Tiba-tiba ia teringat dengan apa yang ia lihat tadi. Mata yang memerah dan suara yang begitu bergetar. Lio yakin, Luna sedang menangis sendirian di kelas. Mendadak Lio merasa tidak tega.
Ia pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan menghampiri Luna.
Namun tiba-tiba ia berhenti,
termenung sejenak.
Lio tiba-tiba bingung dengan dirinya sendiri.
Lio menggelengkan kepala lalu menghembuskan napas keras dan akhirnya ia berbalik, memutuskan untuk mencari Lexa.
***
"Ini Neng baksonya, tanpa kecap, tanpa saos, sambal sepuluh sendok." Kang Asep meletakkan sepiring bakso di hadapan Lexa.
"Makasih, Kang."
Kang Asep mengernyit, hendak bertanya mengapa Lexa tampak murung, namun tidak jadi karena ia lebih dulu dipanggil seseorang.
"Kalau kurang pedes bilang aja ya, Neng," ujar pria beraksen sunda itu seraya meninggalkan Lexa.
Satu tangannya tertumpu di dagu dan yang lain mengaduk bakso dengan lesu. Bola-bola bakso itu mengingatkan Lexa akan sesuatu.
Peluit berbunyi, waktu time out telah habis. Riuh penonton yang memenuhi seluruh tribun terdengar sangat bersemangat. Pertandingan antara tim basket putri Jakarta melawan tim basket putri Surabaya pada kategori usia dibawah 15 tahun kali ini merupakan semi final dari turnamen bergengsi yang diadakan setiap tahun, yang mana pemenangnya akan mewakili Indonesia untuk turnamen dunia di Amerika.
Lexa tidak pernah menyangka bisa berdiri disini, membawa timnya sampai ke semi final. Rasanya seperti mimpi.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Ingat, gue akan masukin bola lebih banyak dari lo. Jadi lo harus beliin gue cokelat sebanyak yang gue mau."
Lexa hanya menjulurkan lidahnya menanggapi Luna yang segera berlari ke lapangan.
Kedua tim telah menempati posisinya masing-masing. Pertandingan kembali dimulai. Luna dan Lexa, si kembar andalan sang pelatih itu tampak terus berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan.
Hingga di waktu 5 menit terakhir, saat bola menggelinding ke luar lapangan, Luna datang menggenggam lengan Lexa dengan erat.
Sambil terengah dia berkata, "Gue, capek banget."
Tapi, Lexa tidak menggubrisnya.
"Lima menit, sebentar lagi, semangat!" Hanya itu yang ia ucapkan sambil berlari meninggalkan Luna.
Hingga saat tim lawan berhasil memasukkan bola, Lexa mendengar suara benturan yang cukup keras. Seperti benda jatuh.
Begitu menoleh dan tahu apa yang baru saja terjadi, hawa dingin langsung merasuk ke tubuh Lexa.
Dia berlari sekencang angin menghampiri saudara kembarnya yang terkulai tak sadarkan diri. Segera saja, sekitar lima orang paramedis berlari menghampiri Luna. Tak ada yang bisa Lexa lakukan selain menggenggam erat tangan adiknya yang begitu dingin, sementara seseorang memeriksa keadaan Luna.
Lexa tersentak saat si paramedis tersebut berteriak, "CPR! CPR!"
Lexa sampai terdorong ke belakang begitu salah satu dari anggota medis berlari mencari bantuan. Genggaman tangan mereka terlepas dan Lexa mendengarnya dengan jelas saat seseorang berkata, "Dia nggak bernapas. Nggak ada denyut nadi."
Lexa memejamkan matanya. Genggamannya pada sendok menguat. Baginya tidak ada yang lebih mengerikan daripada ingatan itu. Hanya dengan melihat Luna memegang bola basket saja, ingatan itu langsung melesak masuk ke dalam benaknya dan berputar di depan matanya dengan begitu jelas. Dan Lexa tidak pernah bisa mengendalikan diri setelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna & Alexa
Roman pour AdolescentsCerita ini adalah tentang sepasang saudara kembar Aluna dan Alexa. Aluna dan Alexa tak pernah terpisahkan. Sebagai anak yang terlahir tanpa mengenal ibu, keduanya tumbuh dengan ikatan yang sangat kuat. Saling menyayangi dan melindungi. Namun selal...
