Jarak dan Dekat yang Bikin Luka

4.9K 261 0
                                        

Hari-hari Dinda mulai berubah. Ia kini lebih sering terlihat di pojok musala kecil atau perpustakaan pesantren—bukan bersama Ririn dan geng-nya, tapi bersama satu sosok yang lebih dewasa: Kak Abiy, anak Pak Ustad yang baru kembali dari luar negeri.

Awalnya hanya sekadar bimbingan mengaji. Tapi sekarang? Hampir setiap sore mereka menghabiskan waktu bersama, entah untuk setoran hafalan, diskusi tafsir, atau sekadar obrolan ringan yang berujung dalam.

"Dinda," ucap Kak Abiy sambil menutup mushaf-nya pelan. "Kamu percaya jodoh ditentukan sejak kita lahir?"

Dinda sedikit mengernyit, tertawa kecil. "Wah, ini bahasanya udah bukan ayat lagi nih, Kak."

"Aku cuma penasaran," lanjut Kak Abiy. "Kamu udah punya yang deket? Maksudnya... cowok gitu."

Dinda menunduk. "Dulu. Sekarang... nggak tahu."

"Kalau misalnya ada laki-laki yang... serius ngajak kamu ke arah yang lebih baik. Kayak, ngajarin ngaji... ngajak lebih deket ke Allah... kamu mau?"

Dinda gak langsung jawab. Tapi jantungnya berdebar. Ia tahu Kak Abiy bukan sekadar guru mengaji biasa. Sorot matanya dalam, tutur katanya santun, dan... ah, jangankan Dinda, Mesya aja bisa meleleh!







😒 Sementara itu, di sisi lain...

Algi duduk di tangga belakang gedung asrama putra, bareng Rizky, Ilham, Abi, dan Furqon. Ia menggigit gagang botol air minum dengan gusar.

"Gue liat lagi, Din," bisik Rizky. "Si Dinda tuh udah jarang main ama geng cewek lo. Ada apaan sih?"

"Biasa, sibuk," jawab Algi pendek.

"Atau... sibuk ama Kak Abiy?" seloroh Ilham sengaja.

Algi diam.

"Lo kenapa sih, Gi?" tanya Abi sambil nyengir. "Sakit hati? Ditinggalin murid baru yang sering lo cengin tuh?"

Furqon ngakak. "Wah, jangan-jangan lo cemburu, Gi?"

"Bego," potong Algi ketus. Tapi sorot matanya gak bisa bohong.

Ia melihat dari kejauhan. Dinda berjalan keluar dari musala kecil, membawa buku catatan, dan di sampingnya Kak Abiy tersenyum ramah. Mereka berjalan berdua. Dekat. Terlalu dekat menurut Algi.

"Ini kenapa sih tiba-tiba kayak gini?" batin Algi. "Dulu masih bisa ngobrol di balik tembok. Sekarang... bahkan sapa pun jarang."








Malamnya, Dinda kembali ke kamar. Ririn langsung nyeletuk.

"Din, lo sekarang elite banget ya. Pulang dari 'les pribadi' sama Kak Abiy baru balik ke sarang."

Karina ketawa. "Kelas VVIP tuh."

Dinda cuma nyengir. Tapi dalam hati, ada sesuatu yang terasa aneh. Ia suka dengan cara Kak Abiy memperhatikannya. Tapi kenapa tiba-tiba dia juga kepikiran Algi?

Dan entah kenapa... malam itu Dinda gak duduk di pojok kasur yang biasa dia pakai buat ngobrol lewat tembok. Dia cuma rebahan. Sambil menatap langit-langit.

Algi? Diam di balik tembok. Gak ada suara.

Dunia mereka perlahan berubah.




Malamnya, Dinda duduk di pojok kamar sambil mengulang hafalan. Di sekitarnya, suasana kamar agak sepi, Ririn lagi ribut di dapur bantuin Ibu dapur, Meisya baru aja selesai mandi, Karina tidur selonjoran di kasur.

Shafira duduk di pojok tempat tidur sambil membaca novel islami. Ia masih belum sering bicara dengan Dinda, tapi hubungan mereka tak lagi segang dulu.

"Din," sapa Meisya sambil duduk di sebelahnya, "seru ya belajar sama Kak Abiy?"

"Eh?" Dinda kaget.

"Gue pengen juga dong diajarin. Sumpah, dia tuh kayak... ustad yang nyambung diajak ngobrol. Ganteng pula," goda Meisya.

"Serius lu ya," timpal Karina dari kasur.

"Gue sih yakin kalau Kak Abiy jatuh hati sama yang belajar sungguh-sungguh. Kayak Dinda tuh," tambah Meisya sambil sengaja kedip-kedipin mata.

Dinda cuma geleng-geleng.

Tapi tak disadarinya, Shafira melirik dari balik buku. Wajahnya datar. Dingin. Ada sesuatu yang ia rasakan tapi belum dia ucapkan. Perasaan kalah. Tersaingi. Tersingkir. Dan untuk pertama kalinya... takut kehilangan.

🧠 Besok Paginya

Algi berdiri di depan warung kecil di balik dapur pesantren, sambil makan mie goreng plastik.

Dari kejauhan, ia melihat Dinda dan Kak Abiy berjalan dari arah perpustakaan. Mereka seperti ngobrol serius... lalu tertawa kecil.

"Gi... lo liat gak barusan?" tanya Ilham.

Algi ngangguk pelan.

"Gi... lo cemburu ya?" Rizky lagi-lagi muncul dari belakang, bawa air mineral.

"Lo suka Dinda?" tambah Abi.

Algi mendengus. "Gue gak suka sama siapa-siapa."

"Terus Shafira?"

Algi terdiam.

Ilham nyeletuk, "Lo gak sadar ya, Fir tuh suka banget ama lo dari lama. Orang tua kalian deket, bahkan udah kayak sodaraan."

Algi melotot. "Ya makanya... kayak adik gue lah."

Abi geleng-geleng. "Lo gak tau dunia perempuan, Gi. Yang lo kira adik... bisa jadi selama ini dia nyimpen rasa."

Algi diam.

Tapi di pikirannya sekarang? Malah Dinda.

---

Algi and Friends 🥰😋

-maaf buat semuanya kalo lama update nya, atau cerita gaje maaf banget masih amatir

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



-maaf buat semuanya kalo lama update nya, atau cerita gaje maaf banget masih amatir. Jangan lupa buat vote dan komen. Jangan rugi baca cerita aku ya☺-





---

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang