Part 28 - Cium Aku Kinal

9.6K 419 43
                                        

Typo bertebaran :v

TOK TOK TOK

Berulang kali bunyi ketukkan pintu terdengar hingga membangunkan sepasang sahabat yang sedang tertidur pulas ini. Tubuh Kinal tiba tiba bergetar dan kedua matanya terbuka dengan sempurna. Ya, ia lirik ke arah Ve yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Dengan bibir yang masih menempel di lehernya. Kinal melihat kondisinga sendiri. Huft syukurlah, batin Kinal lega. Ia melepas pelukkannya perlahan lalu membangunkan tubuhnya perlahan agar Ve tidak terbangun. Ia berjalan terlebih dahulu ke bangsal sebelah. Mengacak sedikit posisi selimut agar orang orang mengetahui mereka tidur di bangsal berbeda. Setelah semuanya beres, Kinal berjalan perlahan ke arah pintu lalu membuka pintu uks yang dikuncinya sebelum tidur tadi.

Cklek

"Eh bu Meta." Ucap Kinal dengan suara parau sambil nyengir. Petugas uks itu hanya menatap tajam pada Kinal. Aura jengkel sudah terlihat disana.

"Saya tau kamu dan Veranda sakit. Tapi gak sampai dikunci juga kali pintunya. Untung saya gak panggil guru atau murid yang lewat." Kata bu Meta kesal sambil masuk ke ruangannya. Kinal hanya tersenyum kecut mendengar kekesalan bu Meta. Kalau bukan karena Veranda, ia juga tidak akan melakukan itu.

"Ada balsam gak bu? Pinggang saya pegal." Kata Kinal sambil memegang pinggangnya. Percintaannya dengan Veranda membuat tubuhnya sakit semua, terutama pinggangnya.

"Ada disitu. Kenapa gak ambil daritadi?" Tanya bu Meta dengan nada jengah.

"Saya kan baru bangun tidur bu. Terus saya sungkan kalau gak izin dulu." Kata Kinal polos sambil nyengir lagi. Bu Meta lagi lagi menghela nafasnya.

"Kalau kamu tilep ya baru ibu marah. Selama ditaro kembali dan kamu catat di buku yang biasa, buat apa saya marah?" Tanya bu Meta balik. Kinal menepuk jidatnya. Ia akan kalah berargumen dengan petugas uks yang galak sebab yang dibilang benar semua.

Tubuh Veranda bergidik saat sosok yang dia peluk sudah tidak ada di sampingnya. Ia membuka matanya perlahan. Memastikan pergerakkan tubuhnya terlebih dahulu. Samar samar ia mendengar suara Kinal dengan seseorang. Sorot mata Veranda kembali tajam. Kinal lagi sama siapa? Batinnya penasaran. Veranda membangkitkan badannya dan berjalan ke arah meja petugas uks.

"Aduh sakit." Rintih Kinal.

"Tahan kenapa. Lagian ada ada aja pakai jatih ke got." Kata bu Meta sambil memijat pinggang Kinal. Cewek tomboy itu hanya mendengus pasrah. Tanpa mereka sadari, Veranda menatap lurus dengan pandangan tidak suka disana. Lagi, cemburu butanya kembali kumat. Ia melipat tangannya sambil menatap tajam Kinal yang sedang diurut bu Meta. Melihat Kinal yang kesakitan membuat hati Veranda iba sendiri. Antara cemburu dan rasa iba menyatu di otaknya.

"Makasih banyak ya bu. Agak enakkan ini." Kata Kinal sambil menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri.

"Iya sama sama. Eh kamu udah bangun Ve." Sapa bu Meta yang membuat tubuh Kinal menegang lagi. Semoga Veranda bisa mengerti pemandangan di depannya. Kinal mendadak panas dingin.

"Udah bu baru aja. Agak lumayan juga sih." Kata Veranda sopan dengan raut wajah setenang mungkin. Namun tetap saja hal itu tidak membuat Kinal tenang. Malah semakin panas dingin.

"Udah makan sama minum obat Ve?" Tanya bu Meta sekali lagi.

"Belum sih bu cuma tiduran aja." Jawab Ve seadanya.

"Saya gak mau kamu pingsan lagi. Saya beli makan sebentar buat kalian. Dan kamu Kinal, jangan kunci pintu lagi. Ini bukan kamar kamu." Tegur bu Meta yang membuat Ve tertawa kecil. Kinal hanya mengangguk saja. Dia benar benar enggan ribut dan agak kesal sama Ve. Setelah bu Meta keluar, suasana kembali hening. Baik Ve maupun Kinal sama sama enggan memulai omongan.

Apa Maumu?!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang