komputer, kabar dan kenyataan

3.5K 211 4
                                        

Hari-hari setelah api unggun terasa aneh buat semua orang.

Terutama buat Algi.

Sejak kejadian Shafira mengutarakan perasaannya dan kemudian bilang, "mulai sekarang kita deket sebutuhnya aja," hati Algi nggak pernah tenang. Dia merasa bersalah. Banget.

Selama ini dia pikir sikap baiknya ke Shafira wajar, toh udah kayak adik sendiri. Tapi ternyata, justru itu yang bikin Shafira terjebak perasaan.
Dan yang lebih parahnya lagi, dia juga belum bisa ngungkapin perasaannya yang sebenarnya ke Dinda. Segalanya kayak jadi salah.

Sore itu, Algi duduk sendirian di bawah pohon dekat lapangan basket. Jaket abu-abu favoritnya dikenakan, ransel masih menggantung di satu pundak. Earphone menyumpal telinga, tapi gak ada musik yang dia dengerin. Hanya diam. Mikirin semuanya.

Tiba-tiba suara yang familiar memecah lamunannya.

"Gi..."
Algi mengangkat kepalanya. Dinda berdiri di depannya, senyum tipis di wajah.
"Lagi sendirian? Boleh duduk?"

Algi hanya mengangguk pelan. Dinda pun duduk di sebelahnya.

Beberapa detik hening. Biasanya kalau mereka ngobrol, rame. Tapi kali ini Algi justru menunduk, mainin rumput.

"Kamu kenapa?" tanya Dinda akhirnya.

Algi menggeleng pelan.

"Capek aja."

"Capek sekolah atau... capek mikirin banyak hal?"

Masih nggak ada jawaban. Dinda mulai merasa aneh. Algi yang biasanya suka becanda, sekarang beda banget.
Bahkan ketika Dinda coba cerita sedikit soal hafalannya bareng Kak Abiy pun, Algi hanya menjawab:

"Bagus deh."

Itu doang.

Dinda makin heran.

"Gi, lo kenapa sih?"
"Gue cuma pengen sendiri dulu. Maaf ya, Din."

Dinda langsung diam. Bukan karena marah. Tapi karena kecewa.
Algi gak pernah se-cuek ini sebelumnya.

Dia menatap Algi sebentar, lalu berdiri pelan dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara Algi menatap punggungnya yang menjauh, dengan wajah yang makin keruh.

"Maaf, Din... gue lagi banyak mikir. Tapi malah lo yang gue lukain sekarang."







Jakarta, pukul 20.45.
Suasana rumah Gama malam itu tidak seperti biasanya. Ayah dan ibunya sedang duduk di ruang tengah, wajah mereka serius, sorot matanya tegang. Gama berdiri di depan mereka, berkeringat dingin meski AC menyala.

"Kamu ulang apa tadi, Gama?" suara ayahnya berat, menekan.

"Sarah... dia... hamil. Dan... dan itu anak saya." Suara Gama nyaris seperti bisikan.

Ibu Gama langsung menutup mulut dengan tangan, shock. Sedangkan ayahnya berdiri, membanting surat kabar yang tadi ada di pangkuannya ke meja.

"Astaghfirullahaladzim! Kamu sadar gak, Gama, kamu itu masih sekolah! Kamu pikir kamu siap tanggung jawab?"

"Saya tahu saya salah, Yah. Tapi saya gak bisa lari. Saya... saya mau tanggung jawab. Saya udah bilang berkali-kali ke Sarah."

"Tanggung jawab? Kamu bahkan baru ngomong sekarang!" bentak ayahnya.

Tangis ibunya pecah. Ia menatap Gama dengan kecewa.

"Kenapa, Gam? Kenapa bisa seceroboh ini?" isaknya.

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang