20. Firasat

722 49 5
                                        

"All i ask... is If , this is my last night with you... Hold me like I'm more than just a friend..."

"Nyanyi apaan sih? Emang mau di dekap sama siapa?"

Erlang yang baru saja datang, langsung menempati tempat duduknya dan mendengar Reina sedang melantunkan lagu all i ask milik Adele.

"Ish... ganggu orang nyanyi aja deh." Reina mencibir. "Mau di dekap sama seseorang, idaman, yang akan menjadi masa depan!" Jelasnya sembari memperagakkan beberapa gerakan, seperti mangacungkan tangan ke atas, membuat gelombang-gelombang, dan lainnya.

Erlang hanya bisa menatap Reina penuh arti, dan mengulum senyumnya dalam. Satu alisnya terangkat untuk menggoda.

"Apa orang itu gue? Hmm?" Ujarnya terlalu pede, yang tentu saja langsung mendapat cibiran dari Reina.

"Arti lagu itu, dekap aku lebih dari teman dan apalah itu. Sementara kamu? Kita kan udah gak temenan, jadi jelas bukan kamu orangnya!" Ucapnya penuh kemenangan, seperti baru saja berhasil memenangkan perlombaan debat antar sekolah.

Erlang menatap Reina dengan datar. Hal itu tidak bisa dibilang marah, karena siapapun juga tau, Erlang tidak pernah marah kepada Reina atau bahkan tidak akan. Garis bawahi kata itu.

"Marah ya? Bercanda doang kok. Iya-iya, di dekapnya sama kamu," Reina mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Menoel pelan dagu Erlang, yang membuat Erlang mendengus geli.

"Orang dari zaman purba pun tau, aku gak akan pernah marah sama kamu," Terlihat semburat merah di wajah Reina. Senyumnya tertahan, karena ia lebih ingin menunjukkan wajah malunya.

"Cie... ngomongnya aku-kamu sekarang!" Seseorang yang tiba-tiba saja bersuara, membuat Erlang dan Reina menoleh.

"Igo! Lo ngapain ganggu orang pacaran? Udah sih, kalo gak laku, ya gak laku aja! Gak usah gangguin orang!" Ternyata orang itu adalah Igo, dan seseorang yang baru saja menegornya adalah Ihsan.

Igo hanya memasang tampang kecutnya mendengar perkataan Ihsan. "Tinggal ngomong gue jomblo apa susahnya sih? Pake bilang gak laku lagi. Sialan lo!" Igo mendengus kesal, setelahnya ia berlalu entah kemana.

Reina hanya bisa menggelengkan kepalanya heran, 'mengapa bisa ada makhluk seperti Igo?', sementara Erlang tertawa melihat tingkah kekanakkan sohibnya itu.

"Cih... baper dia. Gue kejar dulu ya? Nikmatin lagi deh pacarannya," Setelah mengucapkan kata-kata barusan, Ihsan melenggang pergi meninggalkan Reina dan Erlang.

"Mungkin kamu mau di dekap Igo atau Ihsan?" Erlang mulai menggoda Reina kembali.

"Boleh-boleh!" Jawaban yang Reina berikan, di luar pemikiran Erlang.

"Oh ok Reina. Bahagia ya," Ucap Erlang singkat.

Reina tersenyum lebar, satu tangannya menoel kembali dagu Erlang. "Baper!" Cibirnya.

***

Erika berjalan resah di dalam kelas. Saat ini, semua siswa sedang ber-olahraga di lapangan. Sengaja ia tinggal di kelas, karena memiliki sebuah tujuan.

Di tangannya menggenggam sebuah amplop yang tentunya berisi selembar surat. Di tatapnya sekali lagi tas milik orang itu, pria itu, Erlang.

"Gue kasih gak ya?" Ucapnya ragu. "Gue rasa, ini udah saatnya semua rahasia yang gue sembunyiin untuk di nyatain. Terlalu lama nyembunyiin semuanya, malah buat batin gue tersiksa, walaupun yang jadi taruhannya persahabatan gue sama Reina," sesekali Erika menghembuskan napasnya gugup. Perlahan ia berjalan mendekat ke bangku Erlang.

MINGGUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang