Suara Karan

5.1K 301 3
                                    

Saya gak tau bagaimana saya mulai mencintainya, saya juga gak tau bagaimana saya bisa melihatnya sebagai sosok yang saya kenal dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saya gak tau bagaimana saya mulai mencintainya, saya juga gak tau bagaimana saya bisa melihatnya sebagai sosok yang saya kenal dulu. Padahal dia sempat berbohong tentang namanya, tentang siapa dia, dan tentang segala hal tentang dirinya. Hanya saja, meski saya lupa dia, saya tetap merasakan sesuatu yang beda.

"Heh, Mela."

"Ish apasih kamu."

"Hehe."

Saya suka saat menggodanya dengan nama Mela, karena saya fikir itu akan menjadi kenangan pertama kali kami bertemu di bus yang mengangkut kami pergi ke kampus. Meski saat itu saya benar-benar tidak ingat siapa dia, tapi dia cukup mencuri perhatian saya saat itu. Saat mobil kami tabrakan, saya sempat melihatnya, dia cantik, dan memang sedikit angkuh. Saya fikir saya tertarik dengan cewek macam dia.

"Kamu cantik."

"Emang, udah dari dulu."

"Tapi bawel."

"Ish kamu mah.."

"Hehe."

Saya tertawa lagi, karena hal yang paling saya senangi adalah rupanya dia tidak seangkuh dan sependiam yang saya fikirkan. Dia bawel, sungguh, saat bang Haikal bilang kalau dia akan bawel sampai hari pertama bulan ke 4, nyatanya, saya sudah mendapati kebawelan Kiran tidak sampai sebulan. Ya, mungkin karena dia sudah menjadi teman saya sejak kecil.

"Eh, sepatunya jangan dibuang-buang."

"Iya elah, bawel kamu."

"Saya bawel karena keikutan kamu."

"Ya abis sepatunya kek jegedean sebelah."

"Mana ada yang begitu, perasaan kamu aja. Cepet pake."

"Iya Karan, bawel. Ble."

Kebiasaan Kiran adalah dia suka membuang sebelah sepatunya, saya fikir dia lucu. Dia memang beda dari cewek-cewek lainnya. Aneh, tapi mungkin bisa dibilang dia cukup menggemaskan karena tingkahnya itu. Saya suka, demi semua jajaran cewek di dunia ini. Saya tetap memilih Kirana Gumela Lafry.

"Karan."

"Iya."

"Maen yuk."

"Maen apa?"

"T.O.D"

"Males."

"Ih kenapa?"

"Nanti ada yang ngakuin suka sama kamu. Saya gak mau."

"Ish Karan, nyindir ya kamu."

"Lah, kesindir?"

"Bodo ah."

"Hehe. Canda."

Saya tau banyak yang menyukainya, kufikir semua lelaki yang setipe dengan saya akan menyukai Kiran juga. Tapi bahkan ketika saya tau Haikal dan Bram menyukai Kiran. Saya tidak marah. Karena itu yang menjadi pelajaran saya. Wajar, begitu fikiran saya. Kalau tidak ada Haikal, siapa yang sampai sekarang melindungi Kiran, kan belum ada saya saat itu. Terimakasih. Kalau tidak ada Bram, saya tidak akan tau Kiran siapa, saya tidak akan tau bagaimana perasaan saya sendiri bahwa saya mencintai Kiran meski dia bernama Mela atau siapapun. Terimakasih.

"Kiran.."

"Hem."

"Kenapa kamu gak langsung jujur pas itu?"

"Kamu lupa ke aku."

"Selain itu?"

"Malu."

"Malu sama?"

"Malu sama kucing. Ya sama kamu."

"Oh, sama kucing."

"Ih, sama kamu."

"Hehe. Kenapa malu."

"Iya malu aja."

"Oh."

"Oh doang."

"Terus?"

"Terus nabrak kali."

"Kalau terus mencintaimu."

"Ye, apasih gombal."

"Gombal itu lap, kata nenek saya."

"Et, itu bahasa jawa kan."

"Eh kok tau kamu?"

"Iyalah, semua hal tentang pacarku harus tau aku."

"Hehe."

"Haha."

Kadang, seketika saya jadi ingat ayah Traf saat melihat Kiran. Kiran ini memang anak kedua ayah, selain saya, Kiran sangat disayang sama ayah. Saya gak iri, hanya saja dulu saya suka berantem sama Kiran karena ayah selalu membelanya. Tapi jelas, serius, saya tidak iri, dulu saya masih anak-anak. Saya fikir saya akan selalu melihat bayangan ayah dalam dirinya. Terimakasih. Karena saya kuat bertahan karena ada Kiran yang selalu disamping saya.

"Karan."

"Apalagi.."

"Ih kamu marah?"

"Kan lagi bikin susu coklat buat kamu katanya."

"Hehe iya. Mau nanya doang elah."

"Iya apa."

"Kamu masih kangen ayah gak sih?"

"Udah enggak."

"Eh, kenapa?"

"Kan udah lihat kamu tiap hari."

"Lah hubungannya sama aku apa?"

"Iya, lihat kamu, saya jadi inget ayah. Kalau udah inget ayah berarti udah gak kangen lagi soalnya kangennya semua udah di ke kamuin."

"Ish gombal lagi, kan aku serius."

"Saya juga serius, Kiran.."

"Serah kamu."

"Iya emang serah saya. Masak serah kamu. Kan saya yang jawab."

"Nyebelin."

"Lebih nyebelin kamu yang nyamar nama jadi Mela."

"Tuhkan dibahas lagi."

"Hehe. Canda."

"Kamu mah..."

"Kamu mah apa atuh, cuma selingkuhan ..." *nyanyi

"Haha. Sedeng."

"Hehe. Kiran.."

"Iya."

"Love you."

"Cie.."

"Miss you."

"Miss you to cayang."

"Cie.."

"Ish!"

Hai, KARAN [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang