Nana tersenyum dibalik jendela kamarnya, ia tersenyum mengingat hujan di bulan September 8 tahun lalu, saat ia masih 1 SMA, Hujan terakhirnya Bersama Alvaro.
"Delapan tahun, dan aku masih memikirkanmu"
Lalu ia beranjak dan mengambil Pink Diary nya dan menuliskan sesuatu disana.
Sekarang aku terlalu menyukai hujan
Aku suka setiap perciknya
Yang terbawa angin
Dan menyentuh wajahku dijendela kamar
Aku suka suara gemerciknya
Yang seolah mengalir ditelinga
Aku suka sifatnya
Yang rela berkali-kali terjatuh untuk bumi
Aku suka
Karena kini
Tinggal aku dan Hujan.
Nana tersenyum dan menghela nafas sambil menatap tulisanya, Satu hal yang sampai saat ini ia tak mengerti, kenapa hujan selalu mengambil orang yang ia sayangi? Tidak, Nana sudah tidak membenci hujan, terlalu membenci akan membawamu untuk mencintai, dan itu yang Nana rasakan, ia sekarang mencintai hujan. Nana mencintai hujan karena hujan menghantarkannya dalam kemandirian, walaupun sebenarnya hujan menghantarkanya dalam kesendirian dan kesepian.
Ia menyimpan diary nya ke dalam laci, lalu duduk lagi menatap hujan. Tangannya terulur menyentuh setiap bulir yang terjatuh, ia memejamkan matanya, ini seperti de-javu ia teringat saat pertama kalinya tangannya terulur menyentuh hujan setelah mengalami phobia itu, ia masih teringat betapa hangat tangan yang membimbingnya untuk menyentuh hujan, mengalahkan dinginnya hujan, ia teringat betapa hangat pelukan Alvaro saat pertama kalinya mereka bertemu, ia teringat drrttt... Drrrtt getaran handphone nya diatas nakas membuyarkan lamunannya.
Ia menghela nafas setelah membaca isi pesan dari Clara (Mantan karyawan di butiknya), Clara sudah sms seperti ini mungkin 5 kali, Clara bilang kalau Nana harus menunggunya, ia akan kerumah Nana segera, jangan ke bandara dulu, karena Clara masih ada urusan sebentar.
Padahal Nana masih akan ke bandara sekitar 2 jam lagi, tapi Clara sudah ribut dari tadi, eum... Dari kemarin-kemarin juga sih, Clara sangat menyayangi Nana layaknya kakak kandungnya sendiri.
Saat masih kuliah Nana sudah membuka butiknya sendiri, tiga tahun merintis karir di Paris Nana memutuskan untuk pulang, dulu ia merasa tak ada yang bisa ia rindukan dari Indonesia, namun ia salah, Indonesia adalah rumahnya, selalu ada perasaan rindu, tapi apa yang sebenarnya ia rindukan? Indonesia atau Alvaro? Entahlah, Nana juga tak tau, yang pasti ia rindu hujan disana, dan ia berharap kali ini hujan akan menyatukan bukan memisahkan.
Ting tung... Nana beranjak untuk membukakan pintu, benar dugaannya, Clara.
"Apa barang-barangmu sudah kau siapkan?"
"Sudah, ini tinggal berangkat"
"Bajumu? Ah, sepatu mu? Atau gelang? Ah, foto Alvaro?"
Clara memang sudah tau tentang Alvaro, dan dia juga tau di dalam laci samping tempat tidur Nana ada beberapa lembar foto Alvaro yang Nana ambil secara diam-diam
"Sudah semua Clara"
"Huhh... I will miss you"
Selanjutnya mereka berpelukan.
.
Sesampainya di bandara Nana melihat mata Clara mulai berkaca-kaca lagi.
"Sudahlah Clara, kalau kamu menangis bisa-bisa aku ngga jadi naik pesawat"
"Memang itu yang ku inginkan" Ucap Clara sambil menyeka air matanya yang sudah luruh.
"Jaga butik nya baik-baik, kalau kamu sudah kaya dan kamu ngga ke Indonesia awas kamu"
Nana memang memberikan butiknya pada Clara, Nana terenyuh dengan kehidupan Clara yang jauh lebih buruk darinya, ia korban broken home dan Ibunya sakit-sakitan. Ayah Clara menghianati keluarganya, Nana pikir dihianati jauh lebih sakit dari pada ditinggal mati. Dan kondisi keuangan keluarga yang sangat buruk, hutang dimana-mana membuat Nana merasa iba dan berinisiatif untuk memberikan butiknya.
Clara ini lebih tua 1 tahun dari Nana
"Pasti aku akan ke Indonesia"
Lalu mereka berpelukan lagi sebagai salam perpisahan.
"Jangan nangis Clara!"
Clara masih menangis dalam pelukan Nana.
"Thank's for all, aku akan segera ke Indonesia"
"Sudah ku bilang, jangan bilang terimakasih!" ucap Nana sambil melepas pelukannya.
"See you!" ucap Nana sambil melambaikan tangannya.
"See you"
.
Nana menghirup nafas dalam-dalam, setelah 4 tahun tak menghirup udara di Indonesia, kini ia telah sampai di bandara.
Tujuan pertamanya adalah makam Ayah dan Ibu nya, karena kakaknya kini tengah ada urusan bisnis di Surabaya. Nana tidak tinggal di Jakarta, ia akan tinggal di rumah Alm.Neneknya, ia juga akan buka butik di Bandung. Nana sengaja tinggal di Bandung karena ia memang tak ingin keberadaannya diketahui oleh orang-orang yang ia kenal di Jakarta, terutama Alvaro.
Nana sudah bertekat untuk melupakan Alvaro sejak ia kembali menginjakan kakinya di Indonesia
Semuanya telah dipersiapkan olehnya sejak masih di Paris, ia sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah neneknya, dan juga butiknya, ia sudah membeli sebuah rumah dua lantai yang sudah direnovasi lantai bawahnya untuk ia jadikan butik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pertama
Roman pour AdolescentsKarena gadis itu manggil kamu Arka, dan kamu suka. Jadi aku manggil kamu Cakka biar kamu juga menyukaiku. - Nada Nadifa Nada Nadifa? Haha itu seperti dua nama orang, gimana kalo Nana? - Cakrawala
