Gue berdiri kaku di depan gedung besar yang katanya bakal jadi "rumah baru" gue selama sebulan ke depan ini. Sambil menggenggam gagang koper yang dari tadi udah bikin tangan pegal, gue nyaris nggak bisa mikir. Pikiran gue campur aduk. Antara pengin kabur, marah, sedih, dan... takut.
Mama melangkah ke arah gue, senyumnya lembut tapi mata beliau jelas menunjukkan rasa khawatir.
"Dinda, kamu pasti bisa. Nanti juga terbiasa," kata Mama sambil merapikan kerudung gue.
Gue menggeleng cepat. "Ma, aku nggak mau sendiri di sini. Aku takut. Aku nggak kenal siapa-siapa..."
Mama menarik tangan gue, menggenggamnya erat. "Tenang, ya. Nanti ada ustazah yang bakal antar kamu ke kamar dan kenalin kamu ke lingkungan pesantren. Mama juga udah nitip kamu ke kepala asrama."
Gue menatap Adnan, abang gue, minta bantuan lewat tatapan. Tapi dia cuma balas dengan senyuman tipis yang sama menyebalkannya kayak senyum malaikat maut.
"Dinda," kata dia lembut, "aku tahu ini berat. Tapi Mama ngelakuin ini karena sayang sama kamu. Kamu juga tahu itu, kan?"
Gue nggak jawab. Malah air mata gue mulai netes satu per satu. Gue cepet-cepet hapus pakai lengan baju, takut diliatin orang. Suara hati gue cuma satu: Kenapa sih harus gue yang dimasukin ke tempat kayak gini?
"Udah, yuk, kita pamit dulu. Jangan bikin makin berat," kata Mama pelan, lalu memeluk gue erat.
Gue nggak bisa berkata apa-apa. Gue cuma bisa berdiri diam waktu mereka berdua melangkah mundur. Mama sempat melambai. Adnan juga. Mobil mereka perlahan menjauh, dan gue resmi... sendirian.
Sumpah ya, itu momen paling sepi yang pernah gue alamin.
Katanya tadi ada ustazah yang bakal dateng buat antar gue. Tapi udah lima belas menit berlalu dan nggak ada satu pun manusia yang nyamperin gue. Gue celingak-celinguk di halaman. Ada beberapa santriwati yang lalu lalang, tapi mereka semua kelihatan sibuk sendiri, dan jujur aja, gue nggak pede buat nyamperin duluan.
Akhirnya, gue putusin buat jalan sendiri. Mungkin kalo gue cari-cari, gue bisa nemuin kamar gue sebelum malam. Daripada berdiri kayak patung di bawah pohon.
Gue tarik koper gue dan mulai jalan menuju salah satu gedung besar. Gedung itu punya dua sisi, kanan dan kiri, dan dipisah sama tembok tinggi di tengah. Tapi secara struktur, dua-duanya masih dalam satu bangunan panjang. Gerbangnya beda, tapi keliatan nyambung di belakangnya.
Gue masuk lewat gerbang kanan. Di dalamnya, ada lorong panjang dengan lantai keramik bersih, dan beberapa pintu kayu cokelat berjejer. Nggak ada tulisan atau petunjuk apa pun yang nunjukin ini gedung apa.
Pas gue lagi mikir-mikir sambil jalan pelan, tiba-tiba...
BRAKK!
Gue nabrak seseorang.
Koper gue jatuh, badan gue oleng ke belakang, dan buku yang dibawa orang itu berceceran di lantai. Gue panik. Langsung jongkok sambil minta maaf.
"Eh sorry.. sorry banget, pak! Saya nggak lihat jalan..."
Baru juga gue selesain kalimat itu, si lelaki itu langsung bangkit dan matanya menatap gue tajam.
"Maksud lo apaan manggil gue pak puk pak!" suaranya tinggi, nyolot banget.
Gue kaget. "Eh... sorry gue kira... soalnya baju Bapak kayak orang bersih bersih... lo tukang bersih bersih? kalo gitu bisa gak cariin kamar gue dimana?"
Dia pake celana panjang hitam dan kaos lusuh belum lagi bawa sapu dan serokan nya dan ada peci di kepala nya. Wajar dong kalau gue kira dia tukang bersih bersih?
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
