Sudah beberapa hari berlalu sejak Dinda mengusir Gama dari rumahnya. Masih ada sisa-sisa sesak di dada, tapi perlahan ia mulai bernapas lebih lega. Tidak ada lagi drama chat dari Gama, tidak ada lagi bunga dadakan, tidak ada lagi permintaan maaf yang palsu.
Tapi pagi ini, semuanya kembali mendadak kacau.
Dinda baru saja duduk di meja makan, menyeruput kopi susu buatan kakaknya, saat ponselnya berdering. Nama "Tempat Rehabilitasi Remaja Mawar Putih" muncul di layar.
"Hallo?" Dinda menjawab dengan sedikit gugup.
"Selamat pagi, ini dengan Dinda?"
"Iya, betul saya sendiri, Bu..."
"Saya perawat Siska dari Rumah Rehabilitasi Mawar Putih. Kami ingin memberitahukan bahwa kondisi Sarah akhir-akhir ini mengalami keluhan fisik, seperti mual, pusing, dan perubahan emosional yang cukup ekstrem."
Dinda langsung duduk tegak. "Sarah kenapa, Bu? Dia sakit?"
Perawat itu menghela napas pelan.
"Setelah dilakukan pemeriksaan medis dan tes laboratorium... kami mendapati bahwa Sarah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dan... hasil tes terakhir kami konfirmasi: Sarah positif hamil."
Dunia Dinda terasa hening.
"Kami paham ini berat, tapi mohon agar Sarah mendapat dukungan emosional dari teman-temannya. Kami juga menyarankan keluarga segera dihubungi. Saat ini kami sedang menyusun langkah perawatan terbaik, karena kondisi mental Sarah sedang sangat rapuh."
Dinda terdiam cukup lama. "...Terima kasih, Bu. Saya akan ke sana."
Setelah menutup telepon, Dinda masih terpaku beberapa detik. Ia menatap ponsel itu seperti benda asing.
Tak lama kemudian, dia langsung membuka grup WA kecil mereka:
Fila, Fara, Dinda.
📞 Dinda:
Gue baru dapet telpon dari rehab.
Kita harus ke sana.
😳 Fila:
Lah kenapa? Sarah kenapa lagi?
😦 Fara:
Jangan bikin deg-degan please.
🧷 Dinda:
Gue gak bisa bilang di chat.
Tapi tolong... sekarang juga kita harus ke sana. Gue jemput kalian.
⸻
📍 Di Mobil — Menuju Tempat Rehabilitasi
"Din, lo gak mau cerita duluan?" tanya Fila dari jok belakang.
Dinda menghela napas. Tangannya masih menggenggam setir erat.
"Sarah... hamil."
Fara dan Fila langsung menoleh bersamaan.
"A-APA?!" Fila nyaris teriak.
"Seriusan? Ya Allah..." Fara menutup mulutnya.
Dinda mengangguk perlahan. "Perawat di sana bilang, mereka baru dapet hasil lab-nya kemarin. Sarah udah dua hari ini muntah-muntah terus, badannya lemes banget. Mereka kira awalnya cuma stres atau efek samping obat, tapi ternyata... dia hamil."
Mobil itu hening selama beberapa detik. Bahkan suara klakson di luar pun terasa jauh.
Fila akhirnya buka suara. "Itu... berarti... Gama?!"
"Siapa lagi?" ucap Dinda dingin.
Fara menggeleng tak percaya. "Gila. Gama tuh... gila."
"Dan lebih gilanya lagi, dia sempet dateng ke rumah gue. Bikin drama nangis-nangis minta maaf," tambah Dinda dengan suara getir.
Fila mengepalkan tangan. "Pengen gue gampar sumpah."
⸻
📍 Tempat Rehabilitasi — Kamar Sarah
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
