Part 3 - Jealous

100K 4.4K 64
                                        

Yang di mulmed itu Angela Robinson yah..

Gue lagi dikelas sekarang, sebenarnya ini udah jam pulang sih. Bel pulang sekolah aja sudah berbunyi sekitar 15 menit yang lalu. Gue sekarang lagi sama Diana yang sedang mencatat catatan Biologi punyaku. Dia tadi tertidur sepanjang kelas Biologi dan sama sekali tidak mencatat apa yang diajar tadi jadi alhasil sekarang gue harus nungguin dia selesai mencatat dan pulang bareng.

"Di, lo masih lama nggak? Gue laper banget nih. Bisa nggak cepatan dikit?" Ucapku pada Diana.

"Sebentar lagi selesai. maaf ya nyusahin lo deh. Hehehe" ucapnya padaku sambil tersenyum konyol menurutku.

"Yaudah cepetan yah. Gue ke toilet dulu, awas aja kalau gue balik lagi lo masih belum selesai" ancamku padanya. Hahaha tidak apa lah sekali-sekali mengancamnya, lagipula ia pasti tidak akan takut.

"Hehe okey deh tenang aja pasti selesai kok" ucapnya

Gue mulai beranjak dari kursi yang kududuki dan berjalan keluar kelas untuk ke toilet. Sekitar 10 menit kemudian gue pun keluar dan berniat kembali kekelas, namun langkah kakiku terhenti. Gue  melihat sesuatu yang menyakitkan lagi sekarang, bahkan lebih menyakitkan dari kemarin. Gue ngeliat Julian sedang berpelukan dengan cewek yang sama seperti kejadian kemarin, Carra. Gue sudah ga kuat ngeliat hal ini dan akhirnya gue dengan cepat ngelangkahin kaki gue kembali kekelas, yang gue pengenin sekarang adalah kembali kerumah dan masuk kekamar gue, gue cuma pengen nangis dan tidur, sudah terlalu lelah dengan kelakuannya.

Segitu susahkah buat jadi pacar lo Jul, kalo sesusah dan semenyakitkan ini buat jadi pacar lo mendingan gue kemarin nolak lo, seengaknya biarpun gue jadi fans lo gue ga perlu terlalu berharap sama lo, karena ketika gue sudah jadi pacar lo gue bener-bener berharap kalo gue bisa jadi cewek yang lo utamain. Tapi ga sesuai ekspektasi gue sama sekali, yang ada malah gue yang paling tersakiti disini.

Sesampainya dikelas gue dengan cepat memasukkan semua barang gue kedalam tas lalu berlalu keluar kelas.

"Di, bawa aja catetannya, gue balik duluan" ucapku singkat lalu berlari keluar kelas dan menaiki taksi kembali kerumah. Sesampainya dirumah gue mulai memasuki kamar dan menangis sejadi-jadinya dan kemudian tertidur, gue sudah ga tau lagi seberapa kacau pakaian dan rambut serta wajahku sekarang yang ada diotakku sekarang hanya tidur, setidaknya gue berharap kalo setelah tidur gue bisa setidaknya bisa sedikit ngelupain kejadian tadi.

***
Sekitar jam 7 malam, Angela terbangun dari tidurnya karena ketukan pintu dari luar kamarnya.

"Angela, apa kamu didalam?" Tanya Kakaknya Justin Robinson.

"Iya kak, kenapa?" Tanya Angela dengan suara serak karena baru bangun tidur.

"Turunlah kebawah kita makan malam, cepat kakak sudah lapar" ucap Justin.

"Iya kak, sebentar lagi" ucap Angela lalu dia beranjak dari tempat tidurnya mengambil pakaian lalu memasuki kamar mandi.

Didalam kamar mandi melalu cermin dia melihat wajahnya yang kacau, rambut yang sangat berantakan, matanya sembab, dan pakaiannya yang lusuh tak karuan. Dia hanya tersenyum miris melihat keadaannya dan kemudian dia mandi.

Mungkin dengan mandi bisa membuat otaknya sedikit bisa berpikir jernih.

***
Setelah selesai makan malam bersama kakaknya Angela kembali memasuki kamarnya. Ayah dan ibu Angela memang sedang tidak ada dirumah, mereka orang sibuk, memiliki salah satu  perusahaan terbesar di Asia sudah sewajarnya berangkat-berangkat keluar negeri bukan? Walaupun Justin sudah sedikit mengambil alih perusahaan tapi belum sepenuhnya semuanys diurus olehnya dan sesekali ayahnya yang akan kembali turun tangan sendiri.

Dan sebagai istri sudah semestinya menemani suaminya bukan. Apalagi Robinson ayah Angela bukan termasuk usia muda lagi sekarang, dan itu membuat ibu Angela sedikit mencemaskan kesehatan suaminya itu.

Terkadang Angela merasa iri dengan keromantisan orang tuanya itu dan Angela ingin kehidupan pernikahannya nanti bisa seperti orang tuanya.

Angela kembali memeriksa ponselnya. Walaupun dia kecewa, setidaknya dia masih ingin sedikit berharap kalau Julian akan mengiriminya pesan atau sekedar cemas padanya.

Tapi perasaan kecewanya bertambah ketika sama sekali Julian tak mengiriminya pesan.

Sekarang Angela benar-benar bingung, apakah dia harus mengakhir hubungan ini? Tapi dia tidak bisa memungkiri kalau dia masih menyukai Julian, dia juga masih ingin berharap kalau Julian akan berubah, kalau Julian akan setidaknya sedikit perduli padanya, dia juga ingin berharap kalai Julian akan memperlakukannya selayaknya pacar pada umumnya.

Namun Angela juga takut kalau-kalau dia akan kecewa nantinya, ini sudah ke 3 minggunya mereka berpacaran, tapi sama sekali tidak ada kenangan yang menyenangkan bagi Angela, bahkan sebaliknya yang terjadi.

Dia juga sekarang bingung, jika dia memutuskan hubungannya dengan Julian, bagaimana caranya? Bahkan untuk melihat wajah Julian saja dia takut, takut tidak akan sanggup memutuskan laki-laki yang dia sukai itu.

Atau dia mengirim pesan saja? Tapi dia juga tidak ingin hubungannya dengan Julian yang baru seumur jagung ini kandas dan bahkan diputuskan melalui pesan, itu benar-benar tragis bukan?

Apakah sebaiknya dia memberanikan diri untuk berbicara dengan Julian? Mengatakan kalau dia menyukai laki-laki itu dan bertanya kenapa laki-laki itu bisa menembaknya tapi malah mencampakannya seperti ini. Dekat dengan wanita lain disaat dia masih berpacaran dengan Angela bukankah itu termasuk mencampakkan?

Dan juga dia ingin bertanya apakah tangan Julian tidak bisa berfungsi dengan benar sampai-sampai membalas pesan dari Angela saja tidak bisa? Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan dikepala Angela mengenai Julian. Ahh berpikir keras seperti sekarang membuat kepala Angela sakit, dia ingin tidur lagi sekarang, lebih baik tidur daripada dia terus memikirkan kejadian tadi yang membuat dadanya berdenyut nyeri karena sedih dan cemburu.

Penasaran apa yang akan dilakukan Angela? Apakah ia akan meminta putus? Haha nantikan next part yah..

My Cold BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang