📍Aula Utama Pesantren — Pagi Hari
Hari itu, suasana aula utama mendadak sunyi senyap. Seluruh santri berkumpul, duduk rapi beralaskan sajadah. Deretan Ustadz dan Ustadzah di kursi depan, anak-anak yatim undangan, bahkan beberapa wali santri hadir di barisan belakang. Semua menanti momen kultum pembuka bulan baru. Dan untuk pertama kalinya... yang berdiri di mimbar itu adalah gue.
Gue, Dinda. Si murid baru dari Jakarta. Si cewek yang dulu lebih hafal lirik lagu party daripada surat pendek. Sekarang, berdiri di depan ratusan pasang mata... dengan Al-Qur'an di tangan.
Jantung gue mau copot. Tangan dingin. Tapi suara Kak Abiy masih terngiang:
"Ngomong aja dari hati. Kalau kamu ngomong dari hati, suara kamu bakal didengar sama langit."
Gue menarik napas, membuka mukaddimah dengan bismillah, dan...
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."
Dan aula meledak dengan diam. Semua mendengarkan.
Gue bawain kultum tentang "Hijrah Batin: Saat Kita Gak Lagi Nyaman di Dunia Lama". Tentang keputusan berat. Tentang kehilangan. Tentang bagaimana kadang Allah harus ngerampas sesuatu dari kita supaya kita balik ke jalan-Nya.
Gue cerita, tanpa menyebut nama Gama, tentang ditinggal saat sayang-sayangnya. Gue cerita tentang gimana sakitnya rasa malu jadi anak baru di pesantren, tapi juga gimana semua itu ngebentuk gue jadi yang hari ini berdiri di depan mereka.
Waktu gue selesai... ruangan masih hening. Lalu tepuk tangan pelan... lalu ramai... dan semua berdiri.
Gue lihat Ririn melompat-lompat sambil nangis, Karina dan Meysha peluk-pelukan. Bahkan Shafira... senyum. Bener-bener senyum. Pelan, tapi tulus.
Di belakang, Kak Abiy berdiri pelan dan mengangguk. Bangga.
Tapi yang menarik perhatian gue... adalah Algi.
Dia berdiri juga. Tapi gak tepuk tangan. Dia cuma... liatin gue. Matanya kayak marah, tapi juga... kagum?
Gue turun dari panggung, dan begitu sampai ke bawah, Ririn langsung nyosor.
"GUE PUNYA TEMEN BENERAN SEKARANG ANJAY! DINDA CERAMAH NIH GES!!"
Karina nepuk kepala gue. "Bangga sih. Tapi ya... jujur, lo tadi kayak... Dinda yang gak gue kenal. Bukan negatif ya, tapi... kayak... Allah udah 'nyentuh' lo."
Gue senyum aja. Hati gue masih bergetar.
⸻
📍Beberapa Jam Kemudian — Taman Belakang Pesantren
Gue lagi duduk di bawah pohon sambil buka buku hafalan waktu Algi nongol. Dia diem lama, baru duduk di bangku yang agak jauh dari gue.
"Tadi... bagus banget," katanya lirih. "Kayak lo udah bukan Dinda yang gue kenal."
Gue cuma senyum tipis. "Emang kenal gue sejauh apa?"
Algi diam, terus mainin rumput.
"Gue... gak tahu. Tapi kayak... ada bagian dari lo yang gue gak bisa ikutin sekarang."
Gue noleh. "Maksud lo?"
"Lo sekarang deket banget sama Kak Abiy. Lo ceramah. Lo... tumbuh cepat. Gue masih di sini. Berisik di balik tembok."
Gue kaget. Algi cemburu?
"Algi..." suara gue pelan. "Lo temen gue. Yang ngebantu gue dari awal, yang bikin hari-hari pertama gue gak sepenuhnya gelap. Tapi kalau ini bikin lo ngerasa... kalah atau kehilangan, itu bukan maksud gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
