Juara 2

3.6K 196 17
                                        

Tiga hari yang melelahkan akhirnya berakhir juga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiga hari yang melelahkan akhirnya berakhir juga.

Turnamen futsal antar sekolah se-Jabodetabek yang digelar di pesantren tempat Dinda dan Algi bersekolah resmi ditutup dengan semarak. Lapangan futsal dipenuhi suara teriakan, sorakan, dan tepuk tangan dari seluruh penjuru. Bendera kecil warna-warni masih terikat di sepanjang pagar pembatas lapangan, sementara plakat-plakat kemenangan mulai dibagikan satu per satu ke para pemenang.

"JUARA DUA!"
teriak Rizky sambil mengangkat tropi, bangga banget seakan-akan baru menang Liga Champions.
"Lumayan lah yaa... Nggak malu-maluin!" tambah Abi dengan napas ngos-ngosan.

Algi berdiri di tengah-tengah timnya, tersenyum kecil. Bajunya basah keringat, rambutnya lepek, tapi mukanya puas.

"Wey! Senyum-senyum sendiri kenapa lo?" tanya Furqon.

"Enggak, gue mikir... akhirnya kelar juga nih turnamen," jawab Algi santai.

"Ngaku aja lo, pasti mikirin cewek lo yang gak nonton hari ini," goda Rizky sambil nuduh-nuduh pakai jari.

Algi hanya geleng-geleng sambil menghindar.

Di sisi lain lapangan, Dinda duduk di bangku panjang bersama Meisya dan Karina. Ia memang gak ikut nonton dari awal, tapi datang menjelang akhir buat kasih dukungan. Meski dalam hati, agak gimana gitu...

"Juara dua lumayan sih," ucap Meisya sambil nyuapin es krim ke mulutnya.

"Iya... apalagi liat Algi makin keringetan gitu," celetuk Karina sambil ngakak.

Dinda hanya nyengir kecil, "Iya, keren sih... tapi nggak usah diumbar."

Di tengah keramaian, satu adegan diam-diam terjadi.

Furqon, dengan topi bolanya diputar ke belakang, menghampiri Ririn yang lagi ngobrol sama Karina. Awalnya dia cuma berdiri agak jauh, nyengir-nyengir sendiri sambil mainin tali sepatu.

"Eh Rin..."

Ririn menoleh, agak malas, "Apaan lagi, Fur?"

"Kalo gue bilang... lo cantik hari ini, lo mau marah nggak?"

Karina langsung menutup mulutnya, nahan ngakak.
Ririn melotot, "Apaan sih! Lo abis kebentur bola ya?!"

"Enggak, serius gue, Rin. Lo... beda hari ini. Gak tau deh. Mungkin karena udah gak ngatain gue duluan," kata Furqon sambil ngangguk-ngangguk sok serius.

Ririn nahan senyum, tapi langsung melempar botol kosong ke arah Furqon, "Dasar cowok nyebelin!"

Dan semua yang melihat adegan itu langsung rame, heboh, dan hebohnya sampai ke asrama.

---


Malam itu, setelah hiruk-pikuk turnamen dan canda tawa anak-anak asrama mereda, kamar santriwati kembali sunyi. Dinda sedang duduk bersandar di tembok dekat jendela, membenahi isi laci bukunya. Tiba-tiba, Ririn masuk dan menutup pintu perlahan.

"Din..."
"Hm?"
"Gue boleh cerita sesuatu gak?"
Dinda menoleh, melihat ekspresi wajah Ririn yang mendadak serius.
"Ya ampun, Rin. Lo serius banget mukanya. Duduk sini," ujar Dinda sambil geser dudukannya.

Ririn pun duduk di samping Dinda, menarik napas panjang.
"Furqon... tadi sore, dia bilang suka sama gue."

Dinda menaikkan alis, "HAH? Itu cowok yang lo omelin tiap hari itu?"
"Jangan berisik!" Ririn langsung nutup mulut Dinda, setengah panik.
"Sorry sorry, tapi serius? Wah... akhirnya juga ya dia ngomong," jawab Dinda sambil senyum geli.

Tapi Ririn gak ikut ketawa. Ia menunduk dalam.
"Masalahnya bukan itu, Din. Gue... bingung harus gimana. Gue takut."
"Takut karena?"
Ririn menatap jendela, kosong.

"Gue nggak seperti yang dia kira. Gue bukan cewek baik-baik, Din... Gue punya masa lalu yang gak bisa gue ulang. Gue udah nggak perawan, dan... gue ngerasa kotor, gak layak buat disayang."

Hening sejenak. Hanya suara kipas yang berputar perlahan.

Dinda meraih tangan Ririn. Menggenggam erat.

"Rin... dengerin gue. Yang lo lakuin di masa lalu gak mendefinisikan siapa lo hari ini. Kita semua punya cerita, luka, dan kesalahan. Tapi Tuhan gak pernah menilai dari masa lalu, Dia lihat gimana usaha kita berubah dan memperbaiki diri."

Ririn mulai menangis pelan.

"Lo tahu gak kenapa gue tetep mau jadi temen lo meski kadang lo galak dan suka nyebelin?"

Ririn nyengir kecil, "Kenapa?"

"Karena lo setia, jujur, dan lo gak pernah ninggalin gue pas gue jatuh. Sekarang giliran gue yang jagain lo. Jangan pernah ngerasa lo gak pantas buat disayang ya, Rin. Kalo Furqon beneran sayang... dia bakal nerima lo apa adanya."

Ririn memeluk Dinda, erat.
"Gue takut banget, Din."

"Gue tahu. Tapi lo gak sendirian."

Malam itu, dua sahabat saling menguatkan. Ririn mungkin belum siap untuk membuka sepenuhnya, tapi malam itu dia belajar... bahwa tak ada luka yang tak bisa dimaafkan, selama kita mau berubah dan memberi kesempatan untuk diri sendiri.




---

Maaf ya kalo lama update, otaknya keabisan ide hehe

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang