Langit sore itu menggantung abu-abu. Kayak hati gue. Antara ringan karena hafalan hari ini agak lancar, tapi juga berat... karena gue ngerasa waktu terus jalan, dan gue makin deket ke sesuatu yang gak bisa gue hindari.
Udah satu bulan lebih gue tinggal di pesantren ini. Dari yang awalnya gue pikir "cuma numpang lewat liburan", jadi rutinitas penuh yang mulai bikin gue sadar: mungkin ini bukan cuma tempat singgah.
Gue baru aja selesai nyalin ayat untuk tugas tafsir, waktu gue ke ruang komputer buat "nyari referensi". Padahal sebenernya, gue cuma pengen buka email.
Dan bener aja—ada satu email yang bikin jantung gue langsung gedor dari dalam.
⸻
[RE: Undangan Acara Pembukaan Semester Baru & Reuni Siswa Angkatan 12]
Dear Dinda Putri Ardana,
Kami mengundang Anda untuk hadir dalam kegiatan pembukaan semester baru dan reuni siswa kelas 12, yang akan diselenggarakan dua hari lagi di Aula SMA Pelita Harapan. Mohon konfirmasi kehadiran Anda.
Mata gue langsung panas.
SMA Pelita Harapan. Sekolah yang penuh kenangan. Geng gue. Gama. Hidup gue yang dulu.
Dua hari lagi...
Dan gue di sini, masih ngelipet mukena sambil nyalin hafalan.
⸻
Malamnya, setelah jadwal piket malam dan kajian selesai, gue duduk di depan kamar. Di seberang, suara anak-anak cowok masih terdengar samar.
Tembok ini tipis banget. Kadang ngeri, tapi kadang bikin suasana jadi... intim.
"Din?"
Suara Algi muncul dari seberang tembok.
"Hmm?"
"Lo ngelamun banget dari tadi."
"Biasa."
"Pasti mikirin Jakarta ya?"
Nada suaranya datar, tapi ada rasa penasaran yang gak bisa disembunyiin.
Gue diem beberapa detik, lalu jawab.
"Iya. Gue dapet email. Sekolah gue di Jakarta udah mulai semester baru. Dua hari lagi pembukaan dan reuni kelas."
Dia hening.
"Berarti lo bakal balik?"
"Belum tahu."
Lalu gue nekat ngomong—suatu hal yang belum pernah gue omongin ke dia.
"Gue punya pacar di Jakarta, Gi."
Dia diem cukup lama.
"Oh..."
Gue gak tahu itu 'oh' artinya apa. Tapi nadanya berubah. Entah lebih tenang, atau lebih kaku.
"Namanya Gama. Kita udah bareng dari semester dua kelas sebelas."
Masih gak ada balasan.
"Sorry ya," gue nambahin. "Gue tahu lo mungkin pikir... gue ini beda. Tapi ternyata gue masih nyeret-nyeret masa lalu ke sini."
"Enggak," akhirnya dia jawab. "Gue cuma... kaget aja."
Gue bisa bayangin wajah dia sekarang: dagu agak nunduk, bibir ngepit, mata menerawang.
"Lo pernah sayang banget sama dia?" dia tanya.
Gue angguk pelan. "Banget."
⸻
🍛 Kunjungan Kak Adnan
Keesokan paginya, sekitar jam sepuluh, Kak Adnan dateng. Gue yang lagi nyuci kerudung di belakang langsung dikagetin suara panggilan dari santri lain.
"Dindaaa, ada yang nyari! Kakak lu tuh!"
Dan bener. Di depan ruang guru, Kak Adnan udah nunggu sambil bawa tas kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
