BACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE
Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
Algi duduk di balkon kecil lantai dua. Satu tangan menopang dagunya, yang lain megang mushaf. Tapi dari tadi ayat yang sama dia baca berulang-ulang. Bahkan mungkin nggak nyampe ke baris kedua.
Suara adzan Isya udah lama selesai, dan temen-temennya—Rizky, Ilham, Furqon, Abi—udah pada istirahat. Tapi dia masih di situ. Masih ngeliatin halaman gedung putri dari kejauhan.
Dia gak bisa bohong.
Sejak beberapa hari ini, Dinda makin jarang "nongol" di balik tembok. Makin jarang ngobrol malam-malam. Makin jarang bikin gaduh sama Ririn dan Mesya. Makin... nggak terasa.
Algi tarik napas.
"Baru juga sebulan lebih dikit... tapi rasanya kayak kehilangan," gumamnya sendiri.
Dia masih ingat, Dinda yang pertama kali datang, sok galak, banyak protes, dan selalu bikin suasana hidup. Tapi sekarang... Dinda yang sama itu udah sibuk dengan Qur'annya. Sibuk dengan hafalannya. Sibuk... dengan Kak Abiy.
"Abiy..." desis Algi lirih.
Sosok sempurna, anak Pak Ustad, lulusan luar negeri, ngajinya bening, wajahnya bening, auranya pun... ya gitu lah, bening juga. Siapa yang bisa bersaing?
Dan sekarang, Dinda — yang dulu sering Algi bentak karena nyasar ke gedung cowok — malah tiap sore ngaji privat bareng Kak Abiy.
"Cuma ngajarin ngaji, Gi..." ucapnya pelan. "Cuma ngajarin ngaji, kok bisa bikin lo cemburu?"
---
Dinda duduk bersila, mushaf terbuka, matanya serius. Di depannya, Kak Abiy menunduk, memperhatikan tajwid dan makhrajnya.
"Coba ulangi ayat yang tadi, Din. Huruf 'dzal'-nya masih ketelen dikit." Suara Kak Abiy lembut, tapi tegas.
Dinda mengangguk, mengulang pelan.
Satu... dua... tiga baris.
"Astagfirullah... maaf Kak," Dinda menutup wajahnya. "Salah terus, aku tuh kayaknya lambat banget deh. Udah diajarin berkali-kali tetep juga blepotan."
Kak Abiy tersenyum kecil. "Lambat itu bukan salah. Yang penting kamu mau terus belajar. Aku dulu juga begitu, Din."
Dinda melirik, agak nggak percaya. "Kakak? Kayak gini?" Tangan menunjuk ke dirinya sendiri. "Kerepotan kayak aku gini?"
Abiy tertawa pelan. "Iya. Aku juga pernah di posisi kamu. Tapi waktu itu aku dikasih tugas khusus sama ayah..."
Dinda diam, mendengarkan.
"...suruh nulis ulang satu surat panjang dalam tulisan tangan. Terus tafsirinnya juga pelan-pelan. Baca maknanya. Renungin. Sekarang giliran kamu."
Dinda kaget. "Eh, aku juga disuruh nulis ulang Qur'an?"
"Coba kamu tulis ulang surat Al-Mulk. Satu surat aja. Tiap malam dua baris. Tapi bukan cuma nulis. Renungin juga. Apa yang kamu rasain. Nanti minggu depan kita bahas."
Dinda mengangguk pelan. "Siap, Kak..."
Kak Abiy tersenyum. "Din, ayat-ayat itu bukan cuma buat dihafal. Tapi buat diresapin. Mungkin nanti kamu bisa nemuin jawaban dari hal-hal yang kamu bingungin sekarang."
Dinda menatap Kak Abiy. Untuk pertama kalinya, hatinya tersentuh... bukan karena perhatian laki-laki. Tapi karena nasehat yang lembut... dan menyentuh jauh ke dalam.
⸻
📍Gedung Putra – Kamar Malam
Algi lagi rebahan, tatapan kosong ke langit-langit. Rizky masuk kamar sambil bawa cemilan, langsung baca situasi.
"Waduh... ini tatapan Algi udah kayak anak yang ditikung waktu upacara bendera."
Algi nggak merespon.
"Lo masih mikirin Dinda ya?" tanya Ilham.
Furqon langsung nyeletuk: "Lagian... lo tuh nungguin suara dari balik tembok, padahal dia sekarang sibuk sama Kak Abiy."
Abi menimpali: "Dan Kak Abiy itu ya... model cowok yang kayaknya kalo senyum aja bisa bikin cewek istighfar."
Semua ketawa.
Kecuali Algi.
"Gi, lo ngaku deh. Suka ya sama Dinda?" — Rizky
Algi diem sejenak, lalu pelan-pelan jawab: "Gue... nggak tahu. Tapi gue sadar... semenjak dia sibuk ngaji, sibuk benerin hidupnya... gue ngerasa kayak ditinggalin."
Ilham nunduk. "Kadang... rasa kehilangan baru muncul pas sesuatu itu mulai menjauh ya."
Algi ngelirik. "Atau mungkin... gue yang nggak pernah ngasih tempat buat dia deket dari awal."
⸻
📍Gedung Putra – Subuh
Algi bangun, buru-buru ambil wudhu. Tapi sebelum ke masjid, dia berhenti sebentar di lorong dekat tembok pembatas. Dia nyoba bisik:
"Din... lo denger gue gak?"
Gak ada jawaban.
"Lo lagi ngaji ya?"
Masih sepi.
Algi senyum kecut. "Semoga lo bahagia di jalan yang lo pilih... meski lo gak cerita lagi ke gue."
⸻
📍Ruang Bimbingan – Hari Berikutnya
Kak Abiy nyambut Dinda pagi itu dengan senyum seperti biasa. Tapi hari ini, ekspresinya lebih dalam.
"Gimana? Udah mulai nulis?"
Dinda mengangguk. "Baru lima ayat."
"Udah kamu renungi maknanya?"
Dinda mengangguk lagi.
Kak Abiy lalu berkata, "Minggu depan ada jadwal ngisi kultum ba'da Maghrib. Aku akan bantu kamu nyusun kata-katanya. Kamu yang isi ya?"
Dinda kaget. "Aku?"
"Iya. Aku percaya kamu bisa. Dan mungkin... Allah pengen kamu ngomong bukan cuma buat kamu sendiri, tapi juga buat yang lain."
---
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Btw, furqon yang mana ya? Penasaran kan sama furqon? Makanya jangan lupa buat terus baca cerita aku, vote dan komen ya. Jangan rugi juga ya buat baca baca cerita aku😊 Dan yang paling kiri itu Algi ya-