Tahun 2016.
Kiran berjalan lurus, tidak menghiraukan lagi pertanyaan dari Karan. Mau bagaimanapun juga, Kiran belum siap untuk mengungkapkan jati dirinya pada Karan yang realitanya tidak mengingatnya sama sekali. Wajah anak-anak Kiran sewaktu kecil memang berbeda jauh dengan wajahnya saat ini.
Dulu dia kurus, wajahnya mungil kuning, imut dan cantik, rambutnya keriting, dan tubuhnya benar-benar pendek, meski sekarang juga tidak bisa dikatakan cewek yang tinggi. Setidaknya 167 cm sudah amat tinggi bagi ukuran cewek seusia Kiran. Wajah yang sangat berbeda karena saat ini Kiran bahkan lebih cantik, kulitnya putih bersih, rambutnya hitam pekat, lurus alami tanpa catokan, ujung rambutnya sedikit curly, dan dia langsing. Masalah kenapa dulu rambutnya keriting, entahlah, dulu dia hanyalah bocah ingusan yang didandani macam barbie oleh Enda yang notabennya pemerhati style parah, mungkin dijaman itu lagi trend rambut keriting. Jadilah Kiran sebagai bahan percobaannya. Sedangkan hal yang membedakannya saat ini adalah kadang dia mengenakan kaca mata minus, kadang juga hanya menggunakan soflens berwarna coklat pemberian dari Enda. Selain itu pipinya sekarang sudah tirus, tidak seperti dulu, cubby macam bakpao kukus.
Kiran memutar bola matanya, sesekali memikirkan Karan yang benar-benar tidak mengingatnya, dan itu menyebalkan. Kiran mendengus kesal, sembari mengeluarkan iphonenya didalam saku celana.
Line dari Gin
Ginara : Kiran lo dimana sih?
Ginara : Woy, udah mau masuk tau. Gue tinggal nih.
Ginara : Eh kampret. Gue cabut dulu sama Sera. Lo lama amat. Kemana dah?
Kiran buru-buru merutuki dirinya sendiri karena lupa kalau ada kelas pada jam ini. Layar iphonya digeser paksa kemudian dimasukkan kedalam sakunya.
Tidak lama kemudian dia sampai didepan kelasnya, kelas yang sudah hening karena dosen sudah tiba. Mata kuliah sistem informasi akuntansi dengan dosen killer, bernama Bu Ratna. Mati! Kiran menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bolos kelas, karena percuma saja, dosen macam Bu Ratna akan sangat marah jika mengetahui muridnya telat bahkan hanya beberapa detik saja. Itu cerita asal muasal Bu Ratna Kiran dengar dari Haikal, kalau tidak, dia pasti sudah nyelonong masuk dan kena marah. Amit-amit!
Kiran melangkahkan kaki keluar gedung. Dia memilih untuk duduk di gajebo sambil menikmati semilir angin yang datang dan pergi. Tidak ada headset, tidak ada cemilan, dan Kiran sungguh bosan. Cewek itu memainkan iphonenya kemudian mendapat ide untuk menyuruh Haikal menemaninya. Semoga sahabatnya itu sedang jam kosong.
Kiran : Kal, lo dimana? Gue bosen nih, lo kesini dah, gue di gajebo.
Tidak menunggu waktu lama, balasan dari Haikal langsung masuk.
Haikal : Wait!
10 menit kemudian.
"Woy." Seru Haikal langsung duduk disebelah Kiran.
"Lah, tas lo mana?" Tanya Kiran sadar akan Haikal yang kosong melompong tidak membawa benda apapun.
"Di kelas."
"Lah bege. Lo kenapa keluar kalau gitu?"
"Katanya lo bosen. Gue tau lo pasti minta gue temenin yakan."
"Ya kalau lo ada kelas gak usah kesinilah. Balik sanah?" Usir Kiran dengan tampang lesu karena tau bahwa Haikal tidak bisa menemaninya bolos.
"Balik kemana?" Tanya Haikal sembari membenarkan seletingnya yang turun. Saat Kiran tidak sengaja melihat, dia hanya berdesis sambil melototi pergerakan tangan Haikal.
"Kelas lo bege." Kiran menyipitkan mata memandangi beberapa orang mengarah ke gajebo.
"Ngantuk njir. Gue temenin lo aja dah." Katanya membuat Kiran menoleh.
"Jangan ikutan bolos deh. Abah lo ntar marahin gue lagi karena membawa pengaruh buruk." Kiran jadi sebal, dia memang selalu kena omelan abahnya Haikal. Memang sih, Kiran tidak pandai malah lebih kearah males parah. Nilainya juga gak bagus-bagus amat, standar. Tapi dia juga tidak bodoh yang akan membawa pengaruh buruk macam itu.
Kamu kebanyakan main sama Kiran. Jadi nilai kamu merah semua.
Kiran masih ingat saat dia menangis sesenggukan di cafe bersama Haikal karena pipi Haikal merah-merah kena tampar abahnya. Sedangkan Kiran kena tamparan hati. Huh! Mangkanya Kiran sudah tidak pernah main ke rumah Haikal lagi. Ya, gara-gara itu, takut diomelin sama abah Haikal yang galaknya gak pake mikir.
Kiran menopang dagu saat Haikal benar-benar pergi. Omongannya tentang abah pasti selalu berhasil membuat Haikal menuruti permintaan Kiran. Pecicilan begitu dia tetap taat perintah abahnya. Matanya memandang sekeliling dan berhasil tertohok karena beberapa orang tadi salah satunya nyempil seorang Karan. Mati! Ngapain dia kemari. Ah!! Kiran berusaha menutupi wajahnya dengan tegang. Kakinya dihentakkan lagi, sesekali terbentur menatap meja hijau gajebo. Kiran tidak mengaduh, dia hanya mengernyitkan dahi dan ingin pergi saja dari gajebo. Sebelum akhirnya kegep!
"Kamu lagi. Ngapain di fakultas manajemen?" Ketebak! Pasti pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut Karan. Kiran diam dan menunduk, bukannya takut, dia hanya tidak tahu harus jawab apa. Karan terlihat menarik nafas, dia menaruh pantatnya di kursi depan Kiran.
"Saya lagi ngajak ngobrol siapa sih." Karan menggaruk kepalanya yang Kiran yakin tidak gatal. Rambut rapihnya jadi sedikit berantakan. Kiran mendongak, menatap lekat-lekat Karan sambil menarik nafas.
"Aku anak manajemen." Jawaban Kiran berhasil membuat bola mata Karan berputar untuk berfikir.
"Bukan anak Seni?" Tanya Karan lagi, kemudian dijawab oleh Kiran dengan menggeleng. "Gitu.." Karan manggut-manggut, menggaruk kepalanya lagi.
"Lagi gak ada kuliah?"
"Ada."
"Kok.."
"Telat masuk." Kiran jadi lesu lagi. Entah kenapa ekspresi wajahnya sudah tidak sekaku tadi.
"Pasti gara-gara ngik.."
Kiran buru-buru memotong sebelum Karan melanjutkan. "Bu.. bukan kok." Kiran menyeringai. Hah! Yang benar saja, ekspresi itu langsung dibuang cepat-cepat, takut Karan berfikir Kiran cewek aneh.
Karan terkekeh, dia berdiri. Kiran juga reflek berdiri dengan tatapan bingungnya.
"Saya pergi dulu ya." Ujar Karan pamit. Kakinya melangkah pergi. Dan tidak ada jawaban lagi selain Kiran yang hanya senyum-senyum sendiri macam orgil baru. Orgil = Orang Gila.
Semuanya berkat gue bolos kelas.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Hai, KARAN [COMPLETE]
RomanceDua manusia dimasa kecil yang sama. Dan dipertemukan secara tidak sengaja didunia perkuliahan. Pertemuan pertama dengan insiden. Pertemuan selanjutnya dengan misterius. Manusia berjenis laki-laki yang lupa. Manusia berjenis perempuan yang masih inga...