BACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE
Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu gue duduk di pinggir ranjang, cahaya temaram dari lampu sudut kamar bikin bayangan tembok kelihatan bergerak pelan. Di luar, suara jangkrik bersaing sama bisik-bisik santri yang belum tidur. Tapi kepala gue... nggak di sini.
Gue lagi mikirin mereka. Teman-teman gue di Jakarta. Orang-orang yang selama ini jadi dunia gue.
Fara—si paling berani, si paling 'nggak peduli'. Pernah satu malam, di tengah pesta kecil, gue cium dia cuma karena pengin ngerasain apa yang orang bilang "bebas". Gue pakai kaos biru muda malam itu. Musik keras, lampu remang, alkohol di tangan. Bukan karena cinta. Karena chaos. Karena... kosong.
Fila, cewek manis yang kadang keliatan salah masuk lingkaran. Tapi justru dia yang paling paham kenapa kita semua berkumpul. Dia nggak pernah cerita panjang, tapi gue tahu. Ayah-ibu cerai. Dia tinggal sama kakaknya di Jakarta, sementara ibunya sibuk bisnis di Bandung dan ayahnya kerja jadi pilot di Jerman. Duitnya nggak pernah habis. Tapi pelukannya selalu haus. Dia yang paling sopan, paling sering senyum, tapi juga yang paling nyesek kalo lagi nangis diam-diam di toilet café.
Sarah, yang selalu pegang gelas di pesta, tukang tawa paling keras. Dan Vania, temen clubbing dari sekolah lain—cewek easygoing, bawa motor kencang, mulut tajam tapi hati hangat.
Kami berlima, bukan anak nakal dalam arti kasar. Tapi kami tumbuh dengan celah masing-masing. Kami saling isi, saling kabur bareng, dan saling ketawa biar luka-luka nggak kerasa nganga.
Gue sayang mereka. Dunia gue ada di mereka.
Tapi sekarang, gue di sini. Dikelilingi tembok tebal, suara ngaji, dan malam-malam yang sunyi.
Dan untuk pertama kalinya, gue sadar... gue nggak pernah bener-bener sendirian—sampai hari ini.
—
"Dindaaa... ayo bangun."
Suara itu lembut, tapi buat gue yang masih setengah mimpi, kedengerannya kayak bisikan malaikat maut. Gue menggeliat di balik selimut, ngerasain dingin subuh yang menusuk, dan berharap suara itu cuma halusinasi.
"Dinda... udah jam empat," suara itu lagi, kali ini diiringi tepukan pelan di lengan gue.
Gue merintih pelan. "Maisha... lima menit lagi..."
Tapi ternyata lima menit versi Maisha adalah lima detik. Karena tiba-tiba ada suara gaduh, suara pintu lemari dibuka keras, dan suara Karina yang ngegas, "WOY DIND! Bangun atau mau digotong rame-rame?!"
Ririn ikut-ikutan, "Kalau kamu telat, kita semua bisa dihukum lagi loh!"
Gue ngebuka mata setengah paksa, dan hal pertama yang gue lihat adalah jam dinding: 04:12. Duh. Masih ngantuk banget. Mata berat, kepala muter kayak habis dibanting.
Tapi karena digedor terus, akhirnya gue bangkit juga. Dengan rambut acak-acakan, muka lecek, dan jiwa yang belum balik dari alam mimpi, gue lari-lari kecil ke kamar mandi bareng yang udah ngantri panjang.
Dan... bencana berikutnya pun terjadi.
"Airnya mati dari tadi!" teriak Farah dari dalam.
"Pintu kamar mandi yang bisa ditutup cuma satu, ini juga nggak bisa dikunci!" sambung Mesya.
Alarm nggak ada yang bunyi. Rasa-rasanya semua konspirasi dunia bersatu buat bikin kita telat. Dan ya, betul. Ketika akhirnya kami lari terbirit-birit ke masjid kecil di tengah komplek pesantren—azan udah lewat. Jemaah udah mulai rakaat pertama.
Kami masuk dalam kondisi ngos-ngosan, dan di luar masjid... udah ada yang nunggu.
"Enak banget ya telat rame-rame?" suara dingin menyambut kami. Itu kak Fathia, senior yang terkenal galak dan nggak punya kata toleransi dalam kamus hidupnya.
"Mau alasan apalagi? Air mati, alarm ngadat, kamar mandi rusak? Udah basi! Mau nambahin? Tadi diganggu jin juga mungkin?" katanya sinis.
Kami semua tertunduk, walau Karina sempet melirik gue sambil nyengir kecil. Gue cuma bisa narik napas panjang, masih ngerasa separuh mimpi.
Tapi ternyata bukan cuma kami. Dari arah kanan, empat cowok muncul dengan gaya males-malesan. Mereka juga telat. Salah satunya langsung gue kenali—karena suaranya nggak asing dan muka nyolotnya pernah gue temuin hari pertama.
Algi.
"Oh... lo juga telat?" Ririn nyeletuk, lebih ke arah ngeledek.
"Ya iyalah, kita kan pasangan suara dinding," jawab Algi enteng, nyengir sok asik.
Ilham—temennya yang berbadan tinggi—nambahin, "Coba deh di kamar kalian jangan banyak drama pagi-pagi, mungkin kami bisa tidur tenang."
"Drama?" Karina melotot.
"Bahkan suara kalian ketawa semalem itu kayak alarm kereta api," kata si Furqon sambil ngulet, masih setengah ngantuk.
Gue berdiri kaku. Kepalang malu, soalnya baru sadar: cowok nyebelin yang gue kira tukang bersih-bersih di hari pertama... ternyata satu geng sama Algi. Mereka tuh santri senior juga. Dan... kamar mereka literally cuma disekat tipis sama kamar gue.
Sumpah, gue pengin nge-rewind semua kejadian hari itu.
Setelah drama telat berjamaah selesai, kami langsung diseret ke pelajaran pertama yang juga nggak kalah menguras tenaga: ngaji. Habis subuh sampe jam 7 pagi, kami duduk di ruang terbuka, ngaji satu-satu, ditanya hafalan, dan disuruh nyambung ayat yang belum tentu pernah gue denger seumur hidup.
Gue melotot sambil komat-kamit, ngantuk udah kayak ditonjok. Mata temen-temen gue juga nggak jauh beda: merah, berkaca, dan kosong.
"Tahan ya, Din. Biasanya kalo udah tiga hari, lo bakal jadi zombie," bisik Mesya sambil ngelirik gue.
"Gue udah jadi bayangan aja, bukan zombie," gue bales lesu.
Tapi penderitaan belum selesai.
Saat santri lain selesai ngaji dan melipir ke dapur buat sarapan... kami malah dipanggil ke lapangan kecil. Kak Fathia udah berdiri dengan sapu lidi di tangan.
"Selamat pagi untuk para penikmat kasur. Karena tadi telat, sekarang kebagian sapu. Halaman harus bersih sebelum jam tujuh tiga puluh. Nggak ada yang sarapan dulu."
"MAU MAKAN HATI AJA KAK," bisik Ririn ke gue.
Dan gue ketawa. Sambil megang gagang sapu dan berdiri di bawah matahari yang baru naik, sambil ngerasa... hidup gue udah bener-bener berubah.
Dari yang dulu bisa bangun siang, sarapan pancake, dan nongkrong di kafe... sekarang jadi bangun subuh, ngaji sampai mata jereng, dan nyapu halaman.
Tapi anehnya, di tengah rasa capek dan malu, gue merasa... ini semua bakal jadi cerita yang nggak akan gue lupain. Mungkin, dimarahin, diceng-in Algi, dan nyapu rame-rame adalah babak awal dari sesuatu yang lebih besar.
Entah apa. Tapi gue siap lihat kelanjutannya. Dengan mata 30 watt, hati setengah sadar, dan sapu lidi di tangan.