Hari itu, matahari pagi seperti menyelimuti pesantren dengan kehangatan yang aneh—bukan karena cuaca, tapi karena kabar yang baru saja diumumkan oleh Pak Ustad usai sholat subuh berjamaah.
"Ananda semua, mulai besok, pesantren kita akan libur selama dua minggu. Fokuskan waktu untuk istirahat dan juga mempersiapkan diri menghadapi tahun ajaran terakhir dengan sebaik-baiknya."
Seisi masjid heboh. Ririn langsung jingkrak-jingkrak kecil dengan Karina. Meisya senyum simpul, sedangkan Shafira hanya mengangkat alis tipis, mencoba terlihat biasa saja. Dinda? Dia bengong.
"WOOOOYYYY!!! LIBURRRR!!" seru Rizky dari arah saf laki-laki. Suara Abi dan Ilham menyusul, bersautan seperti burung-burung liar lepas kandang.
"Akhirnya kita bisa mandi air hangat lebih dari lima menit tanpa antre!" Ririn berseru sambil melirik ke arah Meisya dan Karina.
Tapi Dinda tetap diam. Kakinya seperti tertahan di tempat.
"Lu nggak seneng, Din?" bisik Meisya sambil menatapnya.
Dinda menggeleng pelan. "Gue seneng... cuma, kayaknya dua minggu tuh bakal terasa ganjil."
**
Usai sarapan pagi, suasana pondok berubah drastis. Semua sibuk menyiapkan barang, menulis pesan kecil, dan saling titip salam. Tangisan kecil terdengar di beberapa sudut kamar.
Dinda berdiri di antara koper-koper dan tas kain. Shafira melipat jilbabnya satu per satu. Meisya mengumpulkan barang yang mau dipaketkan ke rumahnya. Karina sibuk dengan snack yang dikumpulkan buat bekal. Ririn? Dia malah bikin video TikTok yang akan di-upload pas libur.
"Ayo dong Din, peluk dulu sebelum libur! Nanti kangen loh!" teriak Ririn tiba-tiba sambil buka tangan lebar-lebar.
Dinda menatapnya, lalu tersenyum. Ia melangkah dan memeluk Ririn, diikuti Karina dan Meisya yang ikutan menumpuk pelukan.
Shafira diam. Tapi kemudian, perlahan mendekat dan memeluk mereka juga. Bukan pelukan hangat seperti dulu... tapi cukup. Dan Dinda merasa dadanya aneh. Ia ingin menangis tapi juga tidak ingin terlihat rapuh.
"Semoga liburan ini bikin kita makin kuat ya," bisik Meisya.
"Dan makin pinter ngaji," timpal Karina.
"Dan semoga... hati juga makin kuat," gumam Dinda pelan, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
**
Di luar asrama, Algi berdiri sendirian. Tangannya masuk ke saku jaket. Matanya menatap gerbang utama pesantren yang perlahan mulai dipadati orangtua dan mobil jemputan.
Abi menghampirinya. "Lu kenapa bro? Libur, lo harusnya seneng dong."
Algi mengangkat bahu. "Biasa aja."
"Apaan sih? Lu tuh keliatan nyariin Dinda dari tadi."
Algi diam.
Rizky ikut nimbrung. "Lo ngomong aja gih. Kapan lagi coba dua minggu nggak ketemu?"
"Ngomong apaan sih," elak Algi. Tapi wajahnya nggak bisa bohong.
**
Sementara itu, di depan aula, Dinda sedang melipat kerudung terakhir saat langkah sepatu mendekat. Suara lembut itu langsung bisa ia kenali.
"Assalamu'alaikum, Dinda."
Dinda menoleh. Kak Abiy berdiri dengan senyum khasnya yang ramah dan tenang. "Wa'alaikumussalam, Kak."
"Aku denger kamu bakal ikut pulang ya?" tanyanya.
Dinda mengangguk pelan. "Mau pulang... tapi belum tahu juga."
Kak Abiy menatap langit sebentar, lalu kembali menatap Dinda. "Kalau kamu tetap ingin lanjut belajar ngaji selama libur... aku bisa bantuin via Zoom."
Dinda terbelalak, lalu tertawa kecil. "Zoom, Kak? Serius?"
"Serius dong. Kan zaman sekarang udah canggih. Aku set jadwal, kamu tinggal buka laptop."
"Hmm... oke deh. Tapi... Kak Abiy yakin masih semangat ngajarin aku?"
"Semangat banget," kata Kak Abiy. "Kamu itu salah satu santri yang semangatnya nggak terlihat, tapi terasa."
Dinda tersipu. "Terima kasih, Kak."
—
Pagi itu pesantren seperti pasar pagi. Suara langkah kaki, koper diseret, pintu dibuka-tutup, tangisan kecil yang tertahan, dan pelukan hangat antar sahabat menjadi suasana yang tak bisa dihindari. Semua bersiap pulang. Jemputan sudah berdatangan sejak selepas subuh. Ada yang dijemput ayahnya, ada yang naik mobil keluarga besar, ada yang ditarik-tarik sama adik kecilnya yang ikut datang.
Ririn sudah masuk mobil duluan sambil melambaikan tangan dari jendela dan teriak, "Dinda!!! Kirim kabar ya, kalo lo pacaran sama Kak Abiy! atau sama Algi Gue bakar musholla!"
Karina tertawa ngakak sambil mengacungkan jempol. Meisya malah sibuk peluk-pelukan sama semua orang kayak perpisahan mau ke luar negeri.
"Wah kacau juga si Ririn kalo sampe kedengeran si Shafira hadeh" ucap Karina
Shafira? Duduk di bangku depan musholla putri sambil memainkan ponselnya. Ia tak banyak bicara pagi ini. Tatapannya sering melirik ke arah jalan masuk pesantren.
Dan benar saja, mobil sedan hitam perlahan masuk ke pekarangan. Dari dalam turun seorang perempuan anggun, memakai kacamata hitam dan tas tangan branded. Senyumnya ramah dan familiar. Dinda langsung mengenalinya.
Tante Yuni. Ibunya Shafira.
Namun yang membuat langkah Dinda berhenti adalah sosok yang keluar dari arah asrama putra—Algi, berjalan pelan dengan tas ransel hitam, menuju mobil itu.
"Gi! Yuk berangkat!" sapa Tante Yuni hangat.
Dinda berdiri terpaku. Algi? Dijemput bareng sama ibunya Shafira?
"Tumben," gumamnya pelan.
Algi menaikkan tasnya ke bagasi, lalu sebelum masuk ke mobil, matanya menangkap Dinda yang berdiri di dekat pagar asrama putri.
Ia tersenyum dan berjalan ke arah Dinda. Di belakangnya, Shafira hanya melirik sekilas sebelum masuk ke mobil, membuka kaca jendela depan.
"Lo belum dijemput?" tanya Algi sambil menyipitkan mata karena sinar matahari.
"Dikit lagi katanya. Macet di luar," jawab Dinda santai, meski dalam hati agak sesak melihat Algi dan Shafira satu mobil.
Algi menarik napas. "Yaudah... sampai ketemu lagi dua minggu lagi ya."
"Yoi," jawab Dinda, pura-pura santai.
Tapi Algi nggak langsung pergi. Ia menatap Dinda lebih lama. "Nanti bisa kan kabar-kabaran lewat WhatsApp?"
Dinda ngangkat alis. "Mau banget ya?"
Algi terkekeh. "Ya... kalo kangen?"
Dinda mengangkat dagu sedikit, mata melirik. "Siapa yang bakal kangen?"
"Siapa aja boleh. Tapi kalo kamu, jangan malu-malu," jawab Algi sambil senyum jahil.
Dinda nggak bisa nahan senyum. Tapi dia cepat-cepat balik badan, pura-pura lihat ke arah gerbang. "Udah sana, nanti dijemput Shafira malah lama nungguin lo."
"Shafira yang bareng mobil gue, bukan sebaliknya," ucap Algi, lalu jalan mundur pelan-pelan sambil tetap menghadap Dinda. "Bye, Dind."
Dinda hanya melambaikan tangan.
Dan ketika mobil itu bergerak keluar dari gerbang pesantren, Dinda berdiri diam dengan satu pertanyaan kecil di dadanya.
"Kalo kangen, beneran boleh kan... nanyain dia?"
---
-maaf buat semuanya kalo lama update nya, atau cerita gaje maaf banget masih amatir. Jangan lupa buat vote dan komen. Jangan rugi baca cerita aku ya☺-
---
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
