Nana berjalan entah kemana, kakinya sudah sangat pegal ditambah dinginnya malam yang menusuk tulang, ia lapar juga sebel. Ia tidak mau mengikuti Alvaro yang masuk ke Restoran cepat saji yang mereka tuju tadi, karena ia terlanjur kesal dengannya.
Akhirnya ia menemukan pedagang kaki lima, bayangkan saja ia belum makan sejak tadi pagi, trus harus berjalan lumayan jauh untuk mencari makan. Untungnya tidak ramai, hanya ada satu orang pembeli yang menunggu pesanannya.
"Pak nasi goreng satu ya.." ucap Nana setelah itu ia duduk.
"Pake telor apa nggak neng?"
"Pakek, jangan terlalu pedes ya pak" sebenarnya Nana suka nasi goreng pedes, tapi karena ia belum makan sejak pagi yang ada perutnya perih kalau langsung makan pedes.
"Ooke"
Nana menopang dagu dengan tangan kirinya, sedang jari-jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk ke meja, ia benar-benar sudah tak sabar untuk makan. 'Tau gini mending masak nasi goreng sendiri tadi di rumah'.
Dan tak berapa lama akhirnya nasi gorengnya datang, tanpa babibu ia langsung menyantap nasi gorengnya.
"Minumnya apa neng?"
"Es teh anget pak"
"Es kok anget sih neng?"
"Eh, maksudnya teh anget pak. Maklum pak akibat kelaperan gini nih" ucapnya disela-sela ia mengunyah nasi gorengnya.
"Ooh, kelaperan ya neng? Enggak tambah lagi?"
"Sa ae si bapak, yang ini aja belom abis, yaudah tambah telor ceplok deh pak"
"Okee"
Nana menyeruput teh hangatnya dengan santai sebelum ia ingat kalau dia tidak tau arah pulang, dia juga tidak membawa hp nya.
Lalu Nana bangkit dan membayar, setelah itu keluar dan dia bingung harus berjalan ke arah mana. Nana mencoba mengingat-ingat jalan yang ia lewati tadi namun selalu gagal, ia benar-benar tidak ingat.
Ia menyipitkan matanya, menegok kanan dan kiri beberapa kali lalu memilih untuk berjalan ke kanan.
"Right! Pasti bener, kalau ngga bener bukan right namanya" ucapnya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Ia tidak sedang mencari jalan pulang, Nana mencari restoran tadi, kalau pulang jalan kaki nggak kebayang rasanya kaya apa.
Tapi setelah berjalan cukup lama Nana tidak kunjung menemukan tempat itu.
"Apa gue pulang ke Bandung aja ya? Tapi kunci rumah Eyang kan ada di rumah Jakarta.." ucapnya saat melihat taxi yang melintas
Lalu ia melanjutkan perjalanan tanpa arahnya, sebuah ide terlintas dipikirannya.
Dia segera berlari ketika melihat warnet.
"Kenapa ngga kepikiran dari tadi sih" ucapnya sambil membuka instagram milik nya, lalu men-search user name kakaknya. Setelah itu mengirim dm pada kakaknya untuk menanyakan alamat rumah Alvaro, dan merapalkan alamat e-mail yang tertera di bio.
"Semoga lo cek ig ato e-mail deh kak"
Lalu ide nya datang lagi, buat jaga-jaga kalau kakaknya tak sempat membuka ig/e-mail, ia mengirim dm untuk Lina.
Sudah 45 menit ia menunggu respon dua orang tersebut namun tak kunjung ada balasan DM ataupun e-mail.
Lalu ia membuka twitter dan mentwit sesuatu.
Pangeran, jemput Nada dong, pake kuda putih. Princess mu kesasar :'(
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Ficção AdolescenteKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
