Chapter 1

696 20 1
                                        

Hay... Salam kenal.
Ini novel pertamaku yang dipublish, terima kasih sudah bersedia membaca.
Kutunggu pesan dan kesannya 😁😁
Maaf kalau ada typo dan gaya bahasa yang masih awam.
Happy reading...

------------------------------------------------------

Khalilah memandang sendu pesan pada handphonenya, 4 kata itu membuat dadanya sesak. Ada perasaan nyeri yg dirasakannya. Namun entah kenapa ia ingin tersenyum, Takdir mempermainkanku. Ucapnya dalam hati.

Segera Khalilah mengetikan jawaban untuk sahabatnya itu, "Cieee... jadian."
Mengetik 2 penggal kata itu saja Khalilah merasa gamang. "Selamaat yaa..." ia mengetik lagi, lalu beberapa saat kemudian dihapusnya. "Jaga Arshaka buat aku." Kali ini dibiarkannya cukup lama kalimat itu, ditimbang-timbang apakah akan dikirimnya, lalu dihapus kembali. Gila kali gw ngomong gitu ke pacar barunya. Siapa gw? Rutuk Khalilah dalam hatinya. Ia memang bodoh, mana mungkin mantan meminta si pacar untuk menjaga orang yang dicintainya, sekalipun itu sahabat, terlalu "berbahaya".

"De... ingatin Shaka biar nggak rokok lagi." Khalilah yakin dengan pesannya kali ini, ia lalu mengirimkan pesan utuh itu bersama 2 penggal kata lainnya diawal kalimat.
Huruf D muncul di awal kalimatnya. Tak berapa lama berubah menjadi R, Dibaca, seru Khalilah dalam hatinya. Ada sedikit kepanikan didalam sana.
Sahabatnya Delisha is typing a messege, dengan gugup Khalilah menunggu jawaban Delisha.

"Khalilah aku ga mau ngatur hidup Shaka, dia bebas memilih jalan hidupnya." Balas Delisha dengan bijak.

Khalilah tertegun.
Inilah dulu yang membuatnya selalu bertengkar dengan Shaka. Dia terlalu banyak mengatur, dia mengekang Arshaka dengan berbagai alasan yang menurutnya baik namun tidak demikian yang Arshaka inginkan.

Khalilah mengenal Arshaka di kelas 1 SMA, awalnya mereka sering bertengkar. Bertengkar karna hal-hal sepele seperti jadwal piket kelas.
Arshaka memang orang yang cuek dan sedikit kasar, sedangkan Khalilah sangat manja dan penuh tututan. Itu kenapa meraka tidak pernah bisa akur bahkan meski dalam status bersahabat.

Flashback

"Heh, lo tuh kalau nyapu yang bener dong. Itu masih nyisa dibelakang." Omel Shaka seraya menunjuk debu yang tidak terbawa oleh Khalilah saat menyapu.

Pagi itu seperti biasa Khalilah dan Arshaka bersama 3 orang teman lainnya datang lebih awal ke sekolah. Sekolah mereka memang menerapkan sistem kedisiplinan dan kebersihan dengan piket kelas, sekelompok anak dalam 1 kelas akan bergiliran membersihkan ruangan kelas saat pagi hari, dan kali ini adalah giliran Kelompok Khalilah.

Khalilah merengut dan mulai menyapu kembali sisa-sisa keteledorannya "Aku kan nggak pernah kerja dirumah." Rungutnya dengan suara sepelan mungkin agar Arshaka yang berdiri hanya setengah meter darinya tidak mendengar.

"Makanya... lo diajarin kerja gini biar bisa." Jawab Arshaka dengan menekankan setiap kata dalam kalimatnya untuk menyindir Khalilah.

Khalilah anak satu-satunya, ia manja dan tidak bisa melakukan pekerjaan apapun. Orang tuanya kaya raya, namun entah kenapa Ayahnya memutuskan ia untuk masuk ke sekolah ini. Padahal banyak sekali sekolah swasta lainnya dengan fasilitas penunjang dan memberikan kemewahan bagi murid-muridnya, bukan sekolah "memperbudak" seperti yang selalu Khalilah katakan pada Ayahnya. Ia tidak akan perlu repot-repot menyapu, menghapus papan tulis, atau membersihkan kaca jendela sekali seminggu.

"Emangnya gw babu apa", jawab Khalilah sekenanya.
"Itu yang salah dari pikiran Lo, Kha. Dengan piket kelas kaya gini, ga bakalan ada yang bilang lo babu. Toh kita semua kerja kan?" Shaka kembali membalasnya.
Khalilah menatap sekeliling, Devi sedang menyiram tanaman didepan kelas - Jonathan membersihkan kaca jendela bersama Ervan

Hm... iya sih.., Khalilah membenarkan dengan perasaan bersalah. Ia diam tak membalas ucapan Shaka.

Diperhatikannya Shaka yang sedang menghapus papan tulis, tubuh Arshaka sangat tinggi untuk anak seusia mereka, 170cm. Berwajah oriental, karena katanya Ibunya keturunan Jepang. Meskipun matanya tidak sebulat dan sebesar mata Khalilah, mata Shaka sangat menarik. Berbentuk seperti bulan sabit, khas mata orang Asia Timur. Berat badannya proposional dengan tingginya, rambut cepak berwarna kecoklatan, dan garis wajahnya sempurna, ditambah bibir kecil yang walaupun jarang menyunggingkan senyum namun menjadi salah satu daya tariknya. Shaka tampan, sempurna.

"APA LIAT-LIAT?" Bentak Shaka membuyarkan lamunan Khalilah.

Khalilah hanya menggeleng dan mengangkat bahunya dengan acuh, Ganteng sih... tapi jutek! Cemoohnya dalam hati dan ia tersenyum geli.

Obsession [COMPLITE!!]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang