#8 - Bertemu lagi

5.9K 416 2
                                        

Tahun 2016.
Rumah milik keluarga Lafry.

Kamar bercat hijau daun terkena pancaran sinar matahari pagi. Jendela kamar Kiran dibuka lebar. Habis sholat subuh tadi dia langsung mandi dan duduk dibagan jendela kamarnya. Memandangi segala macam bentuk bunga kuncup maupun mekar ditaman belakang rumahnya. Kamar dilantai dua memang cocok untuk melihat situasi halaman belakang rumahnya yang rindang nan asri. Pohon berumur ratusan juga berdiri kokoh disetiap ujung halaman. Ada ayunan juga disana, ayunan jadul yang terbuat dari karet ban hitam. Jumlahnya dua buah. Ah, Kiran jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat benda itu membawanya dan Karan terbang melambung di angin.

Kiran menghirup nafas, melirik jam dinding didalam kamarnya. Beberapa menit lagi dia akan bersiap berangkat ke kampus. Jendelanya buru-buru ditutup, namun tirainya dibiarkan terbuka agar cahaya matahari masih bisa masuk kedalam. Kiran berjalan menuju lemari, membukanya dan memilih baju mana yang akan ia kenakan.

Tidak lama setelah itu Kiran turun kebawah. Menghampiri Enda, mamanya yang sibuk mengolesi rotinya dengan selai. Ada Lafry juga, papanya, disana sedang menyeruput kopi hitamnya seperti biasa, kebiasaan bapak-bapak pada umumnya.

"Kamu mau berangkat bareng papa?" Tanya Lafry akhirnya saat mengusap mulutnya dengan tisu. Sedangkan Kiran segera menggeleng.

"Pak Kinot lagi nganter Loe sekolah. Jadi kamu sama papa aja." Kata Enda kemudian duduk disebelah Kiran yang sedang menyeruput susu putihnya ditangan.

Loe adalah adik semata wayang Kiran yang duduk dibangku SMA kelas 1. Wajah dan sikapnya sama persis dengan Lafry. Rambutnya pirang asli dari lahir, entah, mungkin dia dapat keturunan dari eyang dan juga Lafry yang mempunyai rambut pirang juga. Eyang ini keturunan Belanda, ayah dari Lafry yang sekarang tinggal di Bandung. Sejak kecil Kiran memang tidak pernah tinggal bersama dengan Loe karena adiknya yang dibesarkan oleh eyang di Bandung. Loe kembali saat duduk dibangku SMP, katanya dia bosan di Bandung dan ingin tinggal saja bersama Enda dan Lafry juga Kiran di Jakarta. Kiran fikir dunia akan berubah dengan adanya Loe karena dia anggap rumah tidak sepi lagi dan ada teman diajak bermain. Tapi Loe sangat kaku, mungkin sama dengan watak Kiran yang dingin. Jadi menurut Kiran, suasana rumahnya sama saja. Sama seperti biasa. Sama-sama membosankan!

"Kiran naik bus aja." Ujar Kiran menyudahi acara makan paginya. Kakinya beranjak dan mencium tangan Enda dan Lafry bergantian kemudian langsung pergi.

---

Halte bus yang cukup ramai seperti biasa. Saat Enda bertanya kenapa harus naik bus padahal bisa naik KRL yang waktunya lebih singkat, Kiran menggeleng. Jarak komplek rumahnya dengan stasiun kereta memang cukup dekat, tapi Kiran tidak mau itu. Dia hanya ingin naik bus pagi ini, entahlah, mungkin Kiran ingin bertemu dengannya -Karan-.

Jeezzzz..

Pintu bus terbuka. Rambut Kiran yang tadinya sengaja digerai kini dikuncir kuda karena melihat penumpang bus yang padat. Gerah, pastinya dan Kiran tidak mau mengambil risiko berbau kecut ketika tiba di kampus. Kakinya melangkah masuk kedalam, kesela-sela penumpang yang rata-rata diusia ibu-ibu yang pingin kepasar, atau anak laki-laki SMA yang pastinya sengaja berangkag telat. Mungkin juga manusia berlebel Mahasiswa yang sama dengannya.

Bau maskulin yang sangat khas dan menusuk. Tunggu! Kiran hafal bau itu. Bau tubuh, Karan!!. Mata Kiran berbinar saat mendapati Karan yang berdiri ditengah-tengah anak SMA. Tangannya memegang kuat kursi penumpang, sedangkan tangan yang lain memainkan ponsel. Kiran mendekat, tapi tidak berani menyapa. Dia hanya memilih berdiri persis dibelakang Karan.

Bau maskulinnya semakin menyengat, harum dan segar. Rambut Karan sedikit basah, mungkin baru keramas. Baju yang ia kenakan kali ini bertema kasual. Ransel hitamnya diseret kedepan, sepertinya ingin mengecek sesuatu sesaat sebelum gantungannya menyangkut di gantungan milik Kiran yang digantung di slingbag-nya.

"Eh. So.. Kamu?" Karan sedikit kaget melihat dibelakangnya saat ini bertengger Kiran dengan tatapan datarnya. Sedangkan Kiran sendiri sudah memasang jantung bertekanan tinggi karena bunyi aneh mengalun disana.

"Sorry." Kata Karan lagi membenarkan pijakannya karena takut sopir bus mengerem mendadak. Tubuhnya kali ini berhadapan langsung dengan Kiran. Sial! Kiran buru-buru ingin pergi karena posisinya dirasa kurang tepat. Tapi mau bagaimana, didalam bus sungguh padat dan tidak bisa berkutik.

Akhirnya gantungan mereka berdua lepas. Karan membenarkan ranselnya dan urung mengambil sesuatu yang entah apa. Cowok itu memandangi Kiran yang terus memandanginya dengan datar, tanpa ekspresi.

"Kamu ada kuliah pagi." Tanya Karan yang langsung dibalas anggukan oleh Kiran.

Jeeezzzz...

Pintu terbuka, halte Univ Geiro sudah didepan mata dan Kiran tidak berkutik. Sementara itu Karan sudah ingin turun, sebelum akhirnya memanggil Kiran yang entah sejak kapan sudah melamun.

"Mela, turun." Serunya. Kiran buru-buru mengangguk dan memandang keluar jendela saat pintu bus ingin ditutup tapi terhalang oleh tangan Karan yang memainkan matanya agar Kiran ikut turun.

Setelah mereka berhasil menuruni bus yang notabennya sudah sedikit sepi karena banyak juga dari mahasiswa Geiro yang ikut turun, Karan bergegas pergi saat melihat arlojinya yang sudah menunjukkan jam kesiangan. Cowok itu tidak lagi memperhatikan Kiran yang sejenak merasa canggung, karena kali pertama namanya dipanggil oleh Karan.

Kiran berjalan tepat dibelakang Karan. Mengikuti gaya Karan yang kalau jalan suka menendangi batu kerikil, atau bahkan kaleng bekas yang sengaja dibuang oleh seseorang. Klontang. Begitu kira-kira bunyi kaleng bekas yang berhasil ditendang masuk kedalam bak sampah yang terbuat dari seng. Kiran memandang kagum, jelas, jaraknya menendang dengan bak sampah lumayan jauh dan itu langsung masuk dalam sekali tembak. Amazing!

Bbbukkkk!!!

"Aduh." Pekik Kiran saat kepalanya tiba-tiba menubruk benda empuk yang rupanya dada bidang seorang cowok. Kiran buru-buru mendongak, Mati!!

Kiran memalingkan wajah, membelakangi tubuh yang baru saja ia tabrak. Karan, astaga! Bagaimana bisa cowok itu berbalik tanpa aba-aba, dan berhenti seenak jidat. Kiran menggigit bibir pinknya yang kemudian diulum bingung. Dia benar-benar tidak berani menoleh karena takut suasanya jadi canggung.

"Ngikutin saya lagi?" Ujar Karan berhasil membuat Kiran gigit jari. "Mela, oi." Karan menepuk bahu Kiran pelan, setelah akhirnya Kiran menoleh dan menggelengkan kepalanya lalu bergegas pergi mendahului Karan.

Entah bagaimana ekspresi Karan saat ini, entah bagaimana benak Karan memikirkan Kiran saat ini, yang jelas Kiran hanya perlu sedikit berlari untuk menjauhi Karan. Malu!

"Oi Mela. Kamu salah jalan. Fakultas Seni disebelah kanan." Teriak Karan akhirnya membuat Kiran menulikan telinga dan tidak menghiraukan. Kenyataan bahwa dia bukan berasal dari fakultas seni memang belum diberitahu pada Karan. Untuk saat ini, biarlah!

***

Hai, KARAN [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang