Baikan

3.7K 217 10
                                        

Pagi itu, suasana kamar santriwati terasa berbeda. Biasanya Shafira paling heboh urusan hair lotion atau ngaca sambil nyanyi, tapi kali ini... dia cuma duduk bengong di ranjang bawahnya sambil ngelamun, sesekali matanya kelihatan merah kayak abis nangis. Meisya yang baru selesai nyetrika langsung nyamperin.

"Fir, lo kenapa sih akhir-akhir ini murung banget? Sakit ya?"
Shafira geleng.
"Lagi dapet?" tanya Ririn lagi sambil duduk di sebelahnya.
"Enggak..." jawab Shafira pelan.

Karina ikut nimbrung, "Lo nggak gini biasanya. Lo tuh biasanya paling rame... Jangan bilang karena Algi ya?"

Semua anak kamar langsung diem. Dinda yang dari tadi lagi nulis di pojokan ikut nengok, nahan napas.

Shafira diem lama, sebelum akhirnya ngambil tisu dan mulai ngomong pelan, "Iya, gue suka sama Algi. Dari lama. Dari sebelum kita semua saling kenal. Dia udah kayak kakak sendiri, keluarga sendiri."

Semua terdiam, bahkan kipas angin pun rasanya berhenti mutar.

"Gue kira... dia mungkin bisa suka balik. Tapi pas kita di Puncak, dia bilang dia suka sama orang lain. Dan gue tau... dia suka sama Dinda."
Tatapan Shafira pelan mengarah ke Dinda, tapi tanpa marah.
"Gue cemburu... banget. Makanya gue dingin sama lo, Din. Tapi itu salah gue. Harusnya gue gak bersikap kayak gitu."

Dinda menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Shafira... gue minta maaf. Sumpah gue gak pernah niat ngerebut siapa-siapa. Bahkan gue pun masih belum ngerti perasaan gue sendiri. Kayaknya sejak gue dateng, kamar ini tuh jadi penuh masalah..."

"Enggak, bukan salah lo," Shafira buru-buru nyaut. "Semua orang suka seseorang. Gue cuma... salah aja dalam ngatur perasaan. Lo gak salah, Din. Gue yang harusnya belajar nerima, bukan nyalahin lo."

Meisya langsung peluk Shafira, "Lo tau gak, Fir... baru kali ini lo jujur banget dan gue malah makin sayang sama lo."

Karina pun ikut nimbrung, "Ya ampun drama cinta kalian tuh kayak sinetron prime time."

Semua ketawa... pelan tapi tulus. Bahkan Dinda dan Shafira saling menatap dan tersenyum untuk pertama kalinya dengan ikhlas.

Shafira menghapus air matanya dan berkata,
"Mulai hari ini... gue gak mau jadi musuh lo lagi, Din. Kalo lo dan Algi emang berjodoh, yaudah... gue cukup ngedoain dari jauh."

Dinda mengangguk, "Tapi sekarang bukan waktunya juga buat mikirin siapa sama siapa. Kita semua lagi di masa akhir-akhir pesantren... Kita harus saling dukung, bukan saling jauhin."

Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak masuk pesantren, kamar santriwati terasa utuh kembali. Gak ada yang musuhan. Gak ada yang saling cuek. Hanya ada tawa kecil... dan langkah menuju kedewasaan.






Dinda duduk di samping Shafira sambil menyodorkan teh hangat yang dia seduh barusan.

"Gue seneng banget akhirnya lo mau ngomong kayak gini, Fir," ucap Dinda sambil tersenyum pelan. "Gue nggak mau hubungan kita semua rusak cuma gara-gara... cowok."

Shafira menerima teh itu sambil senyum tipis, "Gue juga mikir kayak gitu. Awalnya gue denial, Din. Tapi makin hari, makin sadar... cinta itu gak bisa dipaksain."

Dinda mengangguk, matanya menatap Shafira penuh rasa sayang sebagai sahabat.

"Gue juga belum sepenuhnya ngerti perasaan gue ke Algi tuh gimana. Kadang gue baper, kadang gue kesel. Tapi yang jelas, gue nggak pengen kehilangan sahabat gue, cuma gara-gara soal ginian."

Shafira menghela napas dalam. "Gue udah coba ikhlas, Din. Meskipun susah. Tapi gue belajar nerima... karena gue sayang sama lo juga, bukan cuma sama Algi."

Meisya yang dari tadi nyimak langsung nyeletuk, "Demi apa sih kalian lucu banget! Gue nangis nggak sih liatnya?"

Karina ikut ngakak, "Iya ini tuh friendship goals banget sumpah! Lo pada berdamai kayak lagi di film-film drama korea episode akhir."

Ririn langsung megang dada pura-pura sesak, "Hati gue nggak kuat liat adegan haru-haru kayak gini."

Mereka semua ketawa, dan tawa itu terasa ringan.
Tanpa beban. Tanpa saling curiga.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kamar santriwati itu benar-benar terasa hangat.

Shafira menatap Dinda sekali lagi dan berkata,
"Lo beruntung banget, Din. Lo bisa punya banyak orang yang sayang sama lo. Termasuk gue."

Dinda nyengir dan memeluk Shafira erat.
"Gue juga sayang sama lo, Fir. Sahabat selamanya, oke?"

"Selamanya."
Mereka berpelukan.










Pagi itu suasana pesantren mulai terasa sedikit berbeda. Udara masih sama, jadwal masih padat, tapi hati Dinda? Campur aduk.

Usai pelajaran siang, Kak Abiy menghampiri Dinda di dekat perpustakaan. Suaranya tetap tenang, wangi parfumnya khas.

"Din, akhir pekan ini... kamu ada waktu gak?"
"Hmm, buat apa Kak?"
"Aku pengin ngajak kamu keluar sebentar. Jalan-jalan aja, refreshing. Sekalian ngobrol tentang target hafalan kamu juga."

Dinda mendadak canggung. Jantungnya deg-degan tapi bukan karena excited aja—ada perasaan bersalah, bingung, dan... takut.
Ia tersenyum canggung sambil menjawab,

"Aku pikir-pikir dulu ya, Kak."

Di sisi lain, di sisi lapangan belakang asrama cowok, Algi duduk di bawah pohon sambil nge-scroll chat. Nemu satu nama yang bikin dia makin kepikiran: Shafira.

Dia akhirnya memutuskan buat manggil Shafira pas jam istirahat sore.

"Fir, lo masih marah sama gue?"
Shafira diam sejenak, matanya tajam tapi suaranya tenang.
"Gak usah terlalu deket lagi, Gi."
"Kenapa?"
"Mulai sekarang kita deket kalau butuh aja. Gue gak mau perasaan gue muncul lagi."

Algi terdiam. Untuk pertama kalinya Shafira benar-benar membatasi dirinya.

Malamnya, Dinda curhat ke Meisya sambil melipat seragam.

"Meis... menurut lo, gue harus jalan gak sama Kak Abiy?"
"Lo mau?"
"Sebenernya pengen sih... tapi... Algi..."
"Lah! Emangnya Algi siapa lo sekarang?"

Dinda terdiam. Meisya mendekat sambil nyengir.

"Din, lo itu perempuan, lo punya hak buat bahagia. Kalo Algi gak nembak lo, terus lo diem-dieman gitu, ya sampai kapan?"

Dinda menarik napas dalam.
Ia tahu Meisya benar. Tapi hatinya belum tentu sepenuhnya siap...

---

Jangan lupa vote dan jangan rugi baca cerita aku ya??
Bagus nya sad/happy ending yaa kira-kira?🙇

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang