Kami Lulus

3.6K 209 1
                                        

Langit pesantren pagi itu sedikit mendung, tapi udara terasa sejuk dan damai. Halaman pesantren yang biasanya ramai oleh santri yang hilir mudik, hari itu dipenuhi oleh degup jantung yang tak biasa: hari ini... pengumuman kelulusan.

Dinda berdiri bersama Ririn, Fara, Fila, Shafira, dan Meisya di depan papan pengumuman yang belum dibuka. Mereka semua diam, tapi mata mereka berbicara: tegang, harap-harap cemas, dan... penasaran.

"Gue deg-degan banget asli," gumam Meisya sambil mainin lengan bajunya sendiri.

"Lo doang? Nih jantung gue kayak balapan sama Valentino Rossi," balas Ririn, memegang dadanya dramatis.

Dari kejauhan, Algi dan teman-temannya—Rizky, Abi, Ilham, dan Furqon—juga sudah berdiri siap di barisan cowok. Furqon melempar tatapan geli ke arah Ririn yang keliatan panik sendiri.

"Lo nggak takut gak lulus, Rin?" goda Furqon.

"Lo takut gak gue lempar pake sendal?" jawab Ririn cepat.

"Udah udah! Fokus ke kelulusan dulu, bukan ke sendal," kata Fila menengahi.

Tak lama, suara Pak Ustad terdengar lewat speaker masjid:

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada seluruh santri kelas akhir, kami ucapkan selamat... karena kalian semua dinyatakan lulus! Alhamdulillah..."

Teriakan langsung pecah.

"AAAAAAAAA!"
"YESSSSS!!"
"LULUS GUYSSS!!!"

Dinda langsung memeluk Fila dan Fara. Meisya loncat-loncat sambil jerit histeris, dan Ririn... nangis sesenggukan sambil mukul bahu Furqon (yang ikutan senyum geli).

Algi berdiri mematung sebentar, lalu langsung lari ke arah Dinda, yang juga menoleh ke arah dia. Tapi sebelum mereka ketemu—Shafira udah nyamperin Dinda duluan dan meluk dia erat.

"DIN! KITA LULUS! UDAH LULUS, BEB!"
"Iya Fir, alhamdulillah ya..." jawab Dinda sambil ketawa terharu.

Algi cuma bisa ngelus dada. Tapi gak lama kemudian, Dinda nengok dan nyamperin dia.

"Selamat ya, Gi..."

"Lo juga. Kita beneran lulus..."
"Perjuangan 3 tahun gak sia-sia."
"Gue bangga sama lo, Din."

Mereka saling bertatapan, dan di antara ribuan ucapan selamat hari itu, pandangan mereka... terasa paling jujur.

Di sudut lapangan, Kak Abiy berdiri memandangi anak-anak yang bersorak gembira. Ia tersenyum melihat Dinda yang tertawa lagi. Mungkin bukan takdirnya... tapi melihat Dinda bahagia sudah lebih dari cukup.

Hari itu ditutup dengan doa bersama, sujud syukur, dan tawa tawa yang terasa lebih ringan. Hari itu, mereka bukan hanya lulus ujian... tapi juga melewati ujian kehidupan.





Setelah pengumuman kelulusan kemarin, hari ini suasana di pesantren terasa berbeda. Tak lagi tegang dan penuh tekanan. Yang tersisa hanya senyum lega, keharuan, dan... persiapan untuk perpisahan besok.

Lapangan pesantren mulai dihias dengan kain putih dan biru, para santri sibuk menempelkan pita, merapikan panggung kecil, hingga menyiapkan acara penampilan malam nanti. Musik latihan rebana terdengar samar dari aula. Tawa-tawa kecil menyelingi tiap sudut.

Di pojok taman kecil yang sejuk di antara dua bangunan kelas, Dinda sedang duduk sendiri menuliskan sesuatu di buku kecilnya.

"Masih suka nulis-nulis, ya?" suara yang ia kenal baik menyapanya dari belakang.

Dinda menoleh. "Kak Abiy..."

Kak Abiy duduk di sebelahnya. Mereka berdua diam sejenak, menikmati angin sore yang lembut menyentuh dedaunan.

"Selamat ya, Din. Kamu hebat. Kakak seneng banget kamu bisa lulus dengan baik," ucapnya pelan tapi tulus.

Dinda tersenyum. "Terima kasih Kak... kalau gak ada Kak Abiy mungkin aku gak akan sekuat sekarang."

Kak Abiy menatap langit, lalu kembali melihat Dinda.

"Kamu tahu gak? Dulu aku paling males kalau disuruh pulang ke Indonesia. Ayah selalu minta aku bantu di pesantren, tapi aku selalu punya alasan buat nolak," katanya, nada suaranya tenang.

"Kenapa?"

"Gak tau, rasanya... hidup di luar negeri lebih nyaman. Tapi setelah ngajar di sini... setelah kenal kamu, dan anak-anak lain... rasanya, Kakak jadi sadar, tempat ini bukan sekadar pesantren. Ini rumah."
Dia menatap Dinda. "Dan kamu salah satu alasannya."

Dinda menunduk. Wajahnya merah, entah karena senja... atau ucapan barusan.

"Aku cuma... santri biasa kok, Kak."

Kak Abiy tersenyum. "Tapi kehadiran kamu luar biasa. Kamu punya hati yang kuat, Din. Kamu bikin aku pengen jadi guru yang lebih baik."

Angin kembali berhembus. Daun-daun jatuh pelan di sekitar kaki mereka.

"Besok Kakak balik ke Jakarta. Habis itu mungkin kembali lagi ke luar negeri, entah berapa lama. Tapi Kakak cuma mau bilang... makasih, karena udah jadi cahaya kecil di hari-hari Kakak di sini."

Dinda tersenyum. "Aku juga makasih, Kak. Udah banyak bantu aku selama di sini..."

"Semangat terus ya. Gak usah khawatir soal masa depan. Kamu akan jadi perempuan hebat."

Mereka pun saling menatap, lalu Kak Abiy berdiri sambil mengacak lembut rambut Dinda.

"Sekarang, Kakak bantuin anak-anak buat dekorasi ya. Kamu juga ikut, yuk?"

"Iya, bentar. Aku beresin buku dulu."

Kak Abiy melangkah pergi, dan Dinda menatap punggungnya sampai hilang di balik bangunan.

Hari itu, ada haru yang tak diucapkan. Tapi terasa jelas di hati: kadang, beberapa perjumpaan bukan untuk selamanya, tapi untuk meninggalkan bekas manis di dalam ingatan.







---

Maaf ya lama, jan lupa vote jugaaa hehe

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang