Nana melirik Alvaro membuang nafas dan menyenderkan tubuhnya gusar.
Alvaro melirik Nana sekilas sambil tersenyum, lalu mengacak rambutnya sambil masih fokus menyetir.
"Aku ngga paham sama jalan fikir kamu!"
"Sama Na, gue juga ngga paham"
.
Alvaro berjalan memasuki mall diikuti Nana dibelakangnya yang berjalan sambil terus menunduk melihat kakinya sendiri, dan 'Bruk! Ups, Nana menabrak sesuatu, oh tidak, ini terasa seperti sebuah dada yang bidang
"Kebiasaan!"
"Sorry"
"Lo tuh kaya anak gue yang ngambek gara-gara ngga dibeliin mainan tau ngga?!" Alvaro meraih tangan Nana
"Sini jalan disamping gue"
Nana mencoba menarik tanganya kembali namun gagal
"Udah ntar lo ilang kaya pas jaman SMA dulu"
Alvaro mengingatnya
"Apa sih Ro"
"Ngga usah sok lupa lo"
"Sekarang aku udah gede!"
Aku lagi!
"Lo di Paris berapa abad si? Sampe kaku gini, lemesin aja Na"
Bibir Nana mengerucut, ia menarik tanganya kembali dan berhasil
"Udah, gue tau lo suka kalo gue gandeng" Alvaro meraih tangan Nana lalu digenggam kembali
Nana bungkam "Iya, tapi masalahnya aku ini siapa?"
Dilubuk hatinya, sebenarnya Nana merasa sangat nyaman dengan genggaman ini, namun kenyamanan itu diselimuti kegusaran mengingat posisinya di antara hubungan Alvaro-Ratu.
"Beli minum dulu ya Na"
Nana mengangguk, Alvaro tersenyum melihatnya, persis seperti Nana pas kecil dulu
Setelah membeli minum Alvaro dan Nana berjalan sambil melihat lihat, tiba-tiba langkah Nana terhenti diikuti tangnya yg menghentakan genggaman Alvaro
"Why?!" Alvaro mengikuti arah pandang Nana
Disana, di eskalator ada Ratu yang sedang dipeluk seorang lelaki dari belakang, mereka terlihat sangat asyik tergambar dari tawa mereka berdua.
Nana teringat perkataan Ratu tadi, dia bilang mau nyalon, bahkan tadi Ratu menyebutkan nama salon tujuanya, kenapa Nana bisa lupa! Atau ini memang takdir?
Alvaro tersenyum remeh, meraih lagi tangan Nana dan berjalan lagi dengan santainya
"Varo?!"
"Ya?"
Nana benci nada bicara ini, santai yang terasa dipaksakan sambil mengangkat sebelah alisnya, seolah tak paham dengan apa yang dimaksudkan Nana
"Ada apa dengan kalian berdua?"
"Kalian berdua?" Alvaro menengok kanan dan kirinya
"Kita berdua maksud lo?"
"Kamu sama kak Ratu, kalian gila!"
"No! Kita hanya mengikuti kata hati kita yang sebenarnya"
"Really? I don't think so"
"Maybe"
"Kamu aja ngga yakin kan?"
Kamu, lagi!
"Ngga, gue sangat yakin sama hati gue, dan.. Na plis, kuping gue geli denger lo ngomong gitu"
"Gitu gimana?"
"Aku! kamu! Arg!" Alvaro mengacak rambutnya gusar
Nana menahan senyumnya melihat kelakuan Alvaro
"Na, ikut gue, ini bakal menyenangkan"
Langkah Alvaro sangat bersemangat, dia berjalan menuju restoran yang dimasuki Ratu
"Ro, seriously?"
"Kita akan menangkap sepasang selingkuhan"
"Yaa.. Walaupun kita sendiri melakukanya?"
"Kita? Melakukan apa maksud kamu? Siapa yang kamu maksud dengan selingkuhan dusini?"
Kedua mata itu memerah diikuti genangan air mata, Kok Nana merasa sangat rendah ya? Apa memang Nana serendah itu namun ia tidak sadar?
"Na.. tenang, gue ngga maksud"
"Ngga maksud nyadarin seperti apa posisiku maksud kamu?"
"No, bukan begitu Na, kalaupun ada yang bejad diantara kita, itu gue orangnya"
"Kalian perlu meluruskan ini semua Ro, aku pulang!"
Nana berjalan hendak kembali, namun tangan Alvaro lebih dulu meraihnya
"Bukan Na, Kita yang perlu meluruskan semua ini, ayo masuk"
"Tapi lepas dulu tangnya"
"Okay, tapi jangan kabur"
Nana memutar bola matanya
Ratu melihat kedatangan Alvaro dan Nana, reflek ia berdiri membelakingi keduanya
"Rat, santai ngga usah panik gitu"
Nana melongo mendengar ucapan Alvaro
"Duduk lagi, kita boleh join?"
Sambungnya lagi
Ratu masih berdiri dengan gelisah, ia melirik laki-laki disebelahnya yang menatapnya intens seolah meminta penjelasan
"Ro, gue bisa jelasin!"
"Hey! Gue bilang santai Rat, duduk dulu, gue pesen minum dulu"
"Minum? Lagi? Yang benar saja, cup chatime kita baru saja aku buang disampah"
tentu saja ucapan itu tertahan di hati Nana saja
"Ehm, jadi gimana penjelasannya?"
Alvaro mulai mengintrogasi
"Dia.. Dia, tadi gue ketemu dia ngga sengaja Ro, lo inget kan dia temen SMA kita?"
"Bitch!" umpat laki-laki itu lalu berdiri
"Gue, pacar Ratu, tadi tepatnya, sekarang kita putus"
Ia berjalan meninggalkan restoran
"Gimana kalau gue juga mau ngomong hal yang sama kaya cowok barusan?, menurut lo gimana Na? Bagus kan ide gue?"
"Ro, please, kita udah mau nikah, lo jangan becanda"
"Rat please, kita mau nikah dan lo main dibelakang gue!"
"Gue... Cuman iseng doang Ro, gue ngga pake hati"
Ratu mulai histeris dan mengundang perhatian orang disekeliling
"Emm.. Bisa ngga berantemnya jangan disini?"
"Rat gue rasa udah jelas, gue balik duluan" ia menatap Nana memberi isyarat untuk berdiri
"Ro tunggu! Lo ngga usah munafik dan seolah cuma gue yang salah disini!"
Damn, Ratu berteriak lagi, Nana menunduk malu.
"Rat, berantentem dirumah aja yuk"
•.•
Sori yaa pendek lagi, trimakasih untuk yang masih setia nungguin dan ngasih apresiasi, love you so much guys!
11 April 2019 | 03:10 PM
❤ Na.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Fiksi RemajaKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
