Nana berjalan menuju kelasnya, tepat saat ia tiba di ambang pintu bel masuk berbunyi.
Tunggu, ia melupakan sesuatu. Novel! Novelnya ketinggalan di kantin! Sebenarnya ini bukan soal novelnya, tapi masalahnya ada rahasia didalam novel itu.
"Ehm.." Nana menengok ke belakang.
"Kamu mau masuk atau keluar? Atau mau disini saja jadi pintu?"
"Hehe... maaf bu, saya mau masuk" Nana berjalan gontai ke bangkunya.
"Lin kantin yuk, novel gue ketinggalan di kantin"
"Hah? Mana boleh, kalo doi lagi nerangin gini gaada yang namanya izin-izin"
Nana menggigit bibir bawahnya 'gimana kalo diambil orang, gimana kalo... Alvaro! Gawat kalo Alvaro yang songong itu baca trus gue diejek-ejek gimana' batin Nana. Nana menopang dagunya dengan satu tangan, Bu Sarah yang sedari tadi menjelaskan pelajaran tak didengar sama sekali olehnya.
Ide gila tiba-tiba terlintas dikepalanya.
"Lin lo bantuin gue ya"
Brukk! Suara tubuh terjatuh ke lantai.
"Nada! Eh tolongin dong!" Teriakan Lina terdengar panik. Karena tempat duduk Abrar tepat dibelakang Nana ia langsung membopong tubuh Nana.
Tak berapa lama saat masih dikoridor mata Nana terbuka.
"Eh turunin gue!"
"Elo cuma pura-pura doang?!" Perlahan tubuh Nana diturunkan.
"Sorry deh udah ngrepotin lo, barang gue ada yang ketinggalan di kantin, karna selama pelajan gaboleh izin ini cara satu-satunya"
"Sebenernya gue juga bored sih dikelas"
"Haha... Gue kantin dulu ya, btw thanks"
"Eh gue ikut lo deh"
Mereka berjalan beriringan menuju kantin.
"Pak tadi liat Novel di meja itu ngga? Atau ada yang nemuin gitu?"
"Wah ngga ada neng"
"Ooh yaudah pak, makasih"
Nana berjalan meninggalkan tempat itu tanpa membawa novel yang ia cari.
"Yaudah sih, novel doang tinggal beli lagi"
"Lo ngga tau sih itu novel isinya apaan"
"Yah, emang gue ngga tau!"
"Yauda diem"
"Tau gini gue ngga tolongin lo tadi"
"Bodo! Lagian masih banyak yang mau nolongin gue"
"Banyak apaan, banyak yang bengong doang iya! Mereka pada ngeri kali secara badan lo berat banget"
"Eh rese banget sih! Masa sih gue berat"
"Berat! Parah, ampe pegel nih gue"
Nana menggerak-gerakkan kepalanya dan mulutnnya seolah menirukan Abrar yang berbicara. Sedang Abrar hanya tersenyum melihatnya.
"Trus sekarang balik ke kelas lagi?"
"Iyalah, kemana lagi"
"Yang ada Bu Sarah curiga sama lo"
"Yah bilang aja gue udah sembuh"
"Trus kalo doi ngga percaya dan dia tau lo boong gimana?"
"Trus kemana dong? Taman? Perpus? Ngantin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Roman pour AdolescentsKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
