Suara mesin mobil berhenti. Dinda membuka pintu dengan hati yang berdebar aneh.
Pesantren. Bau khas tanah lembap, daun jati, dan sedikit aroma kayu dari bangunan tua menyambutnya. Di balik gerbang itu, semuanya menunggu. Tapi apakah semuanya masih sama?
"Bismillah, balik lagi ke realita," gumamnya.
Ia disambut oleh beberapa santri yang juga baru datang. Di depan asrama putri, Shafira sedang duduk di bangku taman kecil sambil mainin botol minum. Meisya dan Karina baru saja sampai juga, terlihat sibuk menggotong barang-barang mereka.
"Ohh! Itu Dinda!" Meisya melambaikan tangan.
Dinda tersenyum lebar dan langsung menghampiri.
"Kambing Jakarta balik juga akhirnya!" canda Meisya sambil nyolek lengan Dinda.
"Gue kira lo lupa jalan balik ke pondok," timpal Karina.
"Ya kali," jawab Dinda. "Gue kan rindu juga sama kalian. Walau... ya, dikit."
Semua ketawa, suasana langsung mencair. Shafira hanya menatap Dinda beberapa detik sebelum tersenyum tipis dan mengangguk. Mereka belum benar-benar dekat lagi, tapi vibes-nya sudah nggak seasing dulu.
"Bawa oleh-oleh enggak?" tanya Meisya.
"Ada di koper, ntar malem gue bagi-bagi ya," kata Dinda. "Gue mau beberes dulu, kaki pegel banget sumpah."
Begitu mereka masuk ke kamar, Ririn langsung nyorakin, "Waaa balik juga si centil! Liburannya pasti heboh banget yaaa?"
"Apaan sih Rin, biasa aja kok," jawab Dinda sambil senyum kalem.
Geng kamarnya—Ririn, Karina, Shafira, dan Meisya—sama sekali nggak tahu kalau selama dua minggu ini Dinda sempet jalan bareng Algi, makan bareng, teleponan malem-malem, dan... ada momen hampir ditembak tapi ditahan dulu karena Dinda belum selesai sama perasaan lamanya. Semua itu tetap terkunci di hati Dinda.
Apalagi mereka semua tahu bahwa HP dilarang di pesantren, jadi nggak ada yang nyangka kalau Dinda dan Algi sempat sedekat itu.
Sore harinya, anak-anak cowok juga udah balik. Lapangan pesantren mulai rame lagi, terdengar suara bola basket dan canda tawa cowok-cowok dari arah asrama putra.
Algi yang baru turun dari lantai atas sempat ngelirik ke arah asrama putri dari kejauhan. Saat melihat Dinda di taman asrama bareng Shafira dan Meisya, dia cuma senyum simpul. Tapi langsung mingkem waktu Rizky nyeletuk, "Eh, tuh tuh si Dinda... jalan ke taman. Geli liat lo ngeliatin gitu."
"Apaan sih," kata Algi cepat-cepat.
"Ngaku-ngaku ngga pernah jalan bareng, padahal dua minggu kemarin..."
"Ssssst! Nggak usah ribut!" bisik Algi.
"Yaaaelah kita kan bro sejati. Tapi tenang, rahasia aman kok."
Algi hanya bisa garuk-garuk kepala sambil balik ke kamar, mencoba menyembunyikan senyum bodohnya sendiri.
Sementara itu, di kamar putri, Dinda buka koper dan mulai bagiin oleh-oleh—cokelat, gantungan lucu, dan sheet mask dari minimarket hits di Jakarta.
"Lo gila ya Din, ini masker satuannya mahal!" kata Ririn.
"Eyaa, siapa suruh kangen sama gue," jawab Dinda.
Shafira diam saja, tapi sesekali matanya mengamati Dinda dengan senyum kecil. Masih ada sedikit cemburu dan ganjalan, tapi perlahan... dia belajar berdamai.
Dan begitu malam tiba, semua anak asrama pun kembali ke rutinitas: shalat berjamaah, belajar, dan sedikit curhat malam sambil ngemil ciki dari koper.
Hanya Dinda yang masih diam di kasurnya. Tangannya membuka catatan kecil, lalu menulis:
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
