Belajar

6.3K 293 10
                                        

Bacaan itu lagi-lagi tersendat.

"Wal-'aadiyaati dhab-..."

Dinda menahan napas. Dadanya sesak. Ayat itu sudah dia ulang sejak tadi pagi. Tapi lidahnya terasa kelu, dan huruf-huruf Arab itu seperti menari liar di kepalanya.

Tangannya gemetar memegang mushaf. Berkali-kali matanya menyapu baris-baris ayat, tapi tak satu pun menempel di ingatan.

Suara-suara santri lain mengaji dari kejauhan terdengar merdu dan lantang. Lalu suara gurunya membacakan satu ayat pendek untuk diuji.

"Dinda, ayo terusin ayatnya."

Dinda diam.

Lalu perlahan ia berkata pelan, "...nggak bisa, Bu."









📍Sudut Musholla

Ia duduk sendiri. Matanya sembab. Air mata mengalir perlahan saat ia menunduk memandangi mushaf kecil di pangkuannya.

"Ya Allah, kenapa segini susahnya ya..."

Lalu ia ingat ucapan Ustazah di pelajaran pagi:

"Siapa yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata karena belum lancar, dia dapat dua pahala: pahala membaca dan pahala karena kesulitannya."

Dinda menarik napas panjang, tapi hatinya masih remuk. Ia merasa kecil sekali. Bukan cuma karena belum lancar... tapi karena merasa tak pantas berada di lingkungan ini. Apa dia cocok jadi santri? Apa dia bisa bertahan?








📍Beberapa Saat Kemudian

Tiba-tiba sebuah suara memecah hening.

"Din... lo kenapa?"
Itu Ririn.

"Iya, lo nangis ya?" Karina ikut duduk di sebelahnya.

"Gue... ngerasa bodoh banget. Baru dua ayat aja bisa lupa, kayaknya gak layak di sini."

"Jangan ngomong gitu, Din." Meysha ikut duduk dan menatapnya penuh kasih. "Rasulullah juga pernah buta huruf, tapi beliau tetap jadi yang paling mulia. Ngafalin Qur'an itu bukan buat jadi juara, tapi buat jadi dekat sama Allah."

"Betul," tambah Shafira pelan, untuk pertama kalinya bicara ke Dinda setelah sekian lama. "Kita semua dulu kayak lo juga. Hafalan itu butuh sabar dan niat. Bukan buat cepat-cepat, tapi biar berkah."





📍Malam Hari — Kamar Santri

Dinda mulai membuka kembali mushafnya, kini ditemani semua teman kamarnya. Ririn membawakan air minum, Karina motret catatan hafalan dan ngeprintin untuk Dinda, Meysha duduk sambil bawa tasbih.

"Bismillah, kita ulang lagi dari awal ya," kata Meysha.

"Kali ini jangan takut salah ya, Din. Allah suka banget sama yang terus nyoba." sambung Shafira.

Mereka mengulangi ayat per ayat, pelan-pelan, sembari memperbaiki makhraj dan tajwid. Tiba-tiba, suasana kamar mereka berubah jadi ruang belajar yang khidmat.

Di tengah kelelahan, Dinda merasa ada yang hangat menyelimuti hatinya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan arti kalimat "Inna ma'al 'usri yusra" — sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.







📍Ending Scene Malam Itu

Dinda bersujud lama dalam sujud terakhir shalat Isya-nya. Tangisnya pecah — bukan karena lelah, tapi karena hatinya merasa disentuh sesuatu yang suci.

Ketika dia bangkit dari sujud, matanya masih basah, tapi hatinya terasa ringan.

Langkahnya terasa lebih tegak saat kembali ke kamar. Ia tahu: perjuangan menghafal ini bukan perlombaan... tapi jalan panjang menuju cinta-Nya.














---


-Maaf kalo update nya lama, maaf kalo ceritanya jelek karna ini juga masih amatir. Jangan lupa komen dan vote. Dan jangan rugi juga baca cerita aku. Makasih😊-

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang