Ini masih sangat pagi, Nana tak mengerti kenapa ia bisa berangkat se pagi ini, ya walaupun sudah ada anak-anak yang berangkat tapi ini masih terlalu sepi.
"Emm... Alvaro, ntar gue pulang bareng lo lagi kan?" Tanya Nana setelah turun dari motor, Alvaro hanya melihat Nana sekilas dengan wajah datarnya.
"Lo takut pacar lo marah ya? Tapi gue bener-bener gatau jalan pulang.."
"Hemm" ucap Alvaro singkat. Banget. Bahkan, itu bukanlah ucapan.
"Hem? Hem itu apa? Lo cuma berdehem ato lo mau nganterin gue pulang? Irit banget sih kalo ngomong"
"Iiiyaaa.. Gue anterin lo pulang. Nana"
"Udah gue bilang jangan panggil gue Nana!" ujar Nana bersungguh-sungguh
"Knapa emang?"
"Karenaaa.. Emm.. Gasuka aja!"
"Kenapa emang gasuka?"
"Ih kepo banget sih lo, kalo gue bilang gasuka dipanggil Nana yaudah nurut aja!" ucap Nana lantang hingga mereka menjadi pusat perhatian, eh tapi memang mereka sudah menjadi pusat perhatian sedari tadi.
"Trus kalo gue bilang gue suka manggil Nana gimana? Berarti lo juga harus nurut aja"
Nana menirukan kata-kata Alvaro tanpa suara dengan gaya yang dibuat-buat. Lucu, nge-gemesin. Itu yang ada difikan Alvaro sekarang.
"Lo sejenis player yang suka tebar pesona ya disini?"
"Atas dasar apa lo ngomong gitu? Dan tebar pesona? Tanpa gue tebar, pesona gue udah memancar sendirinya"
"Tuh liat, pasti mereka para korban modus lo, yekan? Gue ngga muna sih, lo emang ganteng, tapi lo pasti badboy yang cewe nya segudang trus suka matahin hati cewe, trus.."
"Stop!" potong Alvaro "gue sama sekali gapernah ngelakuin apa yang udah lo tuduhin ke gue, ngomong-ngomong makasih udah bilang gue ganteng. Lo juga cantik"
baru Nana membuka mulut teman Alvaro sudah nimbrung diantara mreka.
"Selingkuhan lo Ro?" tanya teman Alvaro, sontak Alvaro menoyor kepala Reza, temanya Alvaro.
"Selingkuh itu bukan gue banget"
"Ohh oke kalo gitu, haii nama kamu siapa?" tanya Reza ke Nana sok manis.
Varo mendekatkan mulutnya ke telinga Reza "Haha.. kamu, hahaa jijik za!"
"Apaan sih ro, bisa-bisa budek tau ngga!"
Nana tersenyum ke arah Reza "Nada" ucapnya kemudian.
"Gue Reza, lo kelas berapa? Dan lo siapanya Alvaro? Ade nya? Kalian mirip sih, tapi lo kok ngga pernah crita Ro kalo punya ade secantik ini" cerocos Reza
"Ngomong satu-satu biar bisa di cerna manusia" sahut Alvaro
"Jadi lo kelas berapa?"
"Gue murid baru, kelas 10" tak ketinggalan senyum 3 jarinya.
"Pagii sayang!" Tiba-tiba terdengar teriakan seorang gadis tak jauh dari mereka, Nana melihat dua cowok di sampingnya bergantian, 'ohh, Alvaro..' Batin Nana.
"Pacarnya Alvaro?" Tanya Nana pada Reza, setelah Alvaro & pacarnya melenggang pergi.
"Jadi lo bukan ade nya Alvaro?"
"Siapa juga yang bilang gue ade nya dia, dia pacar Alvaro?"
"Iya, Cinta pertama."
"Ohh.." Nana meng-angguk-anggukkan kepalanya.
"Gue ke kelas duluan ya" ucap Nana melambaikan tangan dan tersenyum simpul.
"Manis bangett.." Gumam Reza sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di kelas.
Nana berjalan lurus menuju bangkunya, bangku tengah paling belakang dan sendirian, senyumnya tak pernak lepas dari wajahnya.
"Eh anak baru!"
Nana menengok ke asal suara itu, ia memasang wajah datar "Nama gue Nada" diikuti senyumnya.
"Iya whatever siapa nama lo" Lalu gadis itu menghampiri Nana dan menarik bahunya.
"Mulai hari ini dan seterusnya lo duduk di disini sama dia, oke?"
"Kok gitu Lit? Trus lo duduk dimana?"
"Udah nurut aja knapa sih? Gue duduk di belakang"
Nana hanya memperhatikan dua orang yang berwajah sama persis itu bergantian, Nana senang sih akhirnya dia punya teman sebangku.
"Haii gue Nada" ucap Nana setelah ia duduk dan mengulurkan tanganya.
"Iya gue udah tau, kemaren lo udah kenalan kan di depan" ucap gadis itu diakhiri dengan senyum simpul.
"Maksud gue, gue kan belum tau nama lo"
"Ooh, sorry-sorry gue Lina" Lina mengulurkan tanganya dan langsung disambut Nana.
"Nada, eh yang tadi kembaran lo?"
"Iyaa, dia Lita kembaran gue"
"Pasti seru deh punya kembaran gitu, ada temen main, jalan, curhat" ucap Nana sambil membayangkannya.
"Ngga juga sih, kita selalu di banding-bandingin sama orang dan gue gasuka" ucap Lina dengan wajah cemberut, dan bel masuk yang berbunyi membuat wajahnya makin cemberut.
"Yaahhh fisika" keluh Lina.
"Lo gasuka fisika? Haha" sahut Nana.
"Gue perlu bekerja keras baru gue bisa ngerti, ditambah gurunya yangg... Ahh ntar lo liat ndiri aja deh"
"Haha, jadi penasaran gue gurunya kek apa" Dan tak lama pintu terbuka menampakkan cewe cantik, berambut blonde sepinggang dan seragam putih abu-abunya nampak sangat pas di badannya. Tunggu, putih abu-abu? Berarti dia bukan guru fisika dong?
"Ehm, Gue disuruh ama pak Bima buat ngasih tau kalian kalo hari ini bu Desi gabisa ngajar, trus kalian disuruh ngerjain halaman 46" Kata gadis itu penuh percaya diri, iyalah pede orang cantik banget gitu. Ngga ada yang sorak-sorak norak jamkos, mungkin semua tersihir sama gadis itu.
"Uda itu doang kak?" Tanya gadis berkacamata yang duduk di bangku paling depan.
"Iya itu doang ko, oke gue permisi ya" Ucapnya sembari melangkah keluar kelas.
"Gila-gila cantik banget pacar abang gue" cletuk Lina.
"Itu pacar abang lo? Lo ade nya Alvaro?" Tanya Nana kaget.
"Iya dia kaka tiri gue"
"Ooh... " mulut Nana membentuh huruf 'O' sambil mengangguk-angguk.
"Ga salah kalo namanya Ratu, dia emang kek Princess" puji Lina
"Ratu?" Wajahnya agak mirip sih, tapi uda lupa juga sih. Gumam Nana dalam hati.
"Iya, Ratu Maharani"
"Rat-tuu... Maharani?" Nana benar-benar kaget, apa dia Ratu yang dulu? Tapi kalo diingat-ingat semuanya nyambung, apa jangan-jangan Alvaro yang tadi adalah Alvaro Cakrawala? Tapi di sekolahnya yang dulu juga banyak yang namanya Alvaro.
"Woy lo knapa sih" tepukan dibahunya membuat Nana kembali sadar.
"Emm, gapapa ko. Bagus aja namanya" ujar Nana lalu memberikan senyumnya.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
•-• Revisi soon, maafin dulu typonya •-•
15 Agustus 2016 | 9:37 AM
💞Na.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Teen FictionKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
