Reina berjalan menuju kelasnya. Namun langkahnya terhenti ketika dilihatnya, seseorang tengah berdiri tepat di pinggir koridor. Seseorang itu menyenderkan tubuhnya pada tembok yang berada disana. Matanya terpejam dengan berat.
Perlahan tapi pasti, Reina mendekat kepada orang itu.
"Sekarang jadi penunggu koridor ya?" Gurau Reina kepadanya.
Orang itu menoleh kepada Reina, kemudian berkata "Mending jadi penunggu koridor daripada luntang-luntung gak jelas kayak lo," Orang itu tertawa, sesekali melirik wajah Reina yang kesal setengah mati.
"Yang namanya Angga itu pasti kampret ya! Buang-buang waktu aja ngomong sama lo!" Ucap Reina kasar, kemudian pergi meninggalkan Angga. Tetapi sulit untuk berjalan, ternyata Angga sudah menahan tangannya lebih dahulu.
"Heh cewek sinting! Gak pantes lo ngambek kayak gitu," Reina menatap Angga yang sedang menatapnya dengan jenaka.
Hening, keduanya sama-sama diam dan saling tatap.
"Mpfttt.....bwahahahahah!" Hingga akhirnya tawa Angga pecah begitu saja.
"Kenapa ketawa?" Reina mengernyitkan keningnya bingung. Matanya melirik pakaiannya, untuk mengetahui apa ada yang salah dengan yang dikenakannya. Sesekali tangannya menyentuh wajah, dan rambutnya.
"Ngapain lo kayak orang gila gitu? Gak jelas" Angga terkekeh pelan melihat tingkah Reina.
"Lo tuh yang gak--" Ucapan Reina terhenti seketika, saat seseorang memegang pundaknya. Sontak, ia berbalik menatap orang tersebut.
"Erlang..." lirihnya pelan.
Erlang memegang pergelangan tangan Reina dengan cukup erat, kemudian ia menariknya dengan perlahan. Sekilas, ia melirik Angga dengan tajam, kemudian pergi bersama Reina.
Langkahnya yang terburu-buru, membuat Reina kebingungan sendiri.
"Erlang STOP!" Reina menghempaskan tangan Erlang dengan kasar, yang membuat Erlang kaget.
"Kamu tuh kenapa sih?" Tanya Reina bingung.
"Lo itu yang kenapa?!" Erlang balik membentak Reina. "Udah gue bilang, jangan deketin Angga!" Ucap Erlang dengan suara lantang.
"Emang kenapa? Apa salahnya?" Tanya Reina tak mau kalah.
"Karena gue gak suka lo deket sama dia! Dia itu gak baik untuk lo, Rei. Gue gak mau lo deket-deket sama dia!" Perintah Erlang dengan bulat. Matanya tajam menatap Reina.
"Tapi lo bukan siapa-siapa gue Erlang, lo gak berhak ngatur gue!" Seketika hati Erlang sakit mendengar ucapan Reina. Ia kaget, akan apa yang batu saja di ucapkan Reina. Seulas senyum pahit, melengkung di wajahnya. Bahkan tanpa Reina sadari, panggilan aku-kamu nya menjadi lo-gue.
Erlang menghembuskan napasnya dengan berat, dan menatap Reina dengan lebih lembut. "Gue emang bukan siapa-siapa lo. Tapi gue mau yang terbaik buat lo, gue gak mau lo kenapa-napa. Ok, sekarang gue gak bakal ngatur lo lagi, terserah lo. Gue gak marah sama lo kok," Ucap Erlang perih, kemudian pergi meninggalkan Reina seorang diri.
Reina bergeming di tempat.
"Apa yang gue lakuin tadi?" Gumam Reina tak percaya. "Sial!" Mimik bersalah, tampak jelas di wajahnya.
"Gue bodoh banget! Bodoh banget!" Ia memukul-mukul kepalanya frustasi. Ia memejamkan matanya sejenak, hingga meneteslah air mata itu.
Bingung akan apa yang harus dilakukannya. Bingung akan perilakunya. Bingung atas semuanya.
***
"Sumpah lo bodoh banget Reina!" Erika memaki Reina sedari tadi. Seperti kebiasaan biasanya, Reina selalu menceritakan semuanya kepada Erika.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINGGU
Teen FictionKetika tinggal aku sendiri yang mengharapkanmu. Di hari MINGGU kita. ●○● Hancur. Hanya itu mungkin saat ini yang bisa dideskripsikan dari seorang Aku. Mungkin aku adalah orang paling menderita di dunia ini. Yaa... menderita. Tapi semua berubah saat...
