#28 - Karan Home

5K 365 0
                                    

Tahun 2007
Ingatan Karan

"Karan awas jatuh ih."
...
"Karan hati-hati mangkanya."
...
"Yah, hansaplas aku abis. Aku minta ke Om Traf dulu ya. Tunggu sini!"
...
"Kiran cuma mau main sama Kamu. Gak mau main sama yang lain ah, nakal."
...
"Satu-satu, kami ini teman. Dua-dua, kami ini nakal, haha. Tiga-tiga, Karan paling nakal. Satu dua tiga, Karan Karan jelek. Ble.." 

"Salah, yang bener tuh gini. Tiga-tiga Kiran paling nakal. Satu dua tiga, saya suka Kiran.. hihihi"

"Masih kecil ih. Bilangin om Traf nih. OM..."
...

---

Tahun 2016.

Satu minggu telah dilalui oleh Kiran tanpa jeda bersama Karan. Entah itu membawakan sarapan untuk Karan, atau mendatangi Karan ke Fakultas Seni. Semua yang dilakukan Kiran, baik terlihat maupun tak kasat mata. Sebut saja Kiran penguntit, dia tidak peduli. Karan baginya adalah sudah kembali normal setelah seminggu ini, meski kenyataannya Karan masih tidak mengingat betul siapa Kiran, atau nama aslinya sekalipun. Karan tetap memanggil Mela padanya, Haikal juga jadi kebiasaan. Cafe Roger jadi sering dijadikan tempat nongkrong oleh Kiran dan Karan, kadang-kasang Haikal juga ikut datang jika sedang tidak malas melihat Kiran dan Karan yang sepertinya selalu menonjolkan sikap saling mesra atau apapun itu yang membuat Haikal gigit jari dan memilih pergi.

Well, kali ini Kiran diajak ke rumah Karan. Bertemu Windri, tentu menjadi sebuah kekagetan tersendiri bagi wanita paruh baya itu melihat Karan sudah akrab betul dengan Kiran. Atau paling tidak Ine yang saat itu sedang berada di rumah dibuat bingung juga, karena kenyataannya selama ini Karan tidak pernah membawa seorang wanita datang ke rumah. Jino, lelaki itu selalu pergi bertugas di luar kota.

"Tante, maaf sudah mengganggu. Boleh saya minta tolong?" Kata Kiran akhirnya setelah melihat Karan pergi, katanya untuk ganti baju, gerah.

Saat ini Windri sedang duduk di sofa depan Kiran. "Boleh nak Kiran." Katanya.

"Tolong panggil saya dengan nama Mela ya, tan." Ujar Kiran membuat dahi Windri berkerut.

"Loh kenapa? Bukannya Karan sudah tau kamu."

Kiran menghela nafas, tatapannya jadi kesal sendiri sebelum akhirnya dia menggeleng. "Belum tan."

Windri nampak kaget, duduknya agak dibenarkan untuk lebih melongok kearah Kiran. "Kirain saya Karan sudah tau siapa kamu." Windri juga menghela nafasnya yang sedikit berat. "Maafkan Karan ya. Dia sebenarnya memang mengalami gangguan ingatan sedikit." Jelasnya.

Kiran mengangguk. Dia sendiri sudah tau perihal ingatan Karan dari mamanya, Enda. Amnesia, bukan. Karan tidak amnesia sama sekali, dia hanya terlalu banyak berfikir tentang meninggalnya Giotraf, tentang apa yang tidak seharusnya dia fikirkan diusianya dulu yang dibilang masih kanak-kanak. Windri pergi tanpa kabar, itu karena Karan merengek ingin pergi menemui ayahnya, Karan kecil masih tidak terima dengan kepergian Giotraf. Sehingga Windri memutuskan untuk pergi ke Jino, membiarkan Karan berfikir bahwa Jino adalah ayah kandungnya, tanpa pamit itu karena dia tidak ingin membuat Karan merasa tertekan dengan ingatannya yang berhubungan dengan Giotraf. Termasuk keluarga Lafry, Enda, serta Kiran. Sekali lagi Karan tidak amnesia, dia hanya mengalami sedikit gangguan ingatan dan harus segera dipulihkan. Tapi Kiran takut, jika Karan ingat dirinya, itu berarti dia akan ingat Giotraf dan segala kesedihannya. Kiran tidak mau itu, ia ingin tutup mulut, kalau bisa selamanya.

Windri sempat kaget saat melihat respon Kiran yang rupanya tau segala hal mengenai Karan. Saat akhirnya Windri mengerti dan mengangguk, "tolong jangan terlalu memaksanya untuk mengingat ayahnya lagi. Karena itu akan menyakitinya. Saya percaya ke kamu, Kiran." Katanya lalu berakhir pergi meninggalkan Kiran yang termangu sendirian di sofa.

Hai, KARAN [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang