Luna berdiri di depan pintu ruangan Dokter Irene, terpekur memandangi pot besar dihadapannya. Memikirkan kembali ucapan Dokter Irene hanya membuat kepalanya pusing.
Semuanya campur aduk menjadi satu, marah, sedih, kecewa, dan banyak lagi yang Luna bahkan tidak tau apa namanya. Yang jelas ada yang membuat sesuatu di dalam hatinya semakin membatu. Seperti mati rasa, bahkan pelukan Dokter Irene sama sekali tidak ada artinya, hambar, hampa.
Luna menggenggam tali ranselnya di depan dada kirinya. Meluapkan perasaan campur aduk itu dengan mencengeramnya. Diantara jutaan manusia, kenapa harus dia yang mendapatkan jantung yang payah seperti ini? Hidupnya benar-benar payah.
Rasanya untuk saat ini Luna sedang tidak ingin bersyukur. Beban itu terlalu berat untuknya.
Luna berjalan, dan kakinya membawanya berada di halte dekat rumah sakit.
Halte tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu lengang. Luna duduk di deretan bangku paling ujung dan sepi tepat di sebelah sebuah cekungan maut yang tidak mungkin diduduki. Tempat yang seolah sudah disiapkan khusus untuk dirinya. Kebetulan yang ironis.
Dilihatnya sekali lagi hasil pemeriksaan dari Dokter Irene. Tidak ada tulisan yang bisa dibacanya, hanya ada garis-garis horisontal yang buram. Mungkin kacamatanya butuh diganti, atau matanya?
Angin berhembus kencang, awan hitam berarak menggelapkan langit. Luna termenung melihat segerombolan anak SD berjalan beriringan sambil tertawa begitu girang, bisakah dia jadi mereka saja?
"Tadi diajarin apa aja sama bu guru?"
Luna menoleh ketika suara seorang wanita terdengar dari sampingnya.
"Menggambar kotak-kotak sama bulet-bulet," jawab bocah perempuan berseragam TK itu sambil memakan snack di tangannya dengan semangat.
Wanita itu tersenyum senang. Luna bertanya-tanya adakah sesuatu yang spesial dari "menggambar kotak-kotak sama bulet-bulet" hingga membuat wanita itu terlihat begitu bahagia.
"Dan Mama tau nggak, Adek tadi dapet nilai A waktu gambar bulet-bulet!"
Wanita itu menatap anaknya dengan mata bersinar terang. Mulutnya terperangah begitu senangnya. "Wah, anak Mama pinter banget. Karena adek dapat nilai A, Mama kasih hadiah mau?"
"Mau! Mau!" Bocah itu berjingkrak kegirangan.
Luna tidak tau apa yang wanita itu berikan pada anaknya, dia sudah lebih dulu memalingkan wajah, menyesal menyaksikan mereka.
Selama 17 tahun hidup, Luna tidak pernah mendapat tatapan seperti itu, tidak ada usapan tangan lembut seorang wanita, atau hadiah dari seorang wanita saat dulu ia berhasil menggambar "bulet-bulet". Luna tidak seberuntung itu. Dan lagi, kenapa di saat seperti ini dia baru merasa kehilangan sosok mama. Luar biasa sekali hari ini.
Wursssh...
Oh, hujan.
Luna masih diam, tidak ada tanda-tanda dia akan menelepon atau mengirim pesan pada Lexa. Entahlah, dia sedang tidak ingin berbicara atau bertemu dengan siapapun.
Semua akan baik-baik saja, kamu harus semangat. Apapun yang terjadi kamu nggak boleh menyerah.
Luna menghela napas saat ucapan Dokter Irene tadi terngiang. Apanya yang akan baik-baik saja, kenapa Dokter Irene begitu yakin? Dia saja tidak yakin.
Luna tertunduk saat menyadari sesuatu menetes di punggung tangannya, juga di kertas yang masih dia genggam,melunturkan beberapa tintanya. Luna mendongak, ternyata atap halte di atas kepalanya bocor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna & Alexa
Novela JuvenilCerita ini adalah tentang sepasang saudara kembar Aluna dan Alexa. Aluna dan Alexa tak pernah terpisahkan. Sebagai anak yang terlahir tanpa mengenal ibu, keduanya tumbuh dengan ikatan yang sangat kuat. Saling menyayangi dan melindungi. Namun selal...
