"Nad?"
"Hmm?"
"Beneran lo gapapa?"
"Emangnya gue kenapa sih Lin?"
"Yaudah kalo belum mau cerita, gue bingung aja lo akhir-akhir ini jadi aneh, eh, enggak, bukan cuma elo, tapi kalian bertiga, elo, Alvaro, Abrar. Gue ambil snack dibawah dulu ya"
Nana hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, lalu mengangguk
Seperginya Lina dari kamarnya, Nana memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya, sebulir air matanya jatuh kembali,
"Lin, gitar gue disini ya?" Tiba-tiba suara khas itu menelusup dari pintu kamar Lina yang tiba-tiba terbuka, cepat-cepat Nana menyeka air matanya.
Awkward!
"Emm, Lina dimana?" Ucap Alvaro ahirnya setelah ia berdiri mematung di pintu beberapa detik
"Dibawah" suara Nana sudah hampir seperti suara anak tikus yang berdecit, sangat kecil.
Lalu Alvaro melangkahkan kakinya, tidak, dia tidak melangkah pergi, ia masuk ke kamar Lina dan duduk di depan meja belajar Lina
"Selamat ya" katanya sambil menundukkan kepala
Nana memutar kepalanya dan melihat Alvaro dengan dahi berkerut, namun hanya sekilas, setelah Alvaro mengangkat wajahnya dan pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat Nana mengalihkan wajahnya.
"Iya, lo... Sama Abrar. Jadian kan?" Tanyanya dengan alis terangkat sebelah
Nana memutar kepalanya kembali, lengkap dengan dahi berkerutnya, Nana menggelengkan kepalanya
"Serius?"
Nana hanya manggut-manggut
"Lo nggak jadian sama Abrar? Serius? Kenapa nggak ngomong dari kemarin?"
Ini maksudnya Alvaro apa sih?
"Ro..." Akhirnya suara serak itu keluar juga, iya, serak. Entahlah kenapa tiba-tiba suara Nana nggak bisa normal gini
"Emm, ya?"
Nana diam
"Alvaro Cakrawala. Cakka, kenapa lo nggak bilang sama gue?" Suara Nana bergetar
"Na... "
"Gue minta maaf, gue minta maaf, gue minta maaf Ro... " dan bulir itu sudah tidak dapat Nana bendung lagi. Alvaro memeluknya "Gue udah maafin lo kok Na" ucap Alvaro sambil mengusap rambut Nana
"Itu juga bukan kesalahan lo kok, emang udah takdirnya"
Alvaro melepas pelukannya lalu tersenyum pada Nana, senyum yang sangat tulus
"Maafin gue" kata Alvaro
"Maaf?"
"Gue udah ngelukain lo sampe segini, lo jadi takut hujan, bahkan lo takut sama gue"
Nana hanya diam, jujur, seperti masih ada sekat antara ia dan Alvaro
"Gue beneran udah maafin lo kok, udah sejak pertama kita ketemu lagi"
"Lo udah tau gue Nana sejak awal ketemu?"
"Iya"
"Alv-aro... Kak Ratu juga-"
"Kenapa nggak manggil gue Cakka? Gue suka lo, manggil gue Cakka"
'Huft, padahal udah deg-deg an, kirain suka sama gue, kenapa ngomongnya pake jeda segala sih? Jadi baper kan!'
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Fiksi RemajaKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
