Pulang Yang Penuh Luka

4.3K 236 5
                                        

Pagi itu langit Jakarta mendung. Seolah ikut merasakan beratnya langkah kaki Dinda saat turun dari taksi online. Ia membawa satu totebag, isinya cuma tisu, air minum, dan satu sweater tipis yang dikasih sama Fara.

Fila sudah menunggu di depan gang rumah Sarah. Tatapan matanya penuh kegelisahan, tapi juga tekad. Di belakangnya, Fara sedang membantu Sarah duduk di teras, masih terlihat lemas dan linglung. Matanya kosong, bajunya kusut, dan tubuhnya menggigil meski udara tidak terlalu dingin.

"Dia udah dua hari begini," bisik Fara ke Dinda. "Kadang sadar, kadang enggak. Gue takut, Din."

Dinda mengangguk pelan. Rasanya seperti pecahan kaca memenuhi dadanya. Dulu, Sarah adalah teman paling ceria di antara mereka — yang paling cepat ketawa, paling jago dandan, paling jago cari promo diskon. Dan sekarang, dia hanya bayangan dari gadis itu. Semua karena satu hal: obat-obatan yang dikasih Gama.

"Gue udah kontak tempat rehabilitasi, Din," kata Fila. "Mereka siap terima hari ini. Tapi kita harus bawa dia sekarang."

Sarah mengangkat wajahnya perlahan, menatap mereka bertiga. "Kalian mau buang gue ya...?"

"Bukan, Sar. Justru ini cara kita nolong lo," kata Dinda sambil berlutut di hadapan Sarah. "Lo temen kita, dan kita sayang sama lo."

Sarah mulai menangis. "Gue takut... gue takut di sana sendirian."

Fila menghela napas, lalu duduk di sebelah Sarah dan melingkarkan tangannya. "Lo nggak sendirian. Kita bakal anterin lo sampe masuk. Kita nggak bakal ninggalin lo."

"Dan lo bisa sembuh," Fara menimpali. "Lo kuat, Sar. Kita percaya lo bisa."

Setelah bujukan yang panjang dan pelan-pelan membujuk, akhirnya Sarah bersedia bangun dan masuk mobil. Perjalanan ke tempat rehabilitasi di bilangan Bogor itu sepi. Tidak banyak yang bicara. Dinda memeluk tasnya, Fara menatap keluar jendela, dan Fila sibuk memastikan alamat.

Sesekali Sarah menoleh ke Dinda. "Lo masih mau temenan sama gue... setelah semua ini?"

Dinda tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca. "Gue udah maafin lo, Sar. Dari pertama kali tahu. Gue cuma marah lo milih diem... dan milih dia."

Sarah menunduk. "Gue nyesel... tapi udah kejadian..."

"Makanya lo harus sembuh, biar bisa minta maaf langsung... sama diri lo sendiri juga."

Setibanya di tempat rehab, tiga perempuan itu saling menggenggam tangan. Sarah terlihat takut lagi, tapi kali ini ia tidak melangkah mundur. Saat dua petugas menyambutnya dengan ramah, Sarah menoleh sekali lagi ke Dinda, Fila, dan Fara.

"Gue nggak mau jadi beban kalian lagi."

Fila menggeleng. "Lo nggak pernah jadi beban. Lo cuma lagi jatuh. Sekarang waktunya bangkit."

Sarah masuk ke dalam gedung putih itu. Pelan, tapi pasti. Dinda menatapnya sampai hilang dari pandangan. Lalu matanya terpejam, dan air matanya tumpah tanpa suara.

Fara menepuk punggungnya. "Thank you, Din... karena masih mau bantu dia."

Dinda mengangguk, meski suaranya tercekat. "Dia dulu temen yang selalu jagain gue... sekarang giliran gue jagain dia."








Mobil mereka belum terlalu jauh dari tempat rehab ketika HP Dinda bergetar. Notifikasi dari WhatsApp.

VANIA

"Din, lu di Jakarta kan sekarang? Gue harus cerita. Gama ilang. Gak ada kabar, dan semalem dia sempet ribut di club gara-gara utang."

Dinda membacanya pelan-pelan, lalu langsung ngebales:
DINDA

"Maksudnya ilang? Sama siapa?"

Balasan dari Vania datang cepat. Seperti dia benar-benar lagi butuh tempat cerita.

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang