•36• Make Me Feel Argh!.

533 27 10
                                        

"Kamu masih sering kesini?"

"Terakhir kesini pas gue tunangan sama Ratu"

"Berdua? Sweet banget"

Alvaro menggeleng, lalu melanjutkan makannya

"Ro, kamu boleh kok ngomong apa aja"

Alvaro terkekeh "Makan dulu, ngobrolnya ntar aja"
.

"Lo pacaran ya sama Abrar?"

Nafas Nana tercekat ditenggorokan, ia menoleh ke Alvaro yang duduk disamping kirinya, bagaimana bisa?

"Gimana bisa kamu mikir kaya gitu?"

"Padahal pertanyaan aku jawabanya se-simple iya sama enggak lo Na"
Lalu membaringkan dirinya

"Kalo aku bilang, semenjak aku hampir jadian sama seseorang sewaktu SMA lalu dicampakan, aku ngga pernah pacaran sampai sekarang kamu percaya?"

Telinga Alvaro sedikit panas mendengar perkataan Nana

Tak ada sahutan dari Alvaro
"Kenapa diem?"

Masih tak ada sahutan

"Maaf" akhirnya ada kata yg terucap dari mulut itu

"For?"

"Maaf" ulangnya lagi

"Maaf untuk apa Ro?"

"Karena udah nyakitin lo 9 tahun lalu, maaf karena aku ngga berusaha nyariin lo"

Nana tersenyum miris

"Maaf udah nyakitin lo lagi sekarang, dan maaf karena gue masih selalu menyukai lo"

Deg! Masih?

"Kamu bicara apa sih Ro? Kamu ngga inget bentar lagi kamu bakal nikah? Dan kamu malah ngomong kaya gini?"

"Maaf"

"Kamu mikir ngga kalo perkataanmu itu bakalan membuatku lebih sulit?" Air mata yg sedari tadi menggenang sudah tertumpahkan

Alvaro bangkit, kembali duduk disamping Nana dan berusaha menatap wajahnya yang tertunduk

"Kenapa kamu bertindak sesuka mu? Kamu ninggalin aku gitu aja 9 tahun lalu, dan sekarang dengan tanpa rasa bersalah kamu ngomong gini?"

"Maafin aku Na"

"Kamu nyadar ngga sih kalo kamu ini mempersulit keadaan?" Ucap Nana begitu lirih

"Tapi memang itu yang aku rasakan"
Jemari Alvaro menyentuh wajah Nana, mengangkat wajah tertunduk yg penuh air mata

"Dari sembilan tahun yang lalu sampai sekarang aku selalu menyukai mu, tak pernah berhenti"

"Udah cukup Ro, anterin aku pulang"

.

Teriakan dua laki-laki di ruang keluarga membuat Nana semakin jengah, konsentrasi yang berusaha ia kumpulkan sedari tadi buyar begitu saja.

"Kalian bisa ngga sih mainya yang anteng" teriak Nana sambil membanting pensil sketsa nya

"Nggak bisa dong Nad"

sahut Abrar sambil terus fokus main PS bareng abangnya Nana. Iya, Abrar main kerumahnya bareng sama abangya pagi buta tadi, setelah Nana berhasil tertidur satu jam karena sepulangnya dari rumah pohon ia tak bisa berhenti memikirkan Alvaro

"Kamu nggak usah sok sibuk dek, abang tau kamu ngga lagi gambar apa-apa, mending kamu tidur, semalam tidur berapa menit?"

Nana diam tak menanggapi, Kenapa abangnya jadi peramal gini?

Nana beranjak dari ruang kerjanya, berjalan menuju kamarnya.

.

Sudah 1 minggu semenjak malam itu, Alvaro sama sekali tak terlihat batang hidungnya, padahal Ratu hampir tiap hari kerumahnya, hari ini juga.

"Nad, gue pulang dulu ya abis ini mau ke airport jemput Alvaro"

"Emangnya Alvaro dari mana Kak?"

"Biasalah, si Workaholick ini tiap bulan pasti ke luar negri ngurusin bisnis"

"Ooh"

"Iya Nad, masa gue mau ngikut ngga boleh, padahal kan bisa sekalian prewed"

"Mungkin Alvaro takut ngga fokus Kak, lagian ntar kalo kakak ikut siapa yang jagain mamah?"

"Perkataanmu itu persis seperti alesanya Alvaro" gumamnya sambil menyambar tas selempang miliknya

Nana tersenyum

"Yaudah, mending kakak berangkat sekarang ntar Alvaro kelamaan nunggu loh"

"Lo ngusir gue Nad? Tapi... Sebenernya Alvaro ngga nyuruh gue jemput, dan biasanya dia ngga suka gue jemput"

"Mungkin dia takut kalo kakak kecapek an, mending ngga usah deh kak dari pada ntar malah berantem"

"Hm, gitu ya Nad? Gue juga ada janji mau nyalon sama temen gue si sebenernya"

Nana terkekeh sambil menggeleng
"Calon istri lo Ro, gini amat" ucapnya dalam hati

"Yaudah nyalon aja deh, ntar kalo kakak makin cantik kan Alvaro makin cinta"

"Ngga yakin gue" jawabnya pelan

"Yaudah, gue balik ya Nad"

"Iya kak, tiati"

"Okay, see you Nad!" Teriaknya setelah mencium pipi kanan Nana.

Nana membereskan jarum, kain dan alat jahitnya, lalu membuang napas.

"I need to shopping"
Ucapnya pada diri sendiri lalu mencepol rambutnya dan bersiap untuk mandi, langkahnya dihentikan oleh dering ponselnya.

Nama Alvaro tertera di ponselnya yang menyala, ia menggeser tombol hijau tanpa mengucapkan kata apapun

"Halo, Na?"

"ada apa Ro?"

"Lo dimana?"

"Depan kamar mandi"

"Pas banget"

"Ha?"

"Lo masuk, mandi, trus jemput gue ya?"

Nana terdiam

"Ok, gue tunggu Na"

"Selalu aja seeneknya" gumamnya sambil meletakan ponselnya lagi

.

"Kak Ratu tadi bilang pengen jemput kamu Ro"

"Sama gue juga haus Na"

"Ro, gue ngomong apa si?"

"Iya, gue juga belum makan, yaudah sekalian ke mall ya Na, gue mau beliin dasi buat abang lo lupa, ntar sekalian beli"

Nana melirik Alvaro membuang nafas dan menyenderkan tubuhnya gusar.

Alvaro melirik Nana sekilas sambil tersenyum, lalu mengacak rambutnya sambil masih fokus menyetir.

"Aku ngga paham sama jalan fikir kamu!"
"Sama Na, gue juga ngga paham"




•.•

4 April 2019 | 12:24 PM

Na.

Cinta PertamaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang