Kelas riuh karna pagi ini jam kosong, Nana hanya membaca novel dan Lina sedang bercanda dengan yang lain. Pintu kelas terbuka menampakkan sosok Bu Nia wali kelas dan seorang siswa laki-laki yang berjalan dibelakangnya. Namun sedikit siswa yang menyadarinya.
"Anak-anak! Tolong diam sebentar!" Suara wali kelas yang lantang seketika menyita perhatian.
"Selamat pagi, pagi ini ada teman baru dikelas ini, cowok New York" Ucapan Bu Nia sedikit berbisik di kalimat terakhirnya. Terdengar sorak dari para siswi yang sangat antusias sementara Bu Nia menganggukkan kepala dan mempersilahkan murid baru itu untuk memperkenalkan diri.
"Haii" sapanya sambil mengangkat tangan agak melambai dan diiringi senyuman manisnya.
"Haiii" balas para siswi antusias, sementara para cowok hanya memperhatikan. Lita sudah senyum-senyum sendiri.
"Nama gue Abrar Ferdinan, panggil aja Abrar. Sebenernya gue bukan cowok New York" ucapnya sambil tersenyum dan melirik Bu Nia "Gue cowok Sunda" sambungnya lagi.
"Mau Sunda, mau New York, Jawa, Papua lo tetep imut buat gue" Cilla memang centil, tapi dia cantik, putih, tinggi, langsing, bodygoals lah pokonya. Sedangkan Abrar hanya terkekeh mendengarnya.
Abrar menengok ke arah Bu Nia seolah berkata kalau ia sudah selesai memperkenalkan dirinya.
"Oke Abrar silahkan duduk, disini ketua kelasnya Doni kalau kamu perlu bantuan, minta tolong sama dia, saya tinggal dulu"
Seperginya Bu Nia kelas kembali riuh.
"Heii! Abrar! Lo duduk sama gue!" Teriak Lita sambil menunjuk bangku kosong disebelahnya.
"Abrar! lo kok ga ngabarin gue sih, gue cengo tau ga tiba-tiba liat lo masuk kelas gue" omel Lina setelah Abrar duduk dibangkunya.
"Hehe, gue kira lo juga udah tau soalnya gue kemaren udah ketemu sama Lita, lo kok gak cerita sih sama Lina?"
"Emm.. Gue lupa, lagian gapenting juga sih toh skarang juga ketemu kan."
"Eh, kenalin ini Nada" kata Lina.
"Gue Abrar" Abrar mengulurkan tangannya yang langsung disambut Nana
"Nada"
• • •
Nana sedang berjalan sendirian di koridor sekolah, ditangan kanannya memegang Novel yang akan ia baca di perpustakaan. Sebenarnya ia diajak kekantin sama Lina tapi dia sedang malas makan.
"Eh Nada"
"Kak Reza kan?"
"Iya Nad, masa uda lupa. Eh mau kemana sendirian?"
"Tadinya sih mau ke perpus kak, tapi gajadi"
"Knapa gajadi?"
"Biasa penyakit, moody hehe"
"Moody apa gara-gara ketemu gue?" Tanya Reza sambil menaik-naikkan alis.
"Apaan sih kak" Nana tertawa garing.
"Yaudah kantin yuk" Nana terlihat menimbang-nimbang tawaran Reza.
"Tenang gue yang traktir"
"Bukan gitu.. "
"Gabaik nolak rejeki, apalagi rejeki dari orang yang ganteng macam gue"
"Dih pede banget lo kak"
Reza merasa ada yang bergetar disakunya, ternyata ada line masuk.
Alparo
Dimana lo?
Reza.
Kantin.
Lalu Reza menarik tangan Nana memasuki kantin, Reza berjalan menuju meja Alvaro dan Ratu.
"Ada apaan Ro?" Tanya Reza yang tiba-tiba duduk disampingnya.
"Gue tau, cepet balikin!" Kata Alvaro tanpa mengalihkan pandangan dari bakso nya.
'Duh, mampus gue lupa!' Gumam Reza tanpa suara
"Eh duduk Nad!" Perintah Reza.
"Em, iya"
Sekilas Alvaro melirik orang yang dipersilahlan duduk oleh Reza.
"Eh balikin dompet pacar gue!" Ujar Ratu penuh emosi.
"Eh iya lo belum kenalan kan ama Nada?" Reza berusaha mengalihkan pembicaraan lagi.
"Eh lo kalo dimodusin ama dia jangan mau, apalagi kalo ditraktir, itu pake duit pacar gue" ucap Ratu bersungguh-sungguh pada Nada.
"Masa sih kak? Iya tadi dia bilang mau traktir gitu" uajar Nana sambil menahan senyumnya.
"Eh elo ya Rat, jangan bikin pamor gue turun deh! Yaudah nih kalo kalian pada ngga bawa duit" Reza meletakkan dompet Alvaro diatas meja.
"Sori Nad lain kali aja ya nraktirnya"
"Haha... Gue emang lagi males makan, eh lo malah nyeret gue kesini"
"Reja sarap emang" dumel Ratu
"Reja sarap emang" Alvaro ikut-ikutan.
"Emang cocok kalian berdua. Ro traktir gue dong" Reza berbisik ke telinga Alvaro dikalimat terakhirnya.Namun namun Alvaro tidak menjawab, sedangkan Reza langsung ngibrit pesen makanan.
"Ratu! Yaampun lo harus jelasin ini!"
"Anjir Ratu! Sama Alghazali!"
Suara itu berasal dari meja seberang, mereka teman-teman Ratu. Teman-teman Ratu memang selalu histeris saat melihat Ratu di majalah.
"Ro, gue kesana dulu ya" Ratu mengangkat mangkuk baksonya yang masih setengah.
"Hmm" Alvaro sangat malas menjawab, baru sebentar mereka bersama Ratu sudah pergi lagi sama teman-temanya. Bahkan menghabiskan satu mangkuk bakso saja tak bisa.
"Alvarooo"
Alvaro mengangkat wajahnya, memandang Ratu sejenak.
"Oke. Princess."
Ratu langsung berlari menuju meja teman-temannya. Setelah itu hanya hening, entahlah Reza juga ga balik-balik pesen makanan sedari tadi. Nana beranjak dari kursinya "Gue balik dulu" lalu berjalan keluar kantin tanpa menunggu jawaban Alvaro.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Maap gaje, absurd, membosankan, gapeting paket komplit pokonya😭😪🙏
18 Agustus 2016 | 7:22 PM
❤Na.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Roman pour AdolescentsKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
