Malam Api unggun malam yang patah

3.6K 207 5
                                        

Malam itu, langit di atas Puncak dipenuhi bintang. Udara dingin menusuk kulit, tapi kehangatan di sekitar api unggun cukup membuat semua yang hadir lupa akan dingin yang menggigit.

Salah satu kakak pembina sibuk menyalakan kayu-kayu kering, disusul sorak-sorai dari santri-santri yang melihat kobaran api pertama menjilat langit.

"Waaah! Kereen!"
"Jangan lupa bakar jagung, bego!"
"Woy itu minyak, bukan kecap! Sate ayam lu ntar kebakar!"
Suasana meriah.

Beberapa santri sibuk masak mie, bakar jagung, dan bahkan ada yang nyolong cabai dari dapur tenda untuk bikin sambel. Ririn, Meisya, dan Karina asik selfie bareng, sementara Dinda duduk di pojokan bareng Mesya dan Kak Abiy yang lagi ceramahin mereka tentang makna hidup sambil ngeteh. Lucunya, Meisya malah sibuk godain Kak Abiy tiap dia ngomong serius.

Di sisi lain api unggun, Shafira duduk sendiri. Kakinya yang masih keseleo dibebat perban, membuat dia cuma bisa jadi penonton. Tapi malam itu, dia tak sekadar jadi penonton acara api unggun.

Karena malam itu... dia memutuskan untuk bicara. Dengan Algi.

Di Tepi Api Unggun

"Gi..."
"Hmm?" Algi menoleh dari jagung bakarnya. Ia duduk agak jauh dari teman-teman cowoknya karena baru aja nganterin minuman ke Dinda... eh maksudnya ke orang-orang.

"Boleh ngomong sesuatu gak?"
"Boleh. Kenapa?" tanya Algi sambil nyenderin bahu ke batang pohon. Napasnya membentuk uap kecil karena dingin.

Shafira menggenggam jaket tebalnya, seolah mencoba menyembunyikan kegugupan. Tapi akhirnya dia bicara.

"Gi... aku udah simpen ini lama. Tapi rasanya kalau aku gak bilang sekarang, aku bakal nyesel selamanya..."

Algi menoleh. Matanya tenang. Dia udah mulai bisa nebak arahnya ke mana.

"Aku suka kamu, Gi."

Suara itu lirih... tapi jelas. Dibalut kabut malam dan isak yang coba ditahan.

"Dari dulu. Dari kita kecil... dari kamu selalu belain aku waktu aku dibully. Dari kamu selalu dateng tiap Mama aku sakit. Dari kamu selalu anggap aku ada, walau mungkin aku nggak pernah sepenting itu buat kamu."

Shafira menatap Algi. Harapannya jelas. Wajahnya merah. Bukan karena api... tapi karena seluruh isi hati udah dia buka.

Algi terdiam cukup lama. Tapi akhirnya, dia menghela napas.

"Shaf... maaf ya."

Deg.
Kalimat itu kayak palu godam buat Shafira.

"Aku sayang sama kamu, iya. Tapi... bukan sayang kayak yang kamu pikir."

"Kamu itu keluarga. Bahkan lebih dari itu. Kamu bagian dari hidup aku, dari kecil sampai sekarang. Tapi bukan sebagai orang yang aku cintai dalam hubungan kayak... cowok-cewek. Kamu itu adik, sahabat. Dan kamu tau sendiri kan, gimana hubungan keluarga kita..."

Shafira mulai menangis.

"Tapi aku bisa berubah, Gi... aku bisa jadi cewek yang kamu suka."

"Masalahnya bukan soal kamu, Shaf. Tapi soal perasaan aku."

Algi menunduk.
Suaranya pelan. Tapi tegas.

"Aku... udah punya rasa itu buat orang lain."

Shafira terdiam.
Ia tidak tanya siapa.
Ia tidak minta kejelasan. Karena dalam hatinya, dia sudah tahu.

Itu Dinda.

Perempuan yang diam-diam mulai menjauh dari lingkaran mereka. Yang selalu dicari mata Algi tiap pagi. Yang bisa bikin Algi berubah tanpa dia sadari.

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang