BACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE
Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
Suara Mama yang lembut membangunkan Dinda dari tidurnya. Gadis berusia 17 tahun itu membuka mata dengan malas, lalu menoleh ke arah pintu kamar. Rambutnya tergerai berantakan, tapi tetap saja pesonanya tidak luntur. Dinda punya paras yang memikat—kulit kuning langsat, hidung mancung khas keturunan Arab, dan senyum manis yang bisa bikin siapa pun jatuh hati.
"Pagi-pagi gini, Ma? Libur, kan?" gumam Dinda, masih setengah sadar.
Mama hanya tertawa kecil. "Iya, tapi kita mau pergi. Cepat mandi dan siap-siap, ya."
Dinda mengerutkan kening. "Pergi ke mana, sih?"
"Ke pesantren," jawab Mama singkat.
Dinda sontak duduk tegak. "Pesantren? Serius, Ma? Buat apa? Liburan kok malah ke pesantren?"
Mama tersenyum, tidak menjawab panjang. "Ikut aja, Dinda. Nanti juga ngerti."
—
Aku mondar-mandir di kamar, mataku terus menatap layar ponsel yang tak kunjung menyala. Jemariku gemetar saat menekan tombol hijau untuk yang kesekian kali. "Ayo dong, Sar... angkat, please..." gumamku, nyaris seperti doa.
Suara sambungan telepon berdenging pelan, tapi tak kunjung dijawab. Lalu— "Halo?" "Sar! Akhirnya! Gue butuh lo banget sekarang. Lo di mana? Bisa bantuin gue kabur gak dari semua kekacauan ini?"
Hening sebentar di ujung sana. "Gue... nggak bisa, Din." "Kenapa, Sar? Lo sahabat gue, lo tahu sendiri gue udah nggak tahan di rumah ini..."
Tuut. Tuut. Sambungan terputus. Dia menutupnya.
Aku mematung, menggigit bibir menahan amarah dan kecewa. Aku buru-buru menekan nama berikutnya di kontak: Gama. "Jawab dong, Mas..." bisikku, nyaris putus asa. Tapi tidak ada suara. Tidak ada jawaban. Hanya nada sambung yang terus memekakkan telinga.
"Apa mereka masih tidur? Atau... mereka emang sengaja nggak mau bantuin gue?"
Aku menjatuhkan tubuhku ke kasur. Memandang langit-langit kamar yang kini terasa seperti penjara. Dada terasa sesak.
"Aku nggak minta banyak... cuma pengen pergi dari sini. Dari semua ini."
Air mata menggantung di sudut mataku. "Kenapa Mamah selalu maksa aku masuk pesantren? Aku bukan dia... aku bukan anak yang dia harapkan..."
Aku menutup wajahku dengan bantal. "Dia ngancurin masa muda aku! Aku benci semua ini!"
—
Dengan rasa bingung yang belum terjawab, Dinda pun melangkah ke kamar mandi. Setelah mandi, ia mengenakan baju panjang warna putih, celana kain, dan kerudung polos. Ia menatap dirinya di cermin. Meski bukan tipe yang sering tampil tertutup, ia tak bisa menyangkal bahwa tampilannya tetap menawan.
Keluar dari kamar, Mama langsung tersenyum melihatnya. "Masya Allah... cantik banget anak Mama."
Dinda tersipu, tapi tetap saja hatinya penuh tanya. "Mama, seriusan nih ke pesantren?"
Mama menatap Dinda penuh arti. "Serius. Ini bagian dari perjalanan kamu jadi lebih baik."
Dan begitulah, pagi itu mobil mereka melaju meninggalkan rumah. Dinda memandangi jalanan dengan hati penuh tanya. Ia belum tahu bahwa tempat yang akan mereka tuju bukan sekadar pesantren biasa—melainkan tempat yang diam-diam akan mengubah hidupnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
----MAAF KALAU JELEK MASIH AMATIR,TOLONG TINGGALKAN JEJAK. SAYA SEDANG MENCOBA BERKARYA TERIMAKASIH☺----