#1 - Insiden

13.4K 683 3
                                    

Tahun 2016.
Ibu Kota Jakarta.

Persimpangan jalan opera yang padat. MACET. Jalanan ramai pada jam kerja seperti ini memang sudah biasa, kadang meski sengaja berangkat subuh, jalanan tetap saja padat. Belum lagi klakson mobil menyeru dimana-mana, semakin membuat emosi.

Cewek berambut kepang dua itu sejak tadi memainkan iphone-nya. Entah mencari playlist lagu, kadang juga hanya melihat lihat galeri. Headset putih terlihat menggelantung. Jendela mobilnya sengaja dibuka, tidak ada tanda-tanda mobilnya akan jalan. Sedangkan OSPEK di kampusnya akan dimulai beberapa menit lagi. Cewek itu mendengus kesal, tidak berusaha memaki pada supirnya, hanya sabar dengan keadaan. Mungkin itu sudah cukup, baginya emosi akan memecahbelahkan fokusnya.

Lirik demi lirik ia putar berulang-ulang. Lagu kebangsaan Mahasiswa yang ia telan mentah-mentah satu hari yang lalu, harus ia hafalkan dan diuji nanti. Iya, berstatus menjadi mahasiswa baru, tidak lengkap jika tidak mengikuti OSPEK. No Bully, tapi dikerjain sama senior. Sama saja.

Disini negeri kami,
Tempat padi terhampar,
Samuderanya kaya raya,
Tanah kami subur Tuhan. 

Totalnya ada dua lagu. Darah juang dan Buruh tani. Benar-benar baru kemarin cewek itu mendengar lagu macam demikian. Tapi harus dihafal dalam jangka waktu yang tidak sampai semalam. Mau bagaimana lagi, kalau tidak menurut, para senior gila itu pasti akan memakinya habis-habisan.

BRAAAKKKKK!!!

"Ada apa pak." Cewek itu kaget, tubuhnya sampai tersungkur kedepan.

"Ini neng. Bapak gak sengaja nabrak mobil depan." Ujar sopir itu.

Cewek itu mengeluarkan sedikit kepalanya keluar jendela. Menengok mobil didepannya dengan lototan mata. Yang punya mobil jezz itu keluar, lelaki paruh baya dengan tampang lesunya. Jalanan masih macet parah, tapi disisi pinggir jalan ini sedikit lenggang karena pinggiran jalan ini adalah selokan kecil yang ditutup batu-batu bata. Bapak itu menginjak bebas batuan itu tanpa takut terjatuh, Pak Kinot juga ikut turun dari mobil.

"Neng naik taxi aja ya, biar saya yang urus ini. Nanti neng telat, maaf ya neng." Pak Kinot membuka pintu mobil dan mempersilahkan cewek berkepang dua itu turun. Cewek itu hanya mengangguk, dia tidak berkomentar. Hanya memandangi lelaki paruh baya didepannya yang sejak tadi juga ikut memandangi dirinya. Kemudian pergi.

Tidak jauh dari sini ada lampu tiga warna, merah-kuning-hijau. Mungkin jika ia berjalan, dipersimpangan jalan sana tidak macet. Dan dia akan tepat waktu untuk mengikuti OSPEK. Semoga.

Cewek bernama Kirana Gumela Lafry yang biasa dipanggil Kiran itu menyondongkan tangannya, ingin menyetop taxi, tapi tidak ada yang berhenti. Persimpangan jalan ini sangat ramai, dia bingung harus bagaimana. Tidak ada yang berhenti, mungkin karena penampilannya yang sedikit gila. Baju hitam putih, rambut kepang dua, belum lagi dia menenteng topi kerucut dan tas dari karung. Oh! Name tag yang terbuat dari kardus menggelantung indah dilehernya, pantas saja tidak ada satupun taxi yang berhenti. Mereka mungkin benar menganggap gila Kiran.

Kiran melepas name tagnya, tali rafianya sedikit terbelit dirambut kepangnya. Saat berhasil terlepas, dia melihat ada bus mini berhenti diujung jalan. Beberapa orang naik, dan tunggu! Ada cowok berkacamata hitam disana, dia naik juga. Pakaiannya sama. Kiran langsung melesat, dia naik juga di bus mini itu.

"Univ Geiro ya bang." Ujar cowok itu yang berdiri tidak jauh darinya. Kondektur busnya mengangguk. Penumpang terus bertambah, tubuh Kiran menjauh dari cowok itu. Benar seperti dugaan, cowok itu ternyata satu kampus dengannya. Bahkan mungkin sama-sama di OSPEK. Kiran berfikir begitu karena gaya baju yang ia kenakan tidak beda jauh dengan yang cowok itu kenakan. Kiran mengangguk mantap. Setidaknya jika ia dihukum karena terlambat, ia tidak sendirian. Ada cowok itu, iya, meski dia tidak mengenalnya. Intinya dia dihukum tidak sendirian, itu saja.

---

"Baris yang rapi!."

"Kamu, pasang name tagnya."

"Heh kamu, cewek dibelakang. Gak niat nguncir rambut ya."

"Kamu, sepatu gak boleh warna warni. Besok ganti hitam."

"Kamu...."

Begitu kira-kira dengungan pagi yang harus Kiran dengarkan. Beruntung hanya telat, setidaknya perlengkapan lainnya ia tidak lupa dan tidak melanggar. Bukan, Kiran tidak takut sama sekali dengan senior itu. Hanya saja malas berdebat.

Bibir dengan lipgloss pink itu diulum. Matanya melirik kesana kemari. Cowok berkacamata hitam tadi tidak terlihat. Mungkin dibarisan ujung sana. Tidak bisa dibayangkan, bahwa yang telat banyak juga. Kiran kira hanya satu atau dua orang saja. Kalau begini sih tidak masalah.

"Kamu! Gak bisa fokus kedepan ya." Ujar senior cewek didepannya setengah berteriak. Matanya menatap Kiran, dan dibalas balik dengan tatapan oleh Kiran. Sedetik kemudian segera menunduk.

"Oke. Kalau gitu, kalian taruh tas kalian di aula. Kalau sudah balik lagi kesini. Saya hitung sampai 3. Satu.." Senior cowok blasteran arab itu mulai menghitung, hidungnya yang mancung dan wajahnya yang arab abis membuat beberapa siswi baru dibarisan depan melongo. Kiran sempat menyenggol siswi disebelahnya untuk menyadarkan, kemudian melesat kedalam gedung aula karena hitungan terus berlanjut ke angka dua.

Buukkkkkk!!!

"Aduh!" Pekik Kiran saat sadar dirinya terdorong jatuh, dia memandangi tengkuknya yang sedikit kegores dengan aspal. Belum sempat dia naik tanjakan untuk menuju aula, seseorang sudah menyenggolnya. "Cowok itu. Asssshh." Pekik Kiran saat menyadari cowok berkacamata hitam tadi pagi begitu saja berjalan mendahuluinya. Tidak meminta maaf, tidak juga menolongnya bangkit. Kesal, jelas. Dia masih tidak bisa melihat jelas wajah cowok dibalik kacamata itu. Entah bagaimana para senior itu membiarkannya memakai kaca mata hitam, Kiran tidak peduli, dikira pantai apa pake kacamata item. Batinnya kesal.

"Tiga!! Ayo cepat-cepat." Kiran segera berlari keluar gedung aula saat hitungan senior arab itu mulai habis. Tiga detik, waktu yang singkat dan gila. Bilang saja kalau mau ngerjain, tidak usah sok menghitung begitu. Toh akhirnya sebagian besar akan kena hukum lagi karena telat menaruh tas.

Benar saja. Jalan jongkok dengan kedua tangan dibelakang kepala. Jumlahnya ada 7 orang, termasuk Kiran. Dan cowok berkacamata hitam tadi, dia seenaknya jalan. Tidak ikut serta dalam acara jongkok dengan yang lain.

"Woy, jongkok kamu." Bentak si senior arab yang ternyata bernama Bram itu. Yang dibentak hanya melirik, dia tidak merespon, hanya melanjutkan jalan. Wajahnya super datar.

"Songong nih anak. Mentang-mentang anak yang punya kampus." Pekik senior cewek yang tadi membentak Kiran, dia menatap Bram dengan senyum tipis diujung bibirnya. Bram tidak melanjutkan aksi marah-marahnya lagi, dia hanya pasrah dengan cowok yang disebut anak pemilik kampus itu.

Oh, pantes. Anak yang punya kampus. Pantes!! Batin Kiran melanjutkan aksi berjalan jongkoknya. Sesekali dia mendongak untuk melihat cowok berkacamata hitam itu. Entah, sejak insiden mobil Kiran tidak sengaja menabrak mobil orang dan insiden jatuh sebelum masuk aula, membuat Kiran menjadi penasaran dengan rupa cowok itu.

***
Gak ngerti kenapa gue pingin buru-buru nge-publish ni cerita.

Pokoknya!


Bismillah. Part awal, semoga kalian suka ya. ^^

Hai, KARAN [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang