Lampu kota Jakarta selalu punya cara buat nyeret gue balik ke masa lalu. Kembali ke gedung-gedung tinggi, suara klakson, asap dari warkop pinggir jalan, dan senyum teman-teman lama yang udah lama nggak gue lihat. Malam ini gue berdiri di tengah semua itu. Dikelilingi musik, lampu, dan aroma parfum mahal.
Dan mereka semua—Fila, Fara, bahkan Sarah—ada di sini. Kita ngadain semacam mini-reuni alumni sekolah. Lokasinya rooftop restoran, dihias lampu bohlam kecil, penuh tawa, dan... satu nama yang dari tadi ditunggu: Gama.
Gue lagi nunduk ngebenerin heels waktu dia datang.
"Dinda," suara berat yang gue kenal banget itu terdengar lembut di telinga.
Gue ngangkat kepala, dan... dia berdiri di depan gue. Senyum, dan di tangannya ada bunga. Mawar merah.
"Lo cantik malam ini," katanya. Gue senyum—senyum bodoh yang nggak bisa gue tahan.
"Gue... seneng banget lo balik," lanjutnya.
Gue cuma ngangguk. Tanpa sadar, mata gue nyari Sarah. Dia ada di pojokan, lagi ngobrol sama yang lain. Tapi gue bisa lihat, dia gak senyum. Dari tadi... dia gak keliatan seneng. Padahal biasanya dia yang paling rame kalo ada acara.
⸻
Malam makin larut. Musik makin kencang. Gue dan teman-teman duduk di sofa outdoor, minum soda dan ketawa-ketawa kayak anak-anak SMA lagi. Fila mulai karaoke, Fara si bocah jahil gangguin pelayan, dan Gama duduk deket banget sama gue.
"Lo bahagia gak di sana, Din?"
Pertanyaan itu keluar tiba-tiba.
"Hmm?"
"Di pesantren. Kayaknya... lo berubah."
Gue senyum. "Berubah baik atau buruk?"
"Lo jadi... adem," katanya pelan. "Tapi gue suka. Cuma takut aja, lo makin jauh."
Gue gak jawab. Karena malam ini... gue gak mau mikir. Gue cuma mau nikmatin suasana.
Sampai Sarah tiba-tiba berdiri dan bilang mau ke toilet. Tapi dia bawa HP dan tas-nya. Gue liat jam. Udah hampir tengah malam. Fila ikutan nyusul dia.
Gama? Ngelirik sekilas. Lalu ngeliat HP-nya juga.
Mata gue nyempil ke arah mereka. Kayak ada yang... nggak beres. Tapi gue langsung alihin pikiran. Ini malam yang harusnya gue tunggu-tunggu. Harusnya.
⸻
"Gue janji," kata Gama saat nganterin gue ke mobil. "Gue gak akan ninggalin lo."
Gue senyum. Lagi-lagi, bodoh.
Karena gue gak tahu... janji itu dibuat juga ke orang lain malam ini.
⸻
✦✦✦
Di dalam mobil, Fila duduk di sebelah gue.
"Lo bahagia banget ya?" katanya pelan.
Gue senyum kecil. "Iya... lumayan."
Fila gak jawab. Tapi gue tahu... dia mau bilang sesuatu. Tapi dia tahan.
Di kursi belakang, Sarah sibuk liatin layar HP. Sekilas gue liat dia buka chat. Gue gak sempet baca, tapi nama kontak itu pake emoji hati. Anehnya... Sarah senyum sebentar, lalu buru-buru matiin layar.
Gue gak curiga. Gue terlalu senang malam itu.
Dan itu kesalahan gue.
⸻
✦✦✦
Paginya, gue bangun dengan perasaan kosong. Bunga dari Gama gue taruh di meja, tapi entah kenapa, wanginya gak seharum semalam.
HP gue bunyi.
Pesan dari Raynan.
"Lo masih di Jakarta kan? Gue pengen cerita sesuatu. Tapi nanti aja."
Gue bales "Oke."
Tapi perasaan aneh itu belum juga hilang.
Gue ngerasa... Jakarta ini familiar. Tapi gue udah nggak cocok sepenuhnya.
Dan hati kecil gue mulai bertanya:
Kenapa gue bisa seneng banget... padahal semua ini kayak palsu?
---
-maaf ya kalo update nya lama, maaf juga kalo masih jelek apa gimana karna masih amatir. Dan maafkan terkadang saya lama update juga karna saya harus sekolah, mencari inspirasi untuk cerita ini. Dan terimakasih buat yang udah baca,dan vote. Buat kalian semua jangan rugi ya baca cerita aku. Makasih-.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
TeenfikceBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
