu menguar di udara. Membuat Luna tanpa sadar menghela napas panjang hanya untuk menikmati aroma khasnya. Saat Lexa meletakkan mie goreng instan yang uap panasnya masih mengepul itu di meja, Luna menelan ludah.
Lexa mengaduknya dan mengangkat beberapa helai dengan garpu.
"Mauuuu!"
Lexa melirik Luna, lalu senyum miring tersungging di bibirnya. Dengan sengaja, Lexa menggulung mie instan tersebut, mengangkatnya dengan perlahan, menghirupnya sejenak sambil memejamkan mata, lalu memasukkan gulungan mie ke dalam mulutnya secara dramatis persis seperti adegan iklan mie instan itu di televisi.
Rasanya Lexa ingin tertawa saat melihat ekspresi wajah Luna. Apalagi saat ia benar-benar memasukkan gulungan mie tersebut ke dalam mulut dan mengunyahnya, Luna terlihat persis seperti onta kelaparan.
"Mau?"
"Mau." Luna merengek, Lexa terkekeh.
"Papa bilang kamu nggak boleh makan mie instan."
Luna menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya di depan wajah. "Dikit aja."
Lexa menggeleng seraya memperbaiki posisi duduknya. "Makan pisang aja, yah, yang sehat. Mie instan itu nggak sehat, bikin bego."
"Sedikit doang." Luna mulai kesal.
Lexa tidak menghiraukan Luna, sibuk menikmati mie instannya. Sedetik kemudian, tangan Luna terulur menggenggam pinggiran piring Lexa dan dengan cepat ia menariknya.
Lexa terbelalak kaget begitu piring dihadapannya berpindah tempat dengan cepat, menyebabkan beberapa helai mie tercecer mengenaskan di meja.
"Lunu!" (Luna!) teriak Lexa tak terima dengan mulut penuh. Dengan segera Lexa menarik ujung lain piringnya dengan tangan kirinya.
Dan terjadilah perebutan piring yang sengit.
"Lepas, Luna, gue mau makan!"
"Minta dikit, pelit banget sih!"
"Iya iya, tapi lepas dulu ntar terbang ini piring."
Luna akhirnya melepaskannya. Tapi otak licik Lexa bekerja cepat. Gadis yang menguncir satu rambutnya itu berdiri dan langsung berlari dari meja makan. Berniat membawa lari mie instan yang berharganya itu dari hadapan Luna.
Belum sempat Luna menyadari bahwa ia sedang ditipu, meja makan bergetar bersamaan dengan terdengarnya suara benturan dari bawah meja, disusul nyaringnya suara piring yang menghantam lantai dan suara Lexa memekik kesakitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna & Alexa
Teen FictionCerita ini adalah tentang sepasang saudara kembar Aluna dan Alexa. Aluna dan Alexa tak pernah terpisahkan. Sebagai anak yang terlahir tanpa mengenal ibu, keduanya tumbuh dengan ikatan yang sangat kuat. Saling menyayangi dan melindungi. Namun selal...
