"Hujannya uda reda, lo masih mau meluk gue?" Tidak ada respon. "Lo tidur ya?" Perlahan Alvaro melepas pelukanya.
"Sorry, gue ketiduran"
"Yaudah lo udah ngga papa kan, gue mau pulang"
Alvaro bangkit dan memberikan hp Nana, Nana memeriksa hp nya.
"Lo pulang bareng gue"
Nana menatap Alvaro dengan wajah bertanya
"Abang lo di luar kota"
"Gimana bisa lo tau abang gue di luar kota?"
"Serah lo sih kalau lo ngga mau, gue juga ngga maksa" lalu ia berdiri
"Eh tunggu!"
"Yaudah, gue bareng lo" sambungnya
"Lo bawa motor?"
Alvaro yang sudah menaiki motornya melirik ke arah Nana
"Iya, lo ngga mau? Lo takut rambut lo rusak? Lo gengsi?"
Nana mengerutkan dahinya, "bukan gituu! Gue takut kalau ujan lagi"
"Yaudah cepetan naik biar ngga keburu ujan!" Nana menuruti perintah Alvaro dan naik ke jok belakang.
"Lo pegangan yang kuat"
"Dih modus"
"Lo yang ngarep gue modus in! ntar kalo jatoh nyalahin" lalu Akhirnya Nana memegang jaket Alvaro
Diperjalanan hening, tak satu katapun terucap dari mulut mereka, ditambah dinginya suasana sehabis hujan yang terasa dingin seolah membekukan suasana.
"Merem!" Teriak Alvaro tiba-tiba
"Haa?" Nana mendekatkan wajahnya condong kedepan mendekat Alvaro
"Aaaaaaaaaa!" Teriak Nana tertahan, ia memeluk dan membenamkan wajahnya ke punggung Alvaro.
Didepan mereka tadi ada kecelakaan, mungkin orang itu sudah tewas karna lukanya sangat parah.
Hari ini mungkin hari ketidak beruntungan Nana, setelah memasuki kawasan komplek hujan turun lagi.
"Kak bagas.." panggil Nana disela isaknya, Nana memeluk Alvaro sangat erat. Alvaro semakin kencang melajukan motornya.
Nana turun dari motor dengan masih memeluk Alvaro, Bayangan orang kecelakaan tadi semakin menghantui, Nana jadi teringat masa lalunya.
"Lo udah di rumah, udah aman, ada gue juga, ngga akan terjadi apa-apa, percaya sama gue" Nana masih tidak merespon, ahirnya Alvaro mengangkat tubuh Nana.
Alvaro menidurkan Nana di sofa ruang keluarga, saat ingin berdiri Nana meraih lengan Alvaro masih dengan memejamkan matanya.
"Kamar lo di mana?" Nana tak menjawab, "Lo harus ganti baju, ntar masuk angin" Nana masih tak menjawab.
"Halo bang.."
"........"
"Iya, kita kehujanan tadi"
".............."
"Iyaa, sekarang juga masih ujan, ujannya awet banget nih"
"......…"
"Oke bang, pasti"
Tutt..
Alvaro mengangkat Nana menuju kamarnya
"Ngga usah, gue udah bisa" cegah Nana dengan suara serak
Nana berjalan menaiki tangga, kepalanya terasa sangat berat dan pandanganya seperti berputa-putar.
"Ngga usah sok kuat" ucap Alvaro sambil menggandeng tubuh Nana.
"Lo yakin bisa ganti baju sendiri?"
Sontak Nana melotot ke arah Alvaro
"Yaa gue kan cuma mastiin lo bisa atau nggak"
•-•
•-• Sudah direvisi. Sory for typo•-•
First update :
Kamis, 11 Agustus 2016
Revisi :
Kamis, 30 Maret 2017 | 10:19PM
❤Na
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Teen FictionKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
