Kabut masih menggantung rendah di antara pepohonan pinus. Embun pagi menempel di setiap daun, menetes pelan seperti air mata yang tak jadi jatuh. Angin tipis membawa dingin yang menusuk sampai ke tulang, tapi para santri tetap sibuk membereskan tenda dan perlengkapan camping mereka.
Di antara keramaian itu, Dinda berdiri agak jauh dari tenda cewek, memeluk jaketnya erat-erat. Rambutnya dikuncir kuda, wajahnya lelah tapi tetap terlihat cantik dengan sisa-sisa air wudhu subuh tadi. Dia memandangi kebun teh yang mulai tersibak cahaya matahari. Tapi bukan keindahan alam yang dipikirin — melainkan perasaan-perasaan yang tertahan dari semalam.
"Din! Lo udah beresin tas?" tanya Meisya sambil bawa sleeping bag digulung.
"Iya, udah," jawab Dinda pelan.
"Eh, Ririn tuh lagi cari-cari lo. Katanya temen-temen bus cowok udah ngumpul semua."
Dinda mengangguk dan berjalan pelan ke arah tempat kumpul, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Shafira duduk di kursi lipat dekat api unggun yang sudah padam. Mata Shafira sembab, tapi pagi ini dia berusaha tetap bicara sama temen-temennya seperti biasa.
Dinda menatapnya sejenak.
Ada rasa ingin mendekat. Tapi ada juga tembok besar bernama "luka hati" di antara mereka.
⸻
Di sisi lain lapangan, Algi sedang membantu Abi dan Rizky nge-pack tenda cowok. Tapi pandangan matanya bolak-balik ke arah Dinda. Masih kayak ada yang belum selesai dari semalam.
"Bro, lo kenapa sih murung amat?" bisik Rizky sambil ngikat tenda.
"Lo tuh dari semalam diem aja, ngelamun, mainin kerikil, ngedumel," tambah Furqon.
"Abis itu nolak cewek yang lo tau dari kecil. Lo sehat gak sih?"
Algi mendesah pelan, "Udah lah..."
"Eh tapi serius," kata Abi, "tadi gue liat lo ngeliatin Dinda kayak cowok-cowok FTV yang baru nyadar dia cinta sama sahabatnya sendiri."
Algi langsung ngelemparin bantal ke arah Abi. "Mulut lo bisa direhab gak sih?"
Semua ketawa, walau Algi cuma senyum tipis. Dia tau, ada yang harus dia lakuin sebelum semuanya makin ngerasa jauh.
⸻
Saat semua udah siap, tinggal nunggu bus datang...
Dinda duduk di pinggir tenda sambil mainin ponsel, pura-pura sibuk padahal sebenernya cuma buka galeri foto-foto camping semalem. Tiba-tiba...
"Din."
Suara itu datang dari belakang. Dinda menoleh.
Algi berdiri di sana. Tangannya masuk ke jaket, rambutnya acak-acakan, mata sedikit sembab karena kurang tidur.
"Lo masih marah sama gue ya?"
Dinda diam.
"Gue nggak tahu lo pikirin apa. Tapi gue cuma mau bilang, gue nggak pernah anggap perasaan lo remeh. Gue... cuma bingung harus gimana. Semua kejadian ini tuh cepet banget, dan gue... ya lo tau sendiri, gue kadang tolol banget urusan perasaan."
Dinda mendesah.
"Ya udah, Gi. Kita balik ke pesantren aja ya. Udah capek mikirin semua ini."
Algi mengangguk. Tapi sebelum Dinda jalan, dia menahan lengan Dinda pelan.
"Tapi lo harus tahu satu hal. Gue sayang sama lo, Din. Bukan cuma temen, bukan cuma santri sebelah tembok. Tapi lebih dari itu."
Dinda terdiam.
"Gue ngerti kalo lo masih belum bisa bales perasaan gue sekarang. Gue gak maksa. Tapi... jangan jauhin gue. Itu aja."
Dinda gak menjawab, tapi dari cara dia menatap, kayaknya dia mulai sedikit... goyah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
