Matahari sudah mulai condong ke barat. Suara sandal santri bersahutan di koridor, tanda kelas-kelas sore sudah berakhir. Gelas-gelas plastik kosong berserakan di depan kantin. Beberapa anak tertawa lelah, beberapa lainnya mengeluh soal PR tajwid.
Tapi kamar Maryam... masih sepi.
Dinda masih di dalam, meringkuk di balik selimut, sejak siang tadi. Pintu dikunci dari dalam. Gorden ditutup. Dan ponsel di kantong rok seragam, dimatikan sejak dari lab komputer tadi siang.
Tangisnya udah kering, tapi kepalanya masih berat. Hatinya... kosong. Mual rasanya.
Dia tahu, lama-lama gak bisa sembunyi terus. Tapi gimana bisa keluar dan pasang muka biasa aja? Gimana bisa jawab kalau Ririn atau Mesya nanya-nanya soal kenapa dia gak balik kelas?
Dinda bahkan gak tahu gimana caranya napas normal lagi, setelah hatinya diremukkan dengan sangat rapi.
📍Lima belas menit kemudian...
Tok. Tok. Tok.
"Dinnnn," suara Ririn dari luar.
"Ih, lo kenapa gak masuk kelas? Eh jangan-jangan... lo sakit ya?" sambung Karina.
"Din, buka dong. Kita bawa teh manis nih," kata Meysha pelan.
Dinda diam. Tapi suara itu... bikin hatinya hangat sedikit.
Dia pun berdiri, membuka kunci, dan pelan-pelan membuka pintu.
Tiga temannya masuk, melihat Dinda yang mukanya bener-bener beda. Mata bengkak. Rambut awut-awutan. Gak kayak Dinda biasanya.
"Lo nangis?" Ririn langsung duduk di kasur Dinda.
Meysha naruh teh manis di meja kecil, "Din... ada apa?"
Karina ikut duduk, kali ini gak bercanda. Tatapannya serius.
Dinda menggigit bibir. Lalu, setelah diam cukup lama, dia akhirnya ngomong.
"Gue..."
"Gue ada pacar di Jakarta."
Tiga temannya saling pandang.
"Namanya Gama. Kita udah pacaran lama. Waktu gue bilang ke kalian kalo gue kangen Jakarta... bukan cuma karena temen-temen. Tapi juga karena dia."
Ririn membelalakkan mata, "Hah, lo punya pacar?!"
"Sarah juga temen gue. Dan..." Dinda tarik napas panjang. "Gue baru aja liat mereka... dugem bareng. Di Jakarta. Berdua."
Meysha langsung pegang tangan Dinda. "Din..."
"Dan kayaknya, mereka udah selingkuh dari sebelum gue pulang ke sana. Gue... cuma gak peka."
Dinda menunduk. "Selama ini gue kira gue disayang. Gue kira, dia itu orang yang bakal jadi rumah gue. Tapi ternyata... gue itu kayak boneka aja. Cuma ditahan pas lagi butuh, tapi ditinggal pas lagi senang."
Ririn mendekat dan langsung meluk Dinda dari belakang. "Ya Allah Din, gue... gue gak nyangka sih."
Meysha matanya berkaca-kaca. "Lo kuat banget masih bisa tahan sampe sekarang."
Karina, yang biasanya cuek, juga gak bisa banyak ngomong. Tapi dia peluk lengan Dinda pelan.
"Lo gak sendiri, Din."
"Disini... lo punya kita. Mungkin kita gak bisa bales sakit hati lo, tapi lo bisa bagi beratnya ke kita. Jangan pikul sendiri," sambung Meysha.
Tangis Dinda pecah lagi. Tapi kali ini, di pelukan teman-temannya. Gak sendirian. Gak sembunyi. Dia merasa dimengerti.
⸻
📍Beberapa menit kemudian
Suasana kamar udah agak reda. Tisu udah abis dua bungkus. Teh manis tinggal ampas. Tapi hati Dinda masih campur aduk. Sakit, kecewa, malu, semua campur.
Shafira masuk kamar pelan, baru balik dari kelas tambahan bareng Karina.
"Nah tuh, ada Shafira," celetuk Ririn. "Kita ulang dari awal nih! Lo harus tau Sha, cowoknya Dinda yang di Jakarta tuh... GAMA!"
Shafira berhenti naruh buku, langsung duduk di ujung kasur. "Gama?"
"IYA!" sahut Meysha. "GAMA YANG—ternyata dugem bareng sama SAHARA! SAHRAH! SOROH! Apa kek tuh namanya!" suara Meysha makin naik.
"SARAH!" Ririn menimpali. "Temennya Dinda sendiri! Yang dateng ke party bareng-bareng, yang manggil-manggil sayang, yang peluk-peluk. Astaghfirullah, asli gua jijik banget."
Karina ikut duduk di kasur. "Gue mah udah bilang dari awal. Orang kayak Sarah tuh vibe-nya licik. Cantik, iya. Tapi mulutnya... licin."
"Dan Gama juga gak ada bedanya!" sambung Meysha. "Cowok apaan coba, minta jangan diganggu katanya kangen, tapi malah peluk-peluk cewek lain. Di club pula. KALO LU MAU NGEHE BATINYA, JANGAN SAMA SAHABATNYA PACAR LU, GOBLOK!"
Dinda cuma bisa nutupin muka pakai selimut. "Gue malu banget..."
"JANGAN MALU, DINDUT!" seru Ririn. "Yang harus malu itu tuh si Gama dan si Sahara! Mereka tuh yang pantas dijadiin meme: 'kalo sahabat sendiri tikung pacar sendiri, disitulah Dinda merasa sedih.'"
Semua pada ketawa meski masih kesel.
Meysha berdiri dan berdiri sambil gaya pidato, "SAYA NYATAKAN! GAMA DAN SARAH... HARAM DIKENANG, WAJIB DI-LUPAKAN!"
Ririn tepuk tangan. Karina ikut ngakak. Dinda akhirnya bisa ketawa juga, walau masih sesekali tersedak tangis.
Di sudut kasur, Shafira cuma diam. Tapi dia gak nyela. Gak sinis. Gak dingin seperti biasanya. Dia hanya memandangi Dinda lama... lalu menghela napas.
"Din," kata Shafira pelan. Semua langsung diem.
"Gue gak suka drama kayak gini... tapi yang lu alamin... itu gak seharusnya dialamin siapa pun. Bahkan sama orang yang paling gue sebelin sekalipun."
Mereka saling pandang.
Dinda pelan-pelan buka selimutnya. Mata mereka saling bertemu. Dan Dinda tahu, itu bukan permintaan maaf... tapi mungkin langkah pertama.
Mereka masih gak seakrab dulu. Tapi mulai saling ngerti.
Dan sore itu ditutup dengan satu janji dari semua orang di kamar itu:
"Siapa pun yang nyakitin lo, Din... sekarang dia punya musuh satu asrama."
-maaf ya kalo gajelas, karena masih amatir. Dan jangan lupa buat baca, koment, dan vote. Jangan rugi baca ceritaku, makasih😊-
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
