#2 - Ospek Singkat

8.8K 557 0
                                    

Tahun 2016.

Totalnya ada 3 hari. Sejak insiden kemarin, Kiran selalu apes. Belum cukup dia berjalan jongkok, rupanya dia kena makian Bram karena tidak hafal menyanyikan salah satu kebangsaan Mahasiswa. Dia dihukum, dipermalukan didepan ratusan Mahasiwa baru. Meski tidak sendiri, tetap saja itu hal yang paling memalukan. Kemarin. Tidak akan terulang lagi hari ini.

"Sial." Kiran merutuk dirinya lagi saat mendapati arlojinya sudah menunjukkan pukul 08.01. Kiran akan telat lagi, dia yakin. Gerbang Universitas barunya memang masih terbuka lebar, tapi belum tentu gedung aulanya. Senior gila itu pasti akan memakinya lagi.

Telat. Satu kata yang paling malas ia sebutkan. Kiran benar-benar mengulangi kejadian kemarin. Saat hitungan ketiga yang habis dan dia harus berjongkok hingga pahanya merasa nyeri. Name tagnya tidak lagi dipasang di dada depan, tapi dilempar kebelakang. Dia sedikit kesal karena Bram yang selalu menjadi cambuk menyeramkan berupa makian dan sentakan itu selalu memarahinya. Ganteng, tapi kalau berlagak macam senior sadis buat apa. Kiran tidak suka. Kecuali teman-teman barunya yang berasal dari SMA yang berbeda, mereka benar-benar menggilai Bram karena ketampanannya.

"Push up 20 kali. Cepetan!." Astagfirullah, Bram memang tidak ada henti-hentinya membuat MABA menjadi budak yang menurut. Dia selalu saja menghukum, meski kesalahan yang menurut Kiran masih bisa dimaafkan. Hanya mengambil nafas karena kelelahan menyanyikan lagu Mars Mahasiswa yang diulang hampir 10 kali membuat beberapa MABA benar-benar melakukan apa yang dia suruh, push up. Beruntung kali ini Kiran tidak ikut dihukum.

Aula yang pengap. Pintunya sengaja ditutup rapat. Lampu dinyalakan sebentar, seorang cewek berambut cepak menyampaikan sesuatu disana. Entah, Kiran tidak terlalu jelas mendengar karena dia berdiri dibarisan paling belakang. Almamater berwarna biru muda dengan lambang didada sebelah kiri khas Universitas Geiro dibuka paksa. Semua senior yang berdiri disekitar ratusan MABA juga membukanya, mungkin kegerahan. Iya. Aula ini benar-benar pengap karena tidak ada AC, hanya beberapa kipas super yang mengebul keseluruh ruangan.

Renungan disiang bolong. Serius. Iya, hal ini benar-benar terjadi dihari terakhir OSPEK. Lilin yang jumlahnya ratusan sudah dinyalakan sejak tadi. Semua MABA duduk diteras aula dengan keringat sejagung-jagung, termasuk Kiran yang sudah mengelap keringatnya ratusan kali karena gerah. Segala lampu pake dimatiin lagi, kan gelap, makin gerah. Batin Kiran sedikit kesal. Dua bahu temannya menempel di bahu kanan kirinya, membuat baju putihnya menjadi sedikit berkeringat.

Tema renungan, IBU. Bayangkan saja betapa gerahnya ruang aula jika manusia yang jumlahnya ratusan didalam aula ini menangis. Allahuakbar. Rasanya Kiran ingin kabur sekarang juga. Dia juga kesal dengan dirinya sendiri yang juga ikutan menangis terisak, membuat tubuhnya dibanjiri keringat. Baunya, ampun! Untung saja masih berbau maskulin flower yang sengaja ia gunakan agak banyak tadi pagi.

Lampu kembali menyala. Pintu aula yang berjumlah 4 dibuka lebar. Sinar matahari masuk kedalam. Angin alaminya juga menerobos masuk. Lega. Helaan nafas beberapa MABA yang kelegaan membuat senior kembali beraksi. Tidak satu detikpun para senior itu membuat kelonggaran bernafas. Menyanyi lagu, lagi, sudah berapa kali putar. Entah, Kiran rasa pita suaranya sudah putus karena serak.

Bram berdiri disebelah Kiran. Heran, seniornya tidak ada yang lain. Kenapa selalu dia yang mendekati Kiran. Bosan, bukan, lebih tepatnya malas melihat wajah sok gantengnya. Kiran merasa bahunya disenggol oleh teman sebelah kanannya, Bram berdiri disebalah kiri.

"Ran, tuker dong." Bisik temannya yang bernama Sera itu.

Kalau bisa tuker deh ayo. Batin Kiran tidak berani menjawab karena Bram benar-benar berdiri tepat disebelahnya.

"Nyanyi yang bener lo!." Bentaknya membuat Kiran menoleh sedikit kearah Bram. "Apa." Kata Bram membuatnya kembali menatap kearah semula.

Perasaan gue udah nyanyi bener. Lagi-lagi Kiran hanya bisa membatin. Statusnya sebagai MABA membuatnya tidak bisa berkutik dan membantah. Perintah senior adalah yang paling diutamakan. Begitu kira-kira retorika yang terlalu muak untuk ia pahami.

Beberapa menit lagi. Dan semuanya akan berakhir. Perjalanan tiga hari OSPEK, rasanya bukan tiga hari lagi, tapi seminggu. Iya. Orang bilang 2016 sudah gak jaman OSPEK bulliying, buktinya. Senioritas masih merajalela. Itu tidak bisa dipungkiri.

Kiran bahagia, dia senang. Name tagnya akhirnya dilepas. Gerbang Univ. Geiro terbuka lebar. Rasanya dia ingin melesat sekarang juga. Pergi makan di cafe favoritnya dan menyuruh Haikal untuk menemaninya. Cerita panjang lebar tentang OSPEKnya sudah ia nantikan. Tentu, Haikal berstatus sebagai sahabatnya akan senang hati mendengar celotehannya.

Ngomong-ngomong, cowok kacamata hitam kemarin kok gak kelihatan. Kemana dia ya?.

***

Next.

Hai, KARAN [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang