Pukul 02.38 dini hari. Di salah satu ruang bersalin rumah sakit ibu dan anak yang cukup tenang di bilangan Jakarta Selatan, terdengar suara paling murni—tangis bayi yang baru saja lahir.
Sarah terbaring lemas di ranjang, rambutnya basah oleh keringat, wajahnya pucat tapi matanya... berbinar. Ia menangis dalam diam. Tangis karena rasa lega, bahagia, takut, semuanya bercampur jadi satu.
"Alhamdulillah..." ucap Fila pelan, meremas tangan Sarah sambil menahan air matanya. Di sampingnya, Fara sudah tak kuasa menyembunyikan tangis bahagianya. Mereka berdua sudah menemani Sarah sejak kontraksi pertama.
"Selamat ya, Sar. Kamu hebat banget," bisik Fara, menyeka air matanya.
Di sudut ruangan, Gama berdiri terpaku. Dia bahkan tak tahu harus ngapain selain berdiri dan memandangi bayi mungil yang baru saja dibersihkan oleh perawat.
"Anak gue... dia beneran anak gue," gumam Gama lirih.
Perawat datang menghampiri Sarah dan menyerahkan bayi mungil itu ke pelukannya. Tangis Sarah pecah lagi, lebih keras dari sebelumnya. Tapi kali ini bukan tangis kesakitan. Ini... tangis dari seorang ibu.
"Namanya... Hana." Ucap Sarah pelan, senyum kecil muncul dari bibirnya yang kering.
"Cantik banget, Sar..." ucap Fila pelan, menatap wajah Hana yang masih merah dan meringkuk kecil.
Gama akhirnya mendekat, berjongkok di samping Sarah, menatap bayi itu. Ia tak tahu sejak kapan air matanya turun. Tapi ia tahu satu hal: hidupnya tak akan sama lagi.
"Aku janji, aku bakal jaga kamu berdua. Aku akan berubah," bisiknya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar tergesa di lorong. Seorang wanita dengan wajah panik membuka pintu, diikuti seorang pria yang tampak gugup.
"Sarah!" teriak wanita itu — Bu Yolani, ibu Sarah. "Ya Allah, anak Mama... kamu beneran udah lahiran?"
"Mama?" Sarah kaget, ia nyaris tak percaya orangtuanya datang.
"Kami ditelepon sama Fila... langsung berangkat," kata Pak Herman pelan, berdiri di balik istrinya.
Bu Yolani memandangi Hana, lalu mendekat dan menyentuh tangan Sarah. "Maafin Mama ya, selama ini terlalu sibuk, terlalu cuek, terlalu... menghindar. Tapi sekarang Mama ada di sini."
Sarah menangis. Tangis yang tak tertahan lagi.
Tak lama berselang, dua sosok lain muncul di pintu. Kali ini... orangtua Gama.
"Gama!" seru Bu Nadira, memeluk anaknya yang masih berdiri tak berkutik.
Pak Hadi, ayah Gama, menghampiri ranjang Sarah. Pria yang biasanya dingin itu kini wajahnya berubah. Matanya sembab.
"Kami... kami minta maaf atas kelakuan anak kami. Tapi mulai sekarang, kami akan tanggung jawab. Sarah, kamu nggak sendirian."
Tangis pun jadi paduan malam itu. Sarah di peluk Mama-nya, Gama berdiri di samping, sementara Fila dan Fara saling tersenyum lega.
Keluarga itu mungkin terbentuk dengan cara yang tidak sempurna... tapi malam ini, semua menyadari satu hal: Hana adalah berkah. Bukan aib. Bukan beban. Tapi cahaya kecil yang mungkin akan memperbaiki semuanya.
---
Maaf ya kalo gaje dan update lama hehe maklum puasa gengs. Disini aku mo blg "selamat menunaikan ibadah puasa" walopun udh lama bet hehehe.
Btw kelanjutan nya gmn yaaa????
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Novela JuvenilBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
