Hari-hari di pesantren kini tinggal kenangan. Suasana ramai dan tawa khas asrama berganti jadi kesibukan baru: menyusun rencana masa depan. Satu per satu, teman-teman Dinda mulai sibuk dengan dunia luar pesantren.
"Lo kuliah di mana, Din?" tanya Ririn sambil rebahan di atas kasur yang mulai kosong karena banyak yang udah pulang.
"Gue daftar di kampus swasta di Jakarta, ngambil Komunikasi," jawab Dinda sambil melipat mukena terakhirnya ke dalam koper. "Lo?"
"Kayaknya gue kerja dulu. Bokap udah nagih biar bantuin usaha," Ririn senyum setengah lega, setengah males.
"Wah cocok tuh lo jaga toko sambil nyindir-nyindir pelanggan," celetuk Fara yang muncul sambil bawa kardus.
"Lo ngatain apa ngajak ribut sih?" Ririn melempar sandal, semua langsung ketawa.
Sementara itu, Algi udah pulang duluan ke Bandung. Tapi sempat kirim pesan:
"Kalau lo jadi kuliah di Jakarta, gue janji... gue bakal nyusul. Minimal ambil kursus di sana. Atau kerja sambil belajar. Gue gak mau jauh-jauh dari lo. Tapi ya... itu kalo lo mau gue deket."
Dinda senyum kecil baca pesan itu. Belum dibalas. Belum siap.
Di sisi lain, Kak Abiy ternyata akan berangkat lagi ke luar negeri untuk lanjut S2. Tapi sebelum pergi, ia sempat mengucapkan selamat secara pribadi ke Dinda.
"Aku doakan kamu sukses ya, Din. Kamu punya potensi. Dan terima kasih... kamu bikin aku betah di Indonesia lebih lama dari yang aku rencanain."
Dinda sempat tertegun. "Sama-sama, Kak. Dan makasih juga udah bantu aku ngaji... dan... ngeliat semuanya lebih dalam."
Fila dan Fara memilih kuliah bareng di universitas negeri di Yogyakarta. Mereka semangat banget, udah cari kosan dan malah beli sepeda lipat kembar.
Sarah? Untuk sementara ia tinggal di rumah tante-nya di Bandung bersama bayi mungilnya. Gama rutin datang menengok dan berusaha jadi ayah yang bertanggung jawab, walaupun belum tentu mereka kembali bersama.
Dan malam terakhir di asrama pun akhirnya tiba. Dinda duduk di tembok lama tempat biasa ia ngobrol dengan Algi. Tapi kini, hanya angin malam yang menyapa.
Dia menulis pesan singkat:
"Gi, thanks ya buat semuanya. Apapun nanti bentuknya, gue harap kita tetap bisa saling doain yang baik."
Belum dikirim. Disimpan dulu di draft.
Dinda melihat langit pesantren untuk terakhir kalinya sebagai santri. Besok, semuanya akan mulai berubah.
—
Setelah kelulusan dan masa-masa di pesantren berakhir, hubungan Dinda dan Algi pun makin jelas. Nggak cuma sekadar saling tatap, kode-kode, dan cemburu diam-diam—sekarang mereka resmi pacaran. Tapi bukan pacaran lebay, tetap versi mereka yang sederhana, lucu, dan saling jaga.
Dinda kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, sedangkan Algi ambil Teknik Sipil. Walau beda kampus, keduanya sama-sama kuliah di Jakarta. Kadang ribet, kadang kangen, tapi selalu cari cara buat ketemu.
⸻
Pagi itu, Algi udah nungguin di depan kampus Dinda sambil bawa dua kopi dingin.
"Aku tungguin dari tadi, loh," kata Algi sambil ngasih kopi.
"Kamu nggak ada kuliah?" tanya Dinda, menerima minuman favoritnya.
"Ada, tapi aku kangen duluan."
Dinda cuma nyengir. "Gombal mulu. Gak pernah absen ya?"
"Ya masa iya aku absen sayang-sayangin kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Fiksi RemajaBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
