"GUE SYEIRA!"
Erlang menghentikan langkahnya dengan spontan. Matanya terbelalak tak percaya, jantungnya seperti berhenti berdetak. Rasanya, ruh di dalam tubuhnya telah terpisah dari raganya.
Waktu seperti terhenti saat itu juga dan bumi berhenti berotasi. Mungkin itu kiasan berlebihnya.
Kata-kata Erika terngiang-ngiang di kepalanya. 'Gue Syeira!' 'Gue Syeira!' 'Gue Syeira!'
Ini tidak mungkin baginya. Sangat tidak mungkin.
"Gue Syeira..." Lirih Erika sekali lagi.
Erlang tak mampu berkata-kata. Tubuhnya gemetar, bibirnya ingin mengucapkan sesuatu tetapi tertahan, benar-benar menyesakkan.
Sangat menyesakkan. Apa yang dipikirkan Erika, sehingga ia berkata seperti itu?
"Gue Syeira, Erlang..." Erika bersuara sekali lagi. Hal itu lantas membuat Erlang semakin bingung tak kentara.
"ARGHHHHH!!" Erlang menggeram marah.
Ia berbalik menatap wajah Erika. Dilihatnya Erika yang hanya menunduk cemas.
"Lo ngomong apa?! Gak usah mengada-ngada!" Sangkal Erlang tak percaya. "Syeira udah mati! Dia udah mati! Lo jangan main-main sama gue!" Erlang mengatupkan rahangnya marah. Matanya menatap nyalang ke arah Erika dan badannya menegak, mendekat.
"Gue gak bohong!" Erika membantah, "Gue jujur. Gue Syeira. Banyak hal yang gak lo ketahui Erlang!" Seperti disambar petir rasanya Erlang saat ini.
Ia hanya bisa menatap Erika nanar, tak percaya. Hanya bisa bungkam, tanpa kata.
Terkekeh pelan, seperti meremehkan. "Lelucon apa yang lo buat?! Lelucon lo gak lucu!" Ucap Erlang pedas.
"Gue gak buat lelucon! Gue serius! Gue berani sumpah!" Erika bersumpah. Kedua telapak tangannya menyatu.
Erlang mencoba mencari kebohongan di mata Erika, tetapi nihil. Erika jujur. Erika benar. Erika tidak sedang bercanda. Erika adalah Syeira.
"Gak... gak mungkin..." tetapi Erlang masih berusaha mengelak. Menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Gue Syeira. Gue Syeira. Syeira Aluna. Rumor bilang, gue mati karena depresi berlebih. Depresi karena cinta gue yang ditolak sama lo!" Erika berseru. Kedua matanya meneteskan air mata, yang kini membanjiri pipinya. "Gue jago bukutangkis. Gue paling gak suka liat lo sama Angga jadi anak nakal. Gue tau dimana tempat kita sering nongkrong, di bangunan kuno. Gue punya penyakit asma, begitupun dengan Syeira. Percaya sama gue..." Menghirup napas sejenak, kemudian menghembuskannya dengan lega.
Erlang bergeming di tempatnya. Menatap Erika dengan tatapan tak percaya. 'Gimana dia tau semuanya. Tentang Syeira?' Batinnya.
Erlanh masih tetap menyangkal, "Syeira udah mati. Tiga tahun yang lalu, dia pergi ninggalin gue! Dan dengan sangat beraninya, lo ngaku-ngaku kalo lo itu Syeira? Bullshit. Liat muka lo. Itu bukan muka Syeira! Muka kalian beda, dan lo nyoba untuk nipu gue?!" Erlang terkekeh meremehkan. Kedua tangannya menepuk-nepuk.
"Lelucon lo," Erlang menatap Erika sejenak "SAMPAH!" Hendak melenggang pergi meninggalkan Erika.
"Gue belum mati Erlang! Gue masih hidup! Muka ini, gue punya penjelasannya sendiri." Erlang tidak mempedulikan Erika, dan berjalan menjauh.
"Apa setelah liat ini lo akan percaya?!" Erika mengeluarkan gantungan kunci berbentuk huruf 'E' dari saku bajunya.
Hal itu sukses membuat Erlang menghentikan langkahnya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINGGU
Teen FictionKetika tinggal aku sendiri yang mengharapkanmu. Di hari MINGGU kita. ●○● Hancur. Hanya itu mungkin saat ini yang bisa dideskripsikan dari seorang Aku. Mungkin aku adalah orang paling menderita di dunia ini. Yaa... menderita. Tapi semua berubah saat...
