Cowo Brengsek

4.7K 241 6
                                        

Pagi itu, Jakarta cerah.
Langit berawan tipis, angin lembut menyentuh dedaunan. Tapi hati Dinda tetap murung sejak mimpi buruk semalam. Ia masih terduduk di pojok tempat tidur, menatap HP dengan ragu. Notifikasi belum dibuka. Isi pikirannya penuh sesak oleh kenangan yang tak lagi layak dikenang.

"Harusnya udah kelar ya, Din..." batinnya.
Tapi kenapa masih sakit?

Dinda baru saja turun ke ruang makan saat suara klakson mobil terdengar dari luar pagar.

"Itu siapa?" tanya mamah Dinda dari dapur.

"Gak tahu..." jawab Dinda cepat, sambil berjalan ke arah pintu.

Dan di sanalah dia berdiri.
Gama.
Dengan hoodie hitam kesukaannya, rambut sedikit acak, dan senyum familiar yang dulu bisa meluluhkan segalanya.

"Hai, Din," katanya santai, seolah-olah baru bertemu kemarin.
"Gue lagi lewat, jadi... mampir aja. Hehe."

Dunia Dinda seolah membeku.

Sejenak dia diam. Jantungnya berpacu.

"Gamaaaa! Masuk, Nak!" suara Mamah dari belakang memecah kekakuan.

"Apa-apaan ini?"
"Kenapa mamah nyambut dia kayak biasa aja?!"
"Oh iya... mereka belum tahu apa-apa..."

Gama masuk, mencium tangan Mamah seperti biasa. Abang Dinda, Adnan, juga menyapanya dengan hangat.
"Lama gak ketemu, Ma. Masih enak banget ya aroma rumah ini..." katanya sambil duduk santai di ruang tamu, seolah tidak pernah menyakiti siapa pun.

Dinda berdiri canggung.
Tangannya gemetar menahan emosi.
Tapi wajahnya... dia tahan tetap datar.

"Duduk sini, Din," kata Mamah sambil tersenyum.
"Kasihan Gama jauh-jauh nyamperin kamu."

Dinda hanya mengangguk pelan. Ia duduk di ujung sofa, sejauh mungkin dari Gama.









🫖 Obrolan Basa-Basi

Gama ngobrol dengan Adnan dan Mamah seperti biasa.
Mereka tertawa. Bahas kuliah. Bahas masa kecil.
Mamah bahkan sempat bilang, "Kalian tuh cocok banget, dulu main bareng terus ya..."

Dinda hanya tersenyum simpul.
Palsu.

Di bawah meja, tangannya mencengkeram ujung baju. Dia hanya berharap ini semua cepat selesai.

"Cowok ini beneran punya urat malu apa nggak sih?"
"Seolah gak pernah selingkuh. Gak pernah ninggalin Sarah. Gak pernah ngerusak gue."

"Yaudah Gama kamu disini ngobrol dulu aja sama Dinda, tante mau ke supermarket dulu sama Adnan"

"Oh iya siap tan"






Dinda duduk di ujung sofa ruang tamu, tangan mengepal, mata masih menatap lurus ke depan.

Gama berdiri agak canggung di hadapannya, mencoba senyum kecil yang nggak dibalas sama sekali.

"Masih marah ya sama aku?" suara Gama terdengar ringan... terlalu ringan buat luka sebesar ini.

Dinda akhirnya menoleh.
Tatapannya tajam, tapi matanya berair.
Suara pelan, namun menusuk.

"Kamu pikir aku cuma marah?"

Gama menelan ludah, nggak bisa jawab.

Dinda berdiri.
"Aku sayang banget sama kamu, Ga. Dari awal. Dari sebelum aku masuk pesantren. Dari sebelum semua ini jadi serumit sekarang."

Suaranya mulai bergetar. Air mata jatuh satu-satu.

"Aku percaya sama kamu. Aku pikir... kamu juga sayang sama aku."

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang