"Darimana lo, Ngga?" Angga tersentak, begitu mendengar suara yang cukup familiar ditelinganya, kini sedang menanyainya.
Ia menoleh, dan mendapatkan seorang pria dengan sebatang rokok dimulutnya yang mulai dihisapnya perlahan, kemudian dihembuskannya. Pria itu menyingkirkan koran yang sedang dibacanya, lalu berdiri dan berjalan mendekati Angga.
"Gue darimana, juga bukan urusan lo," ujar Angga ketus. Setelahnya ia berjalan meninggalkan pria itu.
"Gue abang lo. Dimana rasa hormat lo?" ucap pria itu yang membuat Angga menghentikan langkahnya.
Angga terkekeh. Demi apapun, ia sangat ingin menghajar pria di hadapanya. Tidak peduli dia adalah kakaknya atau siapanya. Namun itu hanyalah angan-angan. Angga berjalan mendekat, kemudian berkata, "Gak usah gila hormat. Sekarang lo bilang, mau lo apa?"
"Mau gue? Gue pikir lo bukan anak TK lagi, yang harus dibilangin hal yang sama berulang kali. Daridulu, kemauan gue sama kan?" jawab pria itu dengan lancar. Kedua alisnya bertaut, seperti menantang.
"Kalo lo mau hal itu, sorry gue gak akan nurutin. Mimpi lo itu bakalan sia-sia. Gue masih cukup berani untuk ngusir lo darisini sekarang juga. So, Rizal Narendra Wardhana lo bisa pergi darisini."Angga menatap pria itu dengan ketus. Ia bahkan melupakan bahwa pria itu ada;h kakaknya sendiri. Ia tidak peduli.
"Gue gak akan pergi. Kalo pun gue pergi, gue bakal balik lagi. Gue bakal maksa lo untuk nurutin kemauan gue. Gampang kan apa yang gue mauin? Lo cukup jadi anak buah gue, dan sebarin semua ini." Rizal memperlihatkan beberapa bungkusan berisi serbuk putih yang berada digenggamannya. Ia menyeringai licik.
Angga menatap Rizal dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, ia sangat menahan diri untuk tidak menghajar Rizal.
"Sampe kapan pun, kemauan lo itu gak bakal terwujud. Gue gak akan pernah nyebarin barang-barang haram gak berguna itu. Gue bakal doain untuk kematian lo, Zal!" Angga membalas perkataan Rizal dengan emosi yang sudah tak bisa ditahannya lagi.
Rizal tertawa. Kedua tangannya ditepuk. "Santai dong. Adik gue udah gede sekarang. Berani gitu ya? hahaha." Rizal mendekatkan dirinya pada Angga. Kedua tangannya menangkup wajah Angga. Dengan ekspresinya yang kini lebih ketus, ia berkata, "Lo tau kan apa yang bakal terjadi kalo lo gak mau ikutin permintaan gue? Cewek itu dan keluarganya bakal hancur, dalam arti hancur yang sebenarnya. Lo gak akan pernah ngeliat kebahagiaan lagi di matanya. Walaupun dia hidup, tapi dia cuma akan ngerasain kalo dia udah mati."
Angga menepis tangan Rizal yang masih menangkup wajahnya. Dengan gerak cepat, ia menghajar rahang Rizal dengan sangat kuat. Sudah cukup. Ia tak kuat lagi menahan semuanya. Ia sangat muak dengan semua ini. Rasanya, ingin sekali ia menghancurkan Rizal hingga napasnya berhenti.
"Jangan pernah lo sentuh Reina! Sekali aja gue denger dia luka karena lo, hidup lo bakal abis di tangan gue. Gak akan ada ampun untuk lo. Gue gak peduli lo abang gue atau bukan," ucap Angga penuh penekanan di setiap katanya.
Rizal bangkit. Ia mengepalkan kedua tangannya marah. "Jangan lupa sama yang buat hidup lo hancur, Ngga. Keluarga dia yang ngebuat mama pergi ninggalin lo, ninggalin gue. Keluarga dia yang ngebuat papa di penjara. Inget gimana rasanya dulu pas kita liat di surat kabar ada berita 'Adi Roynald Syahputra, pengusaha terkenal yang terlibat khasus pembunuhan'. Inget itu. Dan buka mata lo lebar-lebar, lihat siapa penyebab semua itu. Ya keluarga dari cewek yang selama ini lo bela. Kita lupain kemauan gue untuk ngejadiin lo anak buah gue. Menurut gue, hal ini sekarang lebih penting," ujar Rizal sambil menatap adiknya. Adik yang dulu sangat disayanginya, yang dulu sangat dekat dengannya, yang dulu sangat kompak—dengan tatapan terluka.
"Gak ada yang penting. Semuanya gak penting. Apa yang bakal lo dapet dari bales dendam, Zal? Gak ada. Lo sama otak jahat lo itu, cuma mau liat penderitaan mereka. Itu aja. Lo gak bakal ngebuat mama balik dengan cara itu. Lo gak bakal buat papa kayak dulu lagi. Lo gak bakal buat keluarga kita kayak dulu lagi. Semua udah lewat, berubah, dan berantakan. Harusnya, kita gak kayak gini. Kalo mau semuanya balik, kita harus intropeksi diri dan perbaikin semuanya. Bukannya malah ngerusak kehidupan lain." Rizal terdiam. Angga menatap kakaknya dengan tatapan tajam, tapi sebenarnya itu hanyalah digunakan untuk menutupi tatapan terlukanya.
"Sekarang, terserah lo mau gimana, Zal. Lo mau tetep bales dendam? Silahkan. Tapi lo juga harus inget, kalo gue bakal selalu ngejagain Reina. Satu lagi, yang harus lo inget, gue gak akan ikutin kemauan lo jadi pengedar. Please, Zal. Gue masih punya cita-cita, jangan pernah lo usik," ucap Angga sebelum pada akhirnya ia pergi meninggalkan Rizal yang masih mematung.
Angga berjalan memasuki kamarnya, dan seperti biasa, ia akan diam dan menyendiri.
Saat Angga membuka ponselnya, 1 pesan masuk.
From : Rizal
Gue akan tetep bales dendam. Iya lo bener. Gue emang mau lihat mereka hancur, begitupun dengan papa. Maka itu, gue sama papa tetep akan jalanin rencana kita. Jaga dia kalo lo mampu. Tapi gue yakin, lo gak akan mampu.
Angga mendengus pasrah. Tugasnya saat ini adalah menjaga Reina, selalu.
Untuk pertama kalinya ia berharap agar Erlang segera kembali dan ada bersamanya untuk menjaga gadis itu. Gadis yang sepertinya, kini mulai mencuri hatinya.
***
ok. cuma segini aja part kali ini. amat sangat pendek. yaa karna emang ini part khusus, untuk buka semua misteri.
Sbnrny mau post dr kemarun2, tp hp rusak huhu. Laptop hrs verif email
hehew..... ada yg kangen erlang? abis ini bakal muncul. bakal dikasih tau dia lai dimana
dia itu lagi liburan... di hati gue haha
Mulmed penggambaran Angga.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINGGU
JugendliteraturKetika tinggal aku sendiri yang mengharapkanmu. Di hari MINGGU kita. ●○● Hancur. Hanya itu mungkin saat ini yang bisa dideskripsikan dari seorang Aku. Mungkin aku adalah orang paling menderita di dunia ini. Yaa... menderita. Tapi semua berubah saat...
