Ujian

3.4K 189 16
                                        

Hari itu udara pesantren terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tidak ada suara—melainkan karena semua suara berubah menjadi bisikan doa, bacaan ayat, dan degup jantung yang saling menyembunyikan ketegangan. Papan tulis depan aula besar bertuliskan besar-besar:

UJIAN AKHIR KELAS 12 – AKADEMIK DAN SETORAN AL-QUR'AN

Semua santri berseragam rapi. Laki-laki dengan sarung dan koko, perempuan dengan gamis dan jilbab panjang. Wajah-wajah mereka penuh ketegangan, namun juga harapan. Termasuk Dinda.

Pagi Itu di Asrama Putri

Dinda membuka mushaf-nya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Suaranya lirih, mengulang-ulang surat Al-Mulk yang menjadi salah satu setoran wajib.

"Din, siap?" Meisya melongok dari pintu.

"Sebentar, ayat terakhir dulu."

Shafira masuk dan menyodorkan minuman madu. "Nih, biar nggak grogi. Tadi aku minum ini sebelum murojaah."

Dinda menatap dua temannya. Rasanya, hubungan mereka sudah jauh lebih baik sekarang. Setelah semua drama, luka, dan air mata.

Mereka berjalan ke aula sambil menenteng buku catatan, mushaf, dan secuil keberanian yang mereka simpan di dada.

Di Aula Putra

Algi duduk bersila, membaca catatan materi Fiqih yang tebalnya sudah hampir seperti bantal. Rizky dan Furqon saling nyontek catatan, Ilham malah ketiduran di sajadah.

"Gi, lo udah hafal belum surat Al-Waqi'ah?" tanya Abi.

"Udah. Cuma kadang nyangkut di ayat 'fakana li ma'diin'. Kalo gugup, suka salah nyambung."

"Ah, biasa. Gue lebih takut ujian Matematika sih," ujar Rizky.

"Lah, ngapain takut? Lo aja pas ngitung zakat malah nyasar ke rumus debit air," ledek Algi.

Tawa kecil terdengar, tapi tetap diselipi cemas.

Sesi 1: Ujian Akademik

Kelas-kelas dipenuhi suara kertas dibalik, pulpen dicoretkan, dan mulut komat-kamit membaca soal. Ada soal Matematika, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Fiqih, dan lain-lain.

Dinda memutar bolpennya. Soal nomor 8 membuat otaknya mendadak beku. Tapi dia mengingat nasihat Kak Abiy waktu belajar:

"Ujian itu bukan soal benar semua, tapi soal jujur dan berusaha semampunya."

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab perlahan.

Di sisi lain, Algi mengerjakan dengan mantap. Tapi sesekali menoleh ke luar jendela. Entah kenapa, pikirannya justru ke Dinda. Apa dia bisa ngerjain dengan baik?

Sesi 2: Ujian Hafalan Al-Qur'an

Aula disulap menjadi ruang setoran. Satu per satu santri dipanggil. Ada yang berdiri dengan suara gemetar, ada yang lancar luar biasa.

"Santri putri, Dinda Azzahra," panggil ustadzah.

Langkah Dinda maju pelan. Tangannya menggenggam mushaf, walau nanti ia harus menyetor tanpa melihat. Kak Abiy terlihat di barisan penguji. Mereka sempat saling bertukar pandang, tapi hanya sebentar. Sekarang waktunya fokus.

"Silakan mulai dari surat Al-Mulk ayat 10."

Dinda menarik napas. Lalu mulai melafalkan...

"Wa qālū law kunnā nasmaʿu au naʿqilu..."

Suaranya perlahan-lahan stabil, lalu mengalir. Hafalannya tepat. Tak sempurna, tapi cukup menyentuh hati. Selesai menyetor, ia menutup mushaf dengan senyum lega.

Waktu Istirahat

Setelah sesi panjang akademik dan hafalan, para santri istirahat. Ada yang tidur di atas sajadah, ada yang lanjut murojaah buat setoran besok. Ada juga yang diam-diam nulis diari—seperti Dinda.

Di belakang musholla, Algi menghampiri Dinda dari arah tembok.

"Lo udah setor?" bisiknya.

"Udah. Alhamdulillah... mual dulu baru bisa hafal," jawab Dinda ketawa kecil.

"Mual karena grogi?"

"Atau karena banyak pikiran." Balasnya sambil ngelirik Algi, lalu pergi ke aula lagi.

Algi terdiam. Masih banyak yang ingin dia katakan... tapi bukan sekarang.

Malam Hari – Murojaah Terakhir

Di malam yang sunyi, beberapa santri masih belajar. Dinda duduk di musholla dengan Meisya dan Shafira, bergantian membaca. Mereka saling menyimak, saling mengoreksi.

"Duh semoga kita lulus ya," ucap Meisya.

"Iya. Tapi walaupun lulus, gue tetep nggak siap pisah," gumam Shafira.

"Apa pun nanti hasilnya, kita udah berjuang bareng. Dan itu nggak akan pernah ilang," tambah Dinda.

Hari demi hari mereka lalui dengan fokus, tangis, dan tawa. Tak mudah memang. Tapi bukankah hidup bukan tentang hasil, melainkan tentang bagaimana cara kita menjalani prosesnya?

Dan ketika pengumuman kelulusan nanti datang...
Siapkah mereka menerima apa pun hasilnya?








Maaf ya kalo makin gajee, jangan lupa komen dan vote yaaah. Jangan rugi baca cerita akuuh

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang